MAMASA, Mekora.id – Sejumlah mahasiswa di Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, memanfaatkan kunjungan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka untuk menyampaikan persoalan pembangunan daerah. Mereka meminta perhatian pemerintah terhadap akses pendidikan tinggi, ketepatan data bantuan sosial, hingga minimnya fasilitas pengembangan potensi generasi muda.

Aspirasi tersebut disampaikan saat Gibran secara spontan menemui perwakilan organisasi mahasiswa yang telah menunggunya ketika hendak meninjau Pasar Tumpah Mamasa, Senin (2/11/2026).

Dalam dialog itu, mahasiswa menyampaikan sejumlah kebutuhan yang dinilai penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) dan membuka ruang pengembangan bagi generasi muda di Mamasa.

Salah satu aspirasi yang disampaikan adalah pendirian perguruan tinggi negeri di Kabupaten Mamasa. Mahasiswa menilai keberadaan kampus negeri dapat memperluas kesempatan masyarakat untuk mengakses pendidikan tinggi tanpa harus meninggalkan daerah.

“Kabupaten Mamasa ini masih tertinggal terkait SDM. Kami berharap bahwa ke depannya Kabupaten Mamasa ada kampus negeri di sini,” ujar salah seorang mahasiswa.

Selain pendidikan, mahasiswa juga menyoroti persoalan pendataan desil yang menjadi salah satu dasar penentuan penerima bantuan sosial. Mereka meminta pemerintah daerah dilibatkan lebih besar dalam proses pendataan dan pemutakhiran agar kondisi masyarakat setempat dapat tercatat secara akurat.

“Terkait desil, kami harap data pengelompokan desil ini dikembalikan ke daerah. Jangan dari pusat menurunkan desil,” ucapnya.

Menanggapi hal tersebut, Gibran mengakui masih terdapat persoalan ketidaktepatan pengelompokan desil yang berdampak pada perubahan status penerima bantuan sosial.

Ia mencontohkan masyarakat yang sebelumnya menerima bantuan, tetapi kemudian tidak lagi mendapatkannya akibat kesalahan data. Menurutnya, tersedia mekanisme masa sanggah untuk menyampaikan keberatan.

“Kemarin ada kasus, desilnya salah. Yang sebelumnya menerima bantuan, sekarang tidak menerima bantuan. Itu ada masa sanggah,” ungkap Gibran.

Pemuda Mamasa minta ruang berkarya

Persoalan lain yang disuarakan mahasiswa adalah minimnya fasilitas untuk mengembangkan minat, bakat, dan kreativitas generasi muda.

Mereka mengusulkan pembangunan rumah aspirasi pemuda serta gedung kebudayaan dan kesenian. Fasilitas tersebut dinilai penting karena Mamasa memiliki kekayaan budaya yang membutuhkan ruang untuk dilestarikan sekaligus diperkenalkan kepada generasi berikutnya.

“Kami juga berharap banyak bisa dibangun rumah aspirasi bagi pemuda di sini, untuk mengekspresikan soal minat dan bakat. Kami kekurangan bangunan di sini, gedung budaya kesenian dan sebagainya, karena Kabupaten Mamasa ini daerah budaya, tapi tidak ada ruang untuk menyampaikan itu bagi generasi muda,” urainya.

Mahasiswa juga mengusulkan pembangunan Balai Latihan Kerja (BLK). Keberadaan fasilitas tersebut diharapkan dapat meningkatkan keterampilan dan kesiapan tenaga kerja lokal dalam menghadapi kebutuhan dunia kerja.

Selain disampaikan secara langsung, sejumlah aspirasi lainnya turut diserahkan secara tertulis kepada Wapres untuk menjadi bahan perhatian pemerintah dalam mendorong pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Mamasa.