GMNI Mamuju Soroti Esensi Perayaan Hari Jadi Mamuju: Jangan Sekadar Seremonial
- account_circle mekora.id
- calendar_month Senin, 14 Jul 2025
- comment 7 komentar
- print Cetak

Ketua GMNI Mamuju, Adam Jauri. (Foto : Istimewa)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MAMUJU, Mekora.id – Perhelatan Hari Jadi Mamuju (HJM) ke-485 tahun yang digelar pada 14 Juli 2025 menjadi perhatian serius dari organisasi kemahasiswaan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Mamuju.
Ketua GMNI Mamuju, Adam Jauri, menilai perayaan HJM selama ini cenderung bersifat seremonial dan kurang mencerminkan nilai-nilai kebudayaan luhur yang menjadi akar sejarah Mamuju.
“Perayaan Hari Jadi Mamuju seharusnya menjadi bahan perenungan, bukan hanya kegiatan tahunan yang menghabiskan anggaran tanpa makna kebudayaan yang jelas,” tegas Adam.
Kritik Pemerintah Daerah dan Lembaga Adat
Adam menyoroti minimnya keterlibatan nyata pemerintah daerah dan lembaga adat dalam menjaga serta mengejawantahkan warisan budaya Mamuju secara konsisten. Ia menilai perlu ada kebijakan konkret yang mendukung pelestarian dan pengembangan kebudayaan, bukan hanya sebatas hiburan dalam seremoni tahunan.
“Kita butuh program nyata yang berakar dari budaya lokal. Pemerintah masih terlihat gagap dalam memahami makna Hari Jadi Mamuju,” tambahnya.
Makna HJM dan Hari Jadi Kabupaten Mamuju
GMNI Mamuju juga mengusulkan agar masyarakat dan pemerintah mulai membedakan antara Hari Jadi Mamuju sebagai wilayah adat/kerajaan, dan Hari Jadi Kabupaten Mamuju secara administratif.
Menurut Adam, HJM ke-485 lebih tepat dimaknai sebagai momentum kelahiran wilayah adat Mamuju yang kini terbagi menjadi tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Mamuju, Mamuju Tengah, dan Pasangkayu.
“Ini momen besar yang seharusnya diperingati oleh tiga kabupaten, bukan hanya Kabupaten Mamuju. Jika tidak dipisahkan, makna HJM akan kabur dan hanya dianggap sebagai perayaan ulang tahun kabupaten administratif,” jelasnya.
Dialog Kebudayaan dan Refleksi Bersama
Adam mendorong agar pemerintah, tokoh adat, akademisi, dan seluruh pemangku kepentingan duduk bersama dalam ruang dialog kebudayaan untuk mengevaluasi kembali esensi dan arah perayaan HJM.
“Sudah saatnya seluruh stakeholder duduk bersama, memetakan kembali makna HJM agar publik tidak bingung antara Hari Jadi Kerajaan Mamuju dan Hari Jadi Kabupaten Mamuju. Ini penting untuk membangun kesadaran sejarah dan persatuan lintas wilayah,” tuturnya.
Di akhir pernyataannya, Adam menegaskan bahwa peringatan Hari Jadi Mamuju sebagai wilayah adat tidak seharusnya eksklusif milik Kabupaten Mamuju saja, melainkan juga milik bersama warga Mamuju Tengah dan Pasangkayu yang memiliki akar sejarah yang sama.
“Kalau masih dikemas sebagai satu perayaan administratif, publik akan terus terbawa pada makna Hari Jadi Kabupaten, bukan wilayah adat. Padahal, HJM sebagai simbol sejarah harus menjadi pengingat rasa persatuan di antara kita,” pungkasnya.
- Penulis: mekora.id

Saluran Whatsapp
Google News
