MAMUJU, Mekora.id – Sulawesi Barat berduka atas wafatnya Annangguru KH Muhammad Syibli Sahabuddin, ulama sekaligus tokoh publik yang dikenal luas di Tanah Malaqbi. Almarhum mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Dr. Wahidin Sudirohusodo, Makassar, pada Minggu, (11/10/2026), pukul 21.45 WITA.
Kabar duka tersebut menyebar melalui pesan berantai dan media sosial. Sejumlah pesan belasungkawa turut beredar, disertai doa agar almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT.
“Innalillahi wainna ilaihi rajiun. Insya Allah husnul khatimah, Aamiin Yaa Rabbal Alamin,” demikian bunyi salah satu pesan duka yang diterima redaksi.
KH Muhammad Syibli Sahabuddin lahir di Polewali pada 20 Agustus 1968. Ia menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Modern IMMIM Makassar, MAN 1 Makassar, serta pendidikan Islam di Banyuwangi, Jawa Timur.
Ia kemudian melanjutkan studi ke International Islamic University Islamabad, Pakistan, sebelum menyelesaikan pendidikan sarjana hingga pascasarjana di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Gelar magister diraihnya pada 2002.
Pernah Pimpin Unasman dan Dua Periode Menjadi Senator
Di bidang akademik, Syibli pernah menjabat Direktur Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Al Asyariah Mandar pada 2004. Setahun kemudian, ia dipercaya menjadi rektor universitas tersebut dan menjabat hingga 2009.
Kariernya berlanjut ke tingkat nasional. Syibli terpilih sebagai anggota DPD RI dari daerah pemilihan Sulawesi Barat untuk dua periode, yakni 2009–2014 dan 2014–2019. Pada Pemilu 2014, ia meraih 51.581 suara.
Selama menjadi senator, ia bertugas di Komite III DPD RI. Kiprahnya di lembaga perwakilan tersebut menjadikannya salah satu tokoh asal Sulawesi Barat yang pernah membawa aspirasi daerah ke tingkat nasional.
Aktif di NU dan PKB
Syibli juga aktif dalam organisasi kemasyarakatan dan kepemudaan. Ia pernah menjadi Sekretaris Jenderal ASEAN Moslem Student Association (AMSA) di Islamabad, Pakistan, pada 1988–1989, pengurus PMII Cabang Ciputat pada 1990, serta pengurus Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor di Jakarta pada 1997.
Di Sulawesi Barat, ia pernah memimpin Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU). Pada 2017, Syibli terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Dewan Pengurus Wilayah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Sulawesi Barat.
Dalam kontestasi politik daerah, ia maju sebagai calon Bupati Polewali Mandar pada Pilkada 2024 dengan berpasangan bersama Zainal Abidin.
Dikenal sebagai Mursyid Tarekat Qodiriyah
Di luar kiprah akademik dan politik, Syibli dikenal sebagai mursyid tarekat Qodiriyah. Ia kerap menyampaikan pentingnya tasawuf dalam pembentukan akhlak, etika, dan kepedulian sosial.
Dalam sebuah diskusi publik di Warkop Ngalo, Kelurahan Karema, Mamuju, pada 30 Januari 2018, Syibli menjelaskan bahwa tasawuf dapat menjadi jalan untuk menyucikan jiwa, menjernihkan akhlak, dan membangun pribadi yang lebih baik.
Ia juga dikenal memiliki perhatian terhadap pengembangan pendidikan pesantren. Pada 2020, Syibli menghadiri peletakan batu pertama pembangunan Pondok Pesantren Isyaratul Mustafa di Kabupaten Majene.
Nama Syibli juga lekat dengan keluarga besar Annangguru Prof. Dr. KH Sahabuddin, ulama tasawuf yang dikenal sebagai pemimpin tarekat Qodiriyah di Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Dalam peringatan haul ke-10 KH Sahabuddin pada 8 Maret 2015, Syibli tampil sebagai pembicara mewakili keluarga.
Selain itu, ia tercatat sebagai penasihat The Sahabuddin Institute, lembaga yang bergerak di bidang studi budaya dan agama, serta kerap diundang sebagai pembicara dalam diskusi publik.
Hingga berita ini ditulis, redaksi belum memperoleh keterangan resmi dari pihak keluarga mengenai penyebab wafat maupun jadwal pemakaman almarhum. Informasi lebih lanjut akan diperbarui setelah ada konfirmasi.
Kepergian Syibli meninggalkan duka bagi keluarga, kerabat, serta masyarakat Sulawesi Barat yang mengenal kiprahnya di bidang keagamaan, pendidikan, dan politik.