MAMUJU, Mekora.id – Di antara jejak kejahatan dan denyut kehidupan masyarakat, terdapat dua pendekatan yang saling melengkapi: ilmu forensik yang mengungkap fakta medis dan sosiologi yang membaca akar persoalan sosial.
Perpaduan keduanya menjadi bagian dari perjalanan akademik Dokter Mauluddin, yang menempuh pendidikan sosiologi sebelum mendalami dunia kedokteran forensik.
Perjalanan tersebut terbilang unik. Ia memadukan latar belakang sosiologi dengan profesinya sebagai dokter forensik, sehingga menjadikannya sosiolog pertama yang juga berprofesi sebagai dokter forensik.
Bekal ilmu sosiologinya ia gunakan untuk membedah fenomena sosial secara mendalam. Sementara keahlian forensiknya digunakan untuk mengungkap fakta medis di lapangan melalui pendekatan *Scientific Crime Investigation* (SCI).
Pendekatan tersebut terlihat dalam kajiannya terhadap perbedaan pola kriminalitas di wilayah perkotaan dan pedesaan. Menurut Mauluddin, karakter lingkungan sosial turut memengaruhi bentuk serta pemicu kejahatan.
“Di perkotaan, pola kriminalitas cenderung didorong oleh tekanan ekonomi, gaya hidup konsumtif, dan anonimitas lingkungan. Sementara di pedesaan, konflik sering kali dipicu oleh masalah sengketa lahan, harga diri, dan relasi kekerabatan yang masih kental,” jelasnya.
Dalam menganalisis fenomena tersebut, Mauluddin merujuk pada teori sosiologi kriminalitas, termasuk konsep anomie yang dikembangkan dalam pemikiran sosiologi Emile Durkheim.
“Durkheim menjelaskan bahwa ketika norma sosial melemah dan masyarakat mengalami perubahan cepat, akan terjadi anomie atau kekosongan norma. Di kota, anomie muncul karena modernisasi dan kesenjangan. Di desa, anomie muncul ketika nilai-nilai lama berbenturan dengan kepentingan baru. Di situlah kejahatan tumbuh,” paparnya, Minggu, (20/9/2026).
Bagi Mauluddin, proses penyelidikan melalui SCI tidak semestinya berhenti pada olah tempat kejadian perkara (TKP), autopsi, dan pemeriksaan bukti laboratorium. Ia menilai, analisis terhadap latar belakang sosial juga diperlukan untuk memahami konteks terjadinya suatu tindak kriminal.
“Dengan memadukan Scientific Crime Investigation dan teori anomie, saya tidak hanya menjawab ‘bagaimana korban meninggal’, tapi juga ‘mengapa peristiwa itu bisa terjadi di masyarakat tersebut’,” tambahnya.
Menurutnya, perpaduan pendekatan sosiologi dan forensik dapat menjadi salah satu pijakan dalam mengembangkan kajian sosiologi forensik. Pendekatan ini tidak hanya berorientasi pada pengungkapan fakta setelah kejahatan terjadi, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk mendukung upaya pencegahan kejahatan dan edukasi masyarakat.
Melalui perspektif tersebut, fenomena kriminalitas di perkotaan maupun pedesaan dapat dipahami dengan mempertimbangkan faktor medis, perilaku, lingkungan, serta hubungan sosial yang melatarbelakanginya.
Pantun Sosiologi Forensik
Jalan ke kota membeli mikroskop,
Singgah di desa meneliti tanah.
Kalau sosiologi dan forensik bersinergi mantap,
Kejahatan terungkap, masyarakat pun amanah.