MAMUJU, Mekora.id – Upaya memperkuat penanganan Tuberkulosis (TBC) di Sulawesi Barat (Sulbar)terus dilakukan melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, kepolisian, dan rumah sakit.

Terbaru, Polda Sulbar dan Rumah Sakit (RS) Bhayangkara Mamuju menggandeng Program Studi Magister Manajemen Peminatan Pelayanan Rumah Sakit (MMRS) STIE AMKOP Makassar melalui sesi disksusi dan Root Cause Analysis kasus TBC, yang dilaksanakan di Aula Dokpol RS Bhayangkara Mamuju, Jumat (21/8/2026).

Kegiatan itu membahas optimalisasi peran Bhabinkamtibmas Polda Sulbar yang nantinya akan fokus di Desa-Desa untuk melaksanakan program  KETUK DOORS TBC.

Diskusi tersebut menjadi bagian dari dukungan terhadap program KETUK DOORS TBC (Temukan, Obati, dan Obati Sampai Sembuh) yang dijalankan Bhabinkamtibmas Polda Sulbar untuk memperkuat deteksi dini dan pendampingan pasien TBC di tengah masyarakat.

Sulbar Masuk 10 Besar Kasus TBC Nasional

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, Sulawesi Barat masih masuk dalam 10 besar provinsi dengan kasus TBC tertinggi di Indonesia.

Tingginya angka kasus, ditambah masih adanya kasus yang belum ditemukan, menjadi tantangan dalam upaya mencapai eliminasi TBC. Melalui program KETUK DOORS, Polda Sulbar mendorong penemuan kasus hingga tingkat desa dan kelurahan dengan melibatkan Bhabinkamtibmas.

Dalam kegiatan tersebut, sebanyak 25 mahasiswa S2 MMRS Angkatan 2025/2026 Kelas Khusus Rumah Sakit Bhayangkara Mamuju dilibatkan untuk mengkaji persoalan TBC dari sisi manajemen pelayanan rumah sakit.

Mahasiswa menganalisis alur rujukan pasien, faktor sosial ekonomi yang dapat menghambat kepatuhan pengobatan, hingga peluang kerja sama dengan Bhabinkamtibmas dalam penelusuran kontak pasien.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi pembelajaran lapangan bagi mahasiswa untuk menghubungkan teori manajemen rumah sakit dengan persoalan kesehatan yang dihadapi secara langsung di masyarakat.

Bahas TBC dari Berbagai Perspektif

Diskusi menghadirkan sejumlah narasumber dari STIE AMKOP dengan latar belakang keilmuan berbeda.

Dr. Hj. St. Hatidja, SE., M.Pd., CPAM, Wakil Ketua I Bidang Akademik sekaligus dosen Program Studi Kewirausahaan, membahas aspek manajemen mutu, efisiensi layanan, serta kewirausahaan sosial dalam penanganan TBC.

Sementara Dr. Supriadi, S.Pd., M.Hum., dosen Linguistik dan Komunikasi Kesehatan, mengulas strategi komunikasi untuk mengurangi stigma terhadap pasien TBC sekaligus meningkatkan kepatuhan dalam menjalani pengobatan.

Adapun Andi Firmansyah, S.H., M.H., dosen Ilmu Hukum sekaligus Direktur LKBH STIE-AMKOP, membahas aspek hukum kesehatan serta kebijakan daerah yang dapat mendukung penanggulangan TBC.

Dari Biddokkes Polda Sulbar, Kasubbid Kespol AKBP Dr. dr. Mauluddin M., S.Sos., MH., Sp.FM., memaparkan kondisi epidemiologi TBC dan peran Bhabinkamtibmas sebagai ujung tombak program KETUK DOORS di tingkat desa dan kelurahan.

Sedangkan dari RS Bhayangkara Mamuju, Kasubag Wasintern AKP Sujarwo, SE., menjelaskan alur pelayanan pasien TBC serta sejumlah tantangan yang dihadapi rumah sakit dalam penanganannya.

Dr. Supriadi menekankan pentingnya komunikasi yang sederhana dan tidak menimbulkan stigma dalam upaya menemukan dan mendampingi pasien TBC.

“Keberhasilan KETUK DOORS TBC sangat ditentukan oleh bahasa. Pesan harus sederhana, tidak menstigma, dan sampai ke masyarakat melalui Bhabinkamtibmas,” ujarnya.

Dr. Hatidja menambahkan, pengelolaan layanan TBC juga membutuhkan pendekatan manajemen yang efektif dan berkelanjutan.

“Manajer RS harus berpikir seperti wirausaha sosial. Layanan TBC harus efektif, efisien, dan berkelanjutan agar tidak membebani negara,” katanya.

Akan Bentuk Tim Satgas TBC Kampus-Polri-RS

Kolaborasi tersebut direncanakan berlanjut melalui sejumlah program bersama.

STIE AMKOP dan RS Bhayangkara Mamuju sepakat menyusun nota kesepahaman (MoU) terkait program magang mahasiswa S2 MMRS di Instalasi TBC. Sementara Biddokkes Polda Sulbar akan melibatkan mahasiswa MMRS dalam pelatihan kader KETUK DOORS bagi Bhabinkamtibmas.

Selain itu, direncanakan pembentukan Tim Satgas TBC Kampus-Polri-RS yang melibatkan dosen dan mahasiswa S2 MMRS untuk mendukung program KETUK DOORS Bhabinkamtibmas di enam kabupaten di Sulawesi Barat.

AKBP Dr. dr. Mauluddin mengapresiasi kolaborasi tersebut. Menurutnya, keterlibatan perguruan tinggi dapat memperkuat penanganan TBC berbasis data, sementara jaringan Bhabinkamtibmas memungkinkan penemuan kasus dilakukan lebih dekat dengan masyarakat.

“Dengan data dari kampus dan jaringan Bhabinkamtibmas di lapangan, penemuan kasus TBC di Sulbar bisa lebih cepat. Lulusan MMRS kami harapkan jadi manajer yang bisa menjembatani rumah sakit dan masyarakat,” ujarnya.

AKP Sujarwo berharap hasil diskusi dapat menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat SOP pelayanan TBC di RS Bhayangkara Mamuju sekaligus menjadi model kerja sama antara rumah sakit dan kepolisian.

Kolaborasi kampus, Polri, rumah sakit, dan masyarakat tersebut diharapkan dapat memperkuat upaya penemuan kasus, pengobatan, serta pendampingan pasien TBC di Sulawesi Barat menuju target eliminasi TBC 2030.