MAMUJU, Mekora.id – Ancaman kemarau panjang mulai berdampak serius di Sulawesi Barat. Pemantauan terbaru mencatat sekitar 3.045 titik panas (hotspot) tersebar di sejumlah wilayah Sulbar. Termasuk dua masih menyalah di Kabupaten Mamasa.
Selain titik panas, sedikitnya 155 insiden kebakaran telah terjadi selama musim kering di Sulbar, baik yang melanda kawasan hutan maupun permukiman warga.
Menyikapi kondisi tersebut, Gubernur Sulbar Suhardi Duka bersama pemerintah di enam kabupaten membangun posko penanganan di sejumlah wilayah rawan kebakaran. Langkah ini dilakukan untuk mempercepat penanganan dan pemadaman apabila terjadi kebakaran.
Namun, Suhardi Duka menilai upaya pemerintah tidak akan maksimal tanpa keterlibatan masyarakat. Ia meminta warga ikut mencegah terjadinya kebakaran, terutama dengan tidak menggunakan api saat membersihkan maupun membuka lahan.
Gubernur secara khusus mengingatkan para petani dan pekebun agar tidak melakukan pembakaran lahan dengan alasan apa pun.
Menurutnya, pembakaran lahan dapat menimbulkan kebakaran yang sulit dikendalikan dan pelakunya dapat diproses secara hukum sesuai ketentuan perundang-undangan.
“Olehnya itu, saya berharap supaya kita mencegah, jangan melakukan pembakaran dalam bentuk alasan apa pun. Tentunya kita berharap Sulawesi Barat ini bisa terhindar dari kebakaran yang semakin meluas,” tegas Suhardi Duka.
Ia juga berharap masyarakat bersama pemerintah menjaga wilayah Sulbar agar terhindar dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) maupun kebakaran permukiman.
“Saya kira itu imbauan saya. Semoga ini menjadi perhatian kita dan kita doakan semoga hujan segera turun, kemarau berkepanjangan ini bisa berhenti, dan kita Sulawesi Barat selamat dari karhutla dan kebakaran permukiman,” pungkasnya.