MAMUJU, Mekora.id – Sulawesi Barat mulai menghadapi ancaman serius kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di tengah kondisi kemarau. Pemantauan terbaru mencatat 3.045 titik panas (hotspot) tersebar di sejumlah wilayah Sulbar.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 155 titik telah mengalami kebakaran dan berhasil ditangani. Namun, dua titik masih terbakar di Kabupaten Mamasa.
Kondisi tersebut membuat Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulbar menyoroti praktik pembukaan lahan dengan cara membakar. Gubernur Sulbar Suhardi Duka meminta masyarakat, khususnya petani dan pekebun, tidak melakukan pembakaran yang berpotensi memicu kebakaran lebih luas.
Hal itu disampaikan Suhardi Duka dalam rapat koordinasi di Posko Karhutla Sulbar, Kamis (27/8/2026).
Menurut Suhardi Duka, penanganan terhadap warga yang melakukan pembakaran lahan akan melihat dampak yang ditimbulkan. Jika pembakaran hanya dilakukan di lahan sendiri dan tidak berdampak terhadap lingkungan sekitar, pemerintah akan mengedepankan pendekatan persuasif.
Namun, jika pembakaran tersebut menyebabkan kebakaran hutan atau merembet ke lahan milik masyarakat lainnya, penegakan hukum akan dilakukan.
“Kalau masyarakat yang membakar kebunnya sendiri dan tidak berdampak ke orang lain, itu soft. Tapi kalau masyarakat yang membakar kebunnya sendiri, yang mengakibatkan kebakaran hutan, kebakaran kebun orang lain, itu penegakan hukum,” tegas Suhardi Duka.
Ia mengatakan Kapolda Sulbar dan Kepala Kejaksaan Tinggi (Kajati) Sulbar siap berkoordinasi dalam upaya penegakan hukum terkait Karhutla.
Posko Karhutla Dipimpin Sekda
Untuk memperkuat koordinasi penanganan Karhutla, Suhardi Duka meminta seluruh posko di tingkat kabupaten dipimpin oleh Sekretaris Daerah (Sekda), bukan lagi kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
“Kepala BPBD tetap menjadi bagian dari penanganan, tetapi semua posko dipimpin Sekda. Di provinsi juga posko dipimpin Sekda,” katanya.
Menurutnya, penguatan koordinasi lintas sektor diperlukan untuk mempercepat pemadaman, mencegah kebakaran meluas, serta mengurangi dampak kekeringan terhadap masyarakat dan sektor pertanian.
Ia pun berharap seluruh pihak dapat bersama-sama mencegah meluasnya Karhutla di Sulawesi Barat.
“Semoga Karhutla di Sulbar ini bisa diatasi,” tutur Suhardi Duka.