TOPOYO, Mekora.id – Suasana di sekitar Sungai Budong-Budong, Desa Tabolang, Kecamatan Topoyo, Kabupaten Mamuju Tengah, Sulawesi Barat, mendadak heboh setelah seorang anak berusia 10 tahun diterkam buaya, Senin (24/8/2026) sore.
Korban bernama Mohammad Rifki, siswa kelas V Sekolah Dasar (SD), dilaporkan ditarik seekor buaya saat berada di pinggir sungai. Hingga Selasa (25/8/2026) dini hari, korban belum ditemukan dan masih dalam pencarian.
Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 16.00 WITA. Saat itu, Rifki ikut bersama nenek dan tantenya ke sungai untuk mencuci pakaian. Aktivitas tersebut disebut sudah menjadi kebiasaan warga setempat, terutama saat musim kemarau.
Rifki kemudian mandi di tepi sungai. Ia duduk di atas sebuah batu sambil menggoyangkan kakinya hingga menyentuh permukaan air.
Tanpa diduga, seekor buaya tiba-tiba muncul dan menarik tubuh korban ke dalam sungai. Buaya tersebut kemudian menyeret Rifki ke arah bagian tengah sungai hingga korban tidak lagi terlihat.
“Kejadiannya sekitar jam 4 sore saat temani tantenya cuci baju di sungai karena musim kemarau,” kata Dirham, paman korban.
Dirham mengatakan, korban saat itu hanya ikut mandi sementara nenek dan tantenya mencuci pakaian di sungai.
“Ia cuma mandi mengikuti nenek dan tantenya dan yang lainnya mencuci pakaian, tiba-tiba dia ditarik (buaya),” ujarnya.
Peristiwa itu sontak mengundang perhatian warga. Mereka berdatangan ke lokasi dan langsung melakukan pencarian dengan menyisir aliran Sungai Topoyo hingga malam hari.
Sejumlah video amatir yang beredar juga memperlihatkan seekor buaya sempat muncul ke permukaan sambil membawa tubuh korban.
Pencarian kemudian berlanjut hingga Selasa dini hari. Sekitar pukul 00.00 WITA, warga bersama tim gabungan berhasil menangkap seekor buaya berukuran besar setelah mendatangkan pawang buaya dari Babana.
Namun, penangkapan buaya tersebut belum menemukan keberadaan Rifki.
Hingga berita ini diterbitkan, korban masih dalam pencarian. Warga bersama TNI-Polri, BPBD dan unsur terkait lainnya terus menyisir sejumlah titik di sepanjang aliran Sungai Topoyo untuk menemukan korban.