MAMASA, Mekora.id – Setelah hampir tiga dekade menapaki jalan politik bersama Partai Golkar, H. Sudirman akhirnya menyatakan diri keluar dari partai yang telah menjadi bagian penting dalam perjalanan politiknya.
Keputusan itu muncul di tengah dinamika perebutan kursi Ketua DPD II Golkar Kabupaten Mamasa, setelah rekomendasi untuk melanjutkan kepemimpinannya tidak kunjung diterbitkan oleh DPP.
Alih-alih kembali memimpin partai yang pernah dikawalnya selama dua periode, rekomendasi tersebut justru diberikan kepada Welem Sambolangi. Bagi Sudirman, keputusan itu bukan sekadar pergantian figur dalam struktur organisasi, melainkan menyentuh persoalan penghargaan terhadap perjalanan panjang, loyalitas, dan kontribusinya membesarkan Golkar di Mamasa.
Pernyataan itu disampaikan Sudirman saat menjawab pertanyaan Mekora.id, Sabtu (19/9/2026) malam. Ia mengaku telah menyatakan keluar dari Golkar secara lisan sejak 13 September 2026, meskipun surat pengunduran dirinya masih tertahan.
“Sebenarnya dari 17 DPK tidak ingin saya keluar, sehingga surat yang saya layangkan masih tertahan. Tapi secara lisan saya sudah keluar menyatakan diri sejak lima hari yang lalu (13 September 2026),” ujar Sudirman.
Keputusan tersebut sekaligus membuatnya tidak menghadiri Musyawarah Daerah (Musda) Golkar Mamasa yang digelar dan telah menetapkan Welem Sambolangi sebagai Ketua DPD II Golkar Kabupaten Mamasa.
“Makanya Musda ini saya tidak hadiri, buat apa lagi karena saya merasa bukan lagi bagian dari Partai Golkar,” katanya.
Pengabdian Panjang dan Rekomendasi yang Tak Terbit
Sudirman bukanlah nama baru dalam sejarah Golkar di Mamasa. Ia mengaku telah membangun partai tersebut sejak 1997, dimulai dari tingkat kecamatan ketika wilayah itu masih dikenal sebagai Polmas, hingga ikut membentuk dan mengembangkan struktur Golkar di Kabupaten Mamasa.
Selama sekitar dua dekade, ia juga menyebut dirinya telah menjadi perwakilan Golkar di DPRD Provinsi Sulawesi Barat selama empat periode. Pengalaman panjang itu menjadi dasar bagi Sudirman untuk berharap adanya ruang bagi dirinya melanjutkan kepemimpinan di DPD II Golkar Mamasa.
Namun, harapan tersebut terbentur pada rekomendasi DPP. Sudirman menjelaskan, seorang ketua DPD II yang telah menjabat selama dua periode masih dapat mencalonkan diri untuk periode ketiga, dengan syarat memperoleh rekomendasi atau dekret dari DPP.
Ia mengaku telah mengajukan permohonan kepada pengurus pusat, tetapi rekomendasi tersebut tidak diberikan kepadanya dan justru diterbitkan untuk kandidat lain.
“Golkar itu bagus, hanya mungkin komunikasi. Seharusnya kan kalau dari prestasi kita sudah mengangkat Golkar di Mamasa. Bahkan kita menangkan, seharusnya ada penghargaan dari DPP untuk mengeluarkan dekret (pencalonan kembali jadi Ketua DPD Golkar Mamasa), tapi tidak terjadi. Perjuangan kita sia-sia, dianggap tidak ada apa-apanya,” tutur Sudirman.
Kekecewaan itu kemudian bermuara pada satu pertanyaan yang lebih mendasar: bagaimana seorang kader memaknai loyalitas ketika kontribusi politik yang telah dibangun selama bertahun-tahun tidak lagi menjadi pertimbangan dalam menentukan arah kepemimpinan partai.
“Sehingga memang kalau selama ini kerja kita tidak dihargai, buat apa kita selalu di dalam,” tegasnya.
Golkar Menang, tetapi Sudirman Merasa Tak Lagi Dipertimbangkan
Sudirman juga mengaitkan kekecewaannya dengan capaian politik Golkar pada Pilkada Mamasa 2024. Dalam kontestasi tersebut, pasangan Welem Sambolangi dan Sudirman berhasil memenangkan pemilihan dan menduduki posisi Bupati dan Wakil Bupati Mamasa.
Bagi Sudirman, kemenangan itu menjadi bagian dari catatan perjuangan politik yang semestinya turut diperhitungkan dalam proses pengambilan keputusan internal partai.
“Kita sudah menangkan Golkar di Mamasa lagi (Pilkada 2024). Tapi kalau kita tidak dianggap lagi sebagai pekerja, ya sudahlah,” ucapnya.
Pernyataan itu memperlihatkan adanya ketegangan antara pengalaman dan kontribusi kader di tingkat daerah dengan keputusan struktural yang berada di tangan pengurus pusat. Kendati demikian, alasan serta proses penerbitan rekomendasi tersebut masih perlu dikonfirmasi kepada pihak DPP Partai Golkar untuk memperoleh penjelasan dari perspektif partai.
Menimbang Warna Politik Baru
Keluar dari Golkar tidak serta-merta membuat Sudirman menutup perjalanan politiknya. Ia menegaskan akan tetap mengabdi melalui jalur politik, sembari mempertimbangkan kemungkinan bergabung dengan partai lain.
Sejumlah partai politik, menurut pengakuannya, telah menghubunginya. Namun, hingga kini ia belum mengambil keputusan mengenai arah politik berikutnya.
“Selain daripada ingin mencari warna lain, sekaligus mencari suasana baru. Sudah ada beberapa partai besar menelepon, tapi belum ada sikap. Ada Gerindra, PAN, Demokrat, PDIP, tapi belum ada sikap,” ungkapnya.
Keinginan mencari warna baru itu tidak hanya berkaitan dengan pilihan kendaraan politik, tetapi juga dengan suasana dan ruang pengabdian setelah dirinya menghabiskan sebagian besar perjalanan politik di Partai Golkar.
“Tentu kita ingin mencari warna lain, karena sejak berpartai baru di Golkar saja,” katanya.
Kini, setelah hampir 30 tahun berada dalam satu rumah politik, Sudirman berada di persimpangan baru. Golkar telah menjadi tempat ia membangun karier, mengukir pengalaman elektoral, dan menjalankan pengabdian politik. Namun, keputusan rekomendasi dalam Musda Mamasa mengantarkannya pada pilihan untuk meninggalkan partai tersebut.
Langkah selanjutnya masih terbuka. Apakah Sudirman akan berlabuh pada salah satu partai yang telah menghubunginya atau memilih jalur politik lain, semuanya belum diputuskan. Yang telah dinyatakan dengan jelas ialah keputusannya mengakhiri keanggotaan di Golkar dan melanjutkan perjalanan politik di luar partai yang telah membesarkan namanya.