MAMUJU, Mekora.id – Sebanyak 600 penonton memadati tiga studio CineMaxx Mall Matos Mamuju saat nonton bareng film AUTOPSY: Dead Body Can Talk, Kamis (10/9/2026) malam.
Kegiatan tersebut tidak hanya menghadirkan film edukasi tentang dunia forensik, tetapi juga menjadi momentum penayangan perdana video layanan masyarakat KETUK DOORS TBC di layar bioskop.
Kegiatan itu turut disaksikan langsung Kapolda Sulawesi Barat Irjen Pol Adi Deriyan Jayamarta bersama jajaran Pejabat Utama Polda Sulbar.
Penayangan video berdurasi sekitar tiga menit tersebut dilakukan sebelum film utama dimulai. Materi itu berisi edukasi mengenai deteksi dini tuberkulosis (TBC) melalui program KETUK DOORS yang melibatkan Bhabinkamtibmas.
Video tersebut merupakan karya AKBP dr. Mauluddin M, S.Sos., SH., M.Biomed., Sp.FM., dokter forensik Polda Sulbar.
KETUK DOORS TBC Tayang di Layar Lebar
Kabiddokkes Polda Sulbar AKBP dr. Elvis Jeferson, Sp.B., M.Adm.Kes., mengatakan penayangan materi KETUK DOORS TBC melalui bioskop merupakan salah satu cara untuk memperluas jangkauan edukasi kesehatan kepada masyarakat.
“Ini bukan sekadar nobar. Ini adalah strategi komunikasi kesehatan publik yang baru,” kata Elvis.
Menurutnya, Bhabinkamtibmas selama ini menjadi salah satu ujung tombak dalam pelaksanaan program KETUK DOORS dengan mendatangi masyarakat dari pintu ke pintu.
Melalui penayangan di bioskop, pesan mengenai pencegahan dan deteksi dini TBC dapat disampaikan kepada ratusan orang sekaligus.
Kegiatan tersebut ditandai dengan munculnya logo Polri dan pesan “KETUK DOORS: Cegah TBC dari Rumah Anda” di tiga layar bioskop.
Dirbinmas Polda Sulbar Kombes Pol Prasetya Sejati mengatakan peran Bhabinkamtibmas tidak hanya berkaitan dengan keamanan dan ketertiban masyarakat.
“Bhabinkamtibmas adalah ujung tombak Polri di masyarakat. Melalui program KETUK DOORS, mereka tidak hanya menjaga keamanan, tetapi juga menjadi agen kesehatan yang mengedukasi warga langsung dari pintu ke pintu,” ujarnya.
Brigjen Sumy Hastry Hadir
Selain penayangan iklan layanan masyarakat, kehadiran Brigjen Pol Dr. dr. Sumy Hastry Purwanti, Sp.F., DFM., menjadi salah satu perhatian dalam kegiatan tersebut.
Tokoh utama dalam film AUTOPSY: Dead Body Can Talk itu hadir bersama sejumlah tenaga ahli forensik.
Turut hadir Iptu dr. Andi Iqbal Iskandar, MH., MARS., Sp.FM., Ketua Perhimpunan Dokter Forensik dan Medikolegal Cabang Sulselbar.
Dalam sambutannya, Sumy mengatakan film tersebut tidak semata-mata bercerita tentang kematian, tetapi juga menunjukkan bagaimana ilmu forensik dapat berperan dalam mengungkap fakta dan mendukung proses keadilan.
“Film AUTOPSY bukan tentang kematian. Ini tentang bagaimana ilmu forensik bisa bicara untuk keadilan bagi yang sudah tiada, dan menyelamatkan yang masih hidup,” ujar Sumy.
Ia mengaku senang dapat bertemu dengan kalangan akademisi, tenaga kesehatan, mahasiswa, sejawat serta Bhabinkamtibmas dalam kegiatan tersebut.
Sementara itu, Kapolda Sulbar Irjen Pol Adi Deriyan Jayamarta menilai film tersebut memberikan pesan mengenai profesionalisme anggota Polri, khususnya polisi wanita.
“Film ini memberikan pelajaran penting, khususnya bagi anggota Polri Polwan. Bagaimana seorang anggota Polri perempuan dapat menjalankan tugas negara dengan profesional, di saat yang sama tetap berperan sebagai istri dan ibu di tengah keluarga,” kata Adi.
Terkait penanganan TBC, Adi mengatakan Polda Sulbar akan terus mendukung berbagai pihak, termasuk Dinas Kesehatan dan Kementerian Kesehatan, dalam upaya mencapai target eliminasi TBC di Sulawesi Barat.
Libatkan Ratusan Mahasiswa dan Tenaga Kesehatan
Nonton bareng tersebut diikuti sekitar 600 orang dari berbagai unsur.
Sekitar 250 orang merupakan mahasiswa Poltekkes Kemenkes Mamuju dari jurusan keperawatan, kebidanan, gizi dan kesehatan lingkungan.
Selain itu, sekitar 150 tenaga kesehatan pendukung penanganan TBC Kabupaten Mamuju turut hadir.
Kegiatan juga diikuti sekitar 100 pegawai organik dan kontrak RS Bhayangkara Mamuju, sekitar 60 personel Polda Sulbar termasuk PJU dan Bhabinkamtibmas, serta sekitar 40 personel Dokpol Biddokkes Polda Sulbar.
Jumlah tersebut disebut melampaui kapasitas 591 kursi yang tersedia di tiga studio yang digunakan.
Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana Provinsi Sulawesi Barat, dr. Nursyamsi Rahim, mengapresiasi kolaborasi antara Polri, tenaga kesehatan, akademisi dan masyarakat tersebut.
“Sinergi antara Polri, tenaga kesehatan, dan masyarakat ini adalah model kolaborasi yang kita butuhkan untuk menekan angka TBC,” katanya.
Menurut Nursyamsi, penanganan TBC membutuhkan upaya bersama mulai dari edukasi pencegahan, deteksi dini hingga pengobatan.
CineMaxx Sebut Rekor Baru
Manajemen CineMaxx Matos Mamuju menyebut kegiatan tersebut menjadi salah satu capaian baru sejak bioskop tersebut beroperasi.
Manager CineMaxx Matos Mamuju, Baim, mengatakan tiga studio digunakan untuk satu judul film dengan jumlah penonton mencapai sekitar 600 orang.
“Ini rekor baru kami. Tiga studio penuh untuk satu judul. Ini pertama kali kami menayangkan materi sosialisasi dari Polri,” ujarnya.
Film AUTOPSY: Dead Body Can Talk sendiri mengangkat kisah perjalanan karier Brigjen Sumy Hastry di dunia forensik. Film tersebut memadukan drama, edukasi medis forensik dan penegakan hukum.
Dukungan terhadap kegiatan tersebut juga disampaikan Kepala Stasiun TVRI Sulawesi Barat Mahyar Jamal. Ia menilai pemanfaatan media hiburan sebagai sarana edukasi dapat menjadi alternatif untuk menyampaikan pesan kesehatan kepada masyarakat.
Ke depan, Biddokkes Polda Sulbar berencana mengembangkan model komunikasi serupa untuk berbagai isu kesehatan masyarakat, termasuk stunting, kesehatan reproduksi dan gaya hidup sehat.
