Penulis : Moch. Ferdi Al Qadri (Aktivis Interaksi Bookstore Mamuju)

Ketika menonton pertarungan pendekar Stark dan iblis Linie dalam Frieren: Beyond Journey’s End, mungkinkah kita akan ingat Soekarno? Agaknya sulit. Stark melakukan perjalanan dengan penyihir legendaris. Sedangkan Soekarno, setidaknya bagi rakyat Indonesia, adalah legenda itu sendiri.
Sebagai sosok berpengaruh besar dalam sejarah pergerakan perlawanan hingga perebutan kemerdekaan Indonesia, Soekarno bukan tanpa cacat. Soekarno sadar akan kedudukannya di mata rakyat, dan dia mampu mendayagunakan suaranya, baik di atas podium maupun di lembaran surat kabar, demi mendulang dukungan rakyat menghadapi kolonial Belanda.
Besar hasrat Soekarno untuk menang melawan penjajahan. Setelah republik meraih kemenangannya yang nyata, Soekarno tetap ingin menang. Kali ini dalam hal apa pun. Ia lalu mulai percaya kalau memang dirinyalah orang nomor satu di republik ini.
Gelar pemimpin besar revolusi adalah milik Soekarno, bukan Tan Malaka. Pancasila lahir karena Soekarno yang membidaninya, bukan Sjahrir. Yang paling berhak digelari Paduka Jang Mulia pasti Soekarno, bukan Agus Salim. Dan, tentu saja, presiden pertama republik Indonesia adalah Soekarno, bukan Hatta.
Soekarno tak ingin punya saingan yang setara. Dalam buku Percaturan Islam dan Politik: Teori Belah Bambu Masa Demokrasi Terpimpin (1959-1965) (2021), Ahmad Syafii Ma’arif menulis hasil wawancaranya dengan M. Natsir pada 12 Maret 1978: “Selama ibu kota di Yogya, hampir seluruh pidato Soekarno untuk 17 Agustus diserahkan kepada saya untuk menyusunnya. Bila, misalnya, saya jauh dari ibu kota dalam perjalanan inspeksi, ia akan memanggil saya untuk menyusun pidatonya itu.”
Soekarno pernah sangat dekat dengan ketua umum Masyumi itu. Peran Natsir menyatukan kembali republik pada 1950 membuatnya makin disukai Soekarno. Natsir kemudian ditunjuk sebagai perdana menteri dari negara kesatuan, sekalipun PNI, partai yang didirikan Soekarno, pada saat bersamaan, tidak dapat bagian dalam kabinet.
Namun, hangat persaudaraan itu seketika saja menjadi bara api. Hubungan keduanya kandas. Sebabnya tidak lain dan tidak bukan adalah arogansi Soekarno sendiri.
Suatu kali, Soekarno mengucapkan sesuatu yang melampaui kewenangannya sebagai kepala negara kepada dunia. Maka, dipanggillah Soekarno dalam sidang kabinet, yang dipimpin Natsir selaku kepala pemerintahan, untuk menjelaskan pernyataannya itu.
Soekarno dan Natsir bergantian menyodorkan pandangan mengenai hal tersebut. Keduanya berbeda dan berkebalikan.
Pemungutan suara dilakukan. Hasilnya, dari 17 menteri anggota kabinet yang hadir, hanya lima orang yang mendukung pandangan Soekarno. “Sejak peristiwa itu, hubungan saya dengan Soekarno menjadi memburuk dan tidak pernah pulih kembali,” kata Natsir.
Komentar Ahmad Syafii Ma’arif selanjutnya memberi penegasan mengenai sikap Soekarno ini: “Bagi Soekarno, merupakan sesuatu yang tak tertahankan bila ia dikalahkan dalam pungutan suara, yang seharusnya sangat lumrah dalam budaya demokrasi. Namun, temperamen Soekarno sebagai figur puncak pada waktu itu tidak dapat menerima kekalahan suara seperti yang terjadi dalam sidang kabinet itu.”
Soekarno memang presiden, tapi Natsir yang menentukan arah kebijakan dan mengatur jalannya pemerintahan. Lama-kelamaan, Soekarno tidak suka bila kekuasaannya dibatas-batasi.
Revolusi bagi Soekarno adalah perwujudan dari cita-cita dan ide-idenya. Bahkan, mungkin, dalam benaknya, revolusi adalah dirinya sendiri. Konsekuensinya, berbeda pendapat dengan Soekarno sama dengan menentang revolusi. Siapa berani menghalangi-halangi revolusi bakal diberi ganjaran: penjara.
Kita belum selesai dengan Soekarno. Di halaman 113, Ahmad Syafii Ma’arif menukil Onghokham: “Dia mondar-mandir melakukan perjalanan ke luar negeri, berpesta-pora. Dan Soekarno bergerak terus. Segalanya diperbuat untuk menunjukkan bahwa dia belum mendekati akhir hayatnya dan masih sehat, penuh kesegaran hidup dan semangat. Lebih muda dari para pemuda.” Soekarno ingin memimpin revolusi sampai seribu tahun lagi.
Semua jenis kekuasaan sudah dalam genggamannya. Demokrasi Terpimpin memberinya restu untuk mengurusi eksekutif, legislatif, hingga yudikatif. Onghokham lalu menduga kalau sebenarnya Soekarno tidak benar-benar bahagia dengan semua kekuasaan itu. Kenapa? Karena dia menua. Soekarno risau bila sewaktu-waktu orang-orang akan menganggapnya tidak mampu lagi. Soekarno tak sudi bila rakyat mencari pengganti dirinya.
Meski sudah membaca ribuan buku, yang pasti banyak di antaranya adalah biografi pemimpin dunia, dia masih gagal untuk mengambil pelajaran dari sejarah. Setidaknya begitu yang dikatakan Mohamad Roem. Sebab, bukannya menginsafi hakikat hidup manusia, yakni berjalan menuju kematian, ia justru menolaknya. Soekarno salah mengartikan keabadian.
Itulah kenapa, seandainya anime sudah ada di zaman Soekarno, mungkin ia sebaiknya mengikuti perjalanan Frieren, pekan demi pekan. Sebab, dari situ dia akan berkenalan dengan dwarf bernama Eisen, petarung terkuat di masanya. Setelah mengalahkan raja iblis, Eisen pulang ke kampungnya sebagai rakyat biasa. Setelahnya, Eisen mengangkat bocah bernama Stark sebagai murid.
Eisen sadar diri sebagai yang terbaik. Dia dan tim petualangnyalah yang mengalahkan raja iblis. Tetapi, dia lebih ingin membuat orang lain—generasi muda—lebih baik, lebih kuat, untuk menggantikan dirinya suatu hari nanti.
Maka, ketika Eisen mendapati Stark telah melampaui dirinya, ia tidak marah dan membenci muridnya sendiri. Eisen bahagia; kebahagiaan yang tidak akan mungkin digapai Soekarno. Tidak akan pernah.