JAKARTA, Mekora.id – Sejumlah organisasi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi membantah keterlibatan mereka dalam aliansi BEM Bersatu yang belakangan menjadi sorotan setelah melontarkan tudingan adanya jaringan politik di balik gerakan mahasiswa yang digagas mantan Ketua BEM Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto.
Bantahan tersebut muncul setelah BEM Bersatu memperkenalkan sejumlah nama yang diklaim sebagai perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari berbagai kampus. Namun, beberapa organisasi mahasiswa menyatakan tidak pernah mengirimkan delegasi maupun memberikan mandat kepada pihak yang mengatasnamakan kampus mereka.
Salah satu bantahan datang dari BEM Fakultas Teknik dan Informatika Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI). Melalui pernyataan resmi di media sosial, organisasi tersebut menegaskan tidak pernah menghadiri kegiatan BEM Bersatu maupun mengutus seseorang bernama Ahmad sebagaimana yang disebut sebagai perwakilan mereka.
“BEM FTI UBSI tidak pernah memberikan mandat kepada pihak manapun untuk mewakili organisasi dalam kegiatan tersebut,” tulis pernyataan resmi organisasi itu, Rabu (17/6/2026).
Bantahan serupa juga disampaikan BEM Fakultas Psikologi Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Mereka menegaskan identitas organisasinya telah dicatut dalam kegiatan tersebut.
Menurut BEM Fakultas Psikologi UNJ, Ahmad Ghazy yang disebut sebagai perwakilan kampus merupakan alumni angkatan 2020 dan bukan bagian dari kepengurusan maupun anggota organisasi saat ini.
“Tindakan maupun pandangan yang disampaikan merupakan tanggung jawab pribadi pihak tersebut,” demikian pernyataan BEM Fakultas Psikologi UNJ.
Sementara itu, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Nasional (FISIP Unas) juga membantah klaim yang menyebut Ardy Zulkifly sebagai Ketua BEM FISIP Unas. Dalam klarifikasinya, pihak fakultas menyatakan tidak memiliki organisasi BEM di tingkat fakultas.
Karena itu, kehadiran Ardy dalam forum BEM Bersatu disebut tidak mewakili institusi maupun organisasi kemahasiswaan resmi di lingkungan FISIP Universitas Nasional.
Polemik ini mencuat setelah BEM Bersatu menggelar konferensi pers dan menyampaikan sejumlah tudingan terkait dugaan keterlibatan tokoh politik di balik gerakan mahasiswa yang selama ini mengkritisi sejumlah kebijakan pemerintah.
Aliansi tersebut juga menyoroti agenda Dialog Nasional Kebangsaan yang dijadwalkan berlangsung di Bandung pada 18 Juni 2026 dan disebut akan dihadiri oleh Tiyo Ardianto bersama sejumlah tokoh lainnya.
Menanggapi berbagai tudingan tersebut, Tiyo Ardianto memilih tidak memberikan respons secara khusus. Ia menegaskan tetap fokus pada gerakan mahasiswa dalam mengawal kebijakan publik yang dinilai berdampak terhadap masyarakat.
Di sisi lain, Juru Bicara PDI Perjuangan, Guntur Romli, turut membantah tuduhan yang mengaitkan partainya dengan gerakan mahasiswa tersebut. Menurutnya, tudingan yang dibangun berdasarkan hubungan keluarga maupun kepemilikan kendaraan tidak memiliki dasar yang kuat.
“Menghubungkan kepemilikan kendaraan milik warga sipil lalu ditarik ke hubungan persaudaraan, kemudian ke hubungan besan hingga menyimpulkan adanya keterlibatan partai politik merupakan logika yang keliru,” kata Guntur dalam keterangannya.
Ia juga menegaskan bahwa PDIP tidak memiliki keterkaitan dengan aksi mahasiswa yang belakangan berkembang di berbagai daerah.
Hingga kini, polemik mengenai legitimasi BEM Bersatu masih menjadi perbincangan di kalangan aktivis mahasiswa. Sejumlah pihak mendorong agar setiap organisasi yang mengatasnamakan mahasiswa dapat menunjukkan mandat yang jelas dan memperoleh persetujuan resmi dari lembaga yang diwakilinya guna menghindari kesalahpahaman di ruang publik.
Sebelumnya, BEM Bersatu yang berisikan Wildan Ricky mengaku sebagai Ketua BEM Fakultas Hukum Unisia, Muhammad Yani mengaku dari BEM Fakultas Hukum UIJ, Ardi Zulkifly mengaku Ketua BEM FISIP Unas, Ardiansyah mengaku Ketua BEM Institut Al-Aqidah, Ahmad Ghazy dari BEM Psikologi UNJ, dan Alfi Ketua BEM FEB Unpam.
Juga mahasiswa yang mengklaim sebagai Ketua BEM Hukum UIC Rahmat Djimbula, Dicky dari BEM FIPS Unindra, Ahmad dari BEM Fakultas Teknik dan Informatika Universitas Bina Sarana Informatika, serta Rezky Anandar dari BEM Fakultas Ilmu Sosial dan Manajemen Administrasi Institut STIAMI.
Mereka menjadi soortan setelah menggelar konferensi pers. Dalam pernyataannya, BEM Bersatu mengatakan mobil yang digunakan Tiyo diduga terdaftar atas nama Siti Nuraini, adik dari Letnan Jenderal TNI (Purnawirawan) Setyo Sularso. Pensiunan jenderal itu disebut besan dari Jenderal TNI (Purnawirawan) Andhika Perkasa, kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan sekaligus tim pemenangan Ganjar Pranowo di Pilpres 2024.
Aliansi BEM Bersatu juga menyorot agenda bertajuk Dialog Nasional Kebangsaan yang bakal digelar di salah satu hotel di Bandung pada Kamis, 18 Juni 2026. Forum itu disebut dihadiri oleh Tiyo Ardianto, Setyo Sularso, dan sejumlah tokoh lain.
Seelain itu, BEM Bersatu juga mengatakan mendukung program priorotas pemerintah seperti MBG. Hal itu berlawanan dengan tuntutan aliansi mahasiswa dari berbagai kampus besar yang turun di kota-kota Besar secara serentak.