MAMUJU, Mekora.id – Tekanan harga di Sulawesi Barat kembali meningkat. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan atau year on year (y-on-y) Sulbar pada Agustus 2026 mencapai 2,29 persen, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 111,92.
Kepala BPS Provinsi Sulawesi Barat, Suri Handayani mengatakan, dari dua wilayah yang menjadi lokasi pemantauan inflasi di Sulawesi Barat, Kabupaten Mamuju mencatat kenaikan harga paling tinggi dengan inflasi sebesar 3,90 persen dan IHK 112,81.
Sementara Kabupaten Majene menjadi daerah dengan inflasi terendah, yakni 1,27 persen dengan IHK 111,34.
“Secara bulanan, inflasi Sulbar pada Agustus 2026 tercatat sebesar 0,11 persen. Sedangkan secara kumulatif sejak awal tahun atau year to date (y-to-d), inflasi mencapai 2,28 persen,” kata Suri Handayani melalui keterangan tertulis, Senin, (1/9/2026).
Kenaikan inflasi tahunan tersebut terutama dipengaruhi meningkatnya indeks pada hampir seluruh kelompok pengeluaran.
Kelompok makanan, minuman dan tembakau mengalami kenaikan sebesar 2,11 persen. Kemudian kelompok pakaian dan alas kaki naik 0,21 persen, perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga 1,58 persen.
Kenaikan juga terjadi pada kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 3,04 persen, kesehatan 3,32 persen, serta transportasi yang mencapai 3,75 persen.
Kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan naik 2,66 persen, pendidikan 1,42 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran 2,22 persen, serta perawatan pribadi dan jasa lainnya menjadi kelompok dengan kenaikan tertinggi, yakni 5,08 persen.
Satu-satunya kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks adalah rekreasi, olahraga dan budaya sebesar 0,06 persen.
Harga Ikan hingga Cabai Dorong Inflasi
Sejumlah komoditas menjadi penyumbang utama inflasi Sulbar selama setahun terakhir. Di antaranya ikan layang, ikan cakalang, emas perhiasan, cabai merah, Sigaret Kretek Mesin (SKM), telepon seluler, angkutan udara, pelumas atau oli mesin, ikan tuna dan cabai rawit.
Selain itu, ikan bandeng, asam, Sigaret Kretek Tangan (SKT), ikan tongkol, ikan kembung, bakso siap santap, sepeda motor dan bahan bakar rumah tangga juga turut memberikan tekanan terhadap inflasi.
Namun, tidak semua komoditas mengalami kenaikan harga. Beberapa komoditas justru memberikan andil terhadap deflasi, di antaranya tomat, beras, bawang merah, minyak kelapa, telur ayam ras, pisang dan ikan katamba.
Untuk pergerakan harga selama Agustus 2026 dibandingkan Juli 2026, ikan cakalang menjadi salah satu komoditas yang memberikan andil inflasi terbesar. Selain itu terdapat cabai rawit, ikan kembung, telur ayam ras, pisang, bakso siap santap, telepon seluler, angkutan udara, ikan selar dan martabak.
Sementara komoditas yang menahan laju inflasi bulanan antara lain tomat, bawang merah, beras, cabai merah, bawang putih, kol putih atau kubis, ikan bandeng, daging ayam ras, udang basah dan jeruk nipis atau limau.
Makanan Jadi Penyumbang Terbesar
Berdasarkan kelompok pengeluaran, makanan, minuman dan tembakau memberikan andil terbesar terhadap inflasi tahunan Sulbar, yakni 0,82 persen.
Kelompok transportasi menyumbang 0,39 persen, disusul perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,26 persen. Sementara kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga memberikan andil 0,24 persen.
Kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran menyumbang 0,20 persen, sedangkan perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga serta informasi, komunikasi dan jasa keuangan masing-masing memberikan andil 0,15 persen.
Kelompok kesehatan menyumbang 0,04 persen, pendidikan 0,03 persen, serta pakaian dan alas kaki sebesar 0,01 persen.
Data BPS tersebut menunjukkan tekanan harga di Sulawesi Barat masih perlu menjadi perhatian, terutama pada komoditas pangan dan sejumlah kebutuhan rumah tangga yang berpengaruh langsung terhadap daya beli masyarakat.