MAMUJU, Mekora.id – Masyarakat Sulawesi Barat masih harus bersabar menghadapi musim kemarau. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Sulawesi Barat memprediksi hujan baru berpotensi kembali turun secara lebih luas pada akhir Oktober hingga November 2026.

Kondisi tersebut dipengaruhi oleh dinamika iklim global yang masih menunjukkan pengaruh kuat El Nino. Prakirawan Cuaca BMKG Sulawesi Barat, Arman, mengatakan indeks ENSO dasarian saat ini berada pada kategori El Nino sangat kuat dengan nilai +2,99. Kondisi tersebut diperkirakan masih bertahan hingga awal 2027.

Sementara indeks Indian Ocean Dipole (IOD) berada pada kategori netral dengan nilai +0,394 dan diprediksi berkembang menjadi IOD positif pada Oktober 2026.

“Untuk Sulawesi Barat, hujan diperkirakan baru mulai kembali pada akhir Oktober hingga November,” ujar Arman.

Berdasarkan Buletin Informasi Peringatan Dini Cuaca dan Iklim Dasarian I September 2026, seluruh wilayah Sulawesi Barat yang terbagi dalam 14 Zona Musim (ZOM) telah memasuki periode musim kemarau.

Kondisi tersebut juga masih berlanjut pada awal September. BMKG tidak memprakirakan adanya hujan dengan intensitas sedang hingga lebat pada 1–3 September, 4–6 September, maupun 7–10 September 2026.

Situasi ini membuat sejumlah wilayah perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap kekeringan meteorologis.

BMKG menetapkan beberapa wilayah dalam status peringatan dini kekeringan meteorologis. Mamasa berada pada kategori waspada, Mamuju kategori siaga, sedangkan Majene dan Polewali Mandar masuk kategori awas.

Selain kondisi kekeringan, BMKG juga mencatat adanya wilayah yang telah mengalami hari tanpa hujan cukup panjang.

Untuk Sulawesi Barat, Kecamatan Mapilli, Kabupaten Polewali Mandar, tercatat sebagai wilayah dengan periode tanpa hujan terlama, yakni mencapai 81 hari.

“Untuk Sulbar berada di Kecamatan Mapilli yang paling lama tidak dituruni hujan selama 81 hari. Sedangkan di Mamuju berada di wilayah Kecamatan Papalang,” kata Arman kepada Mekora.id, Senin, (1/9/2026).

Sementara itu, BMKG Sulbar belum dapat memastikan wilayah dengan suhu udara paling panas di Sulawesi Barat. Keterbatasan peralatan pemantauan menjadi salah satu kendalanya.

Menurut Arman, perangkat yang tersedia di stasiun pengamatan Mamuju dan Majene saat ini hanya mampu melakukan pemantauan suhu hingga sekitar 33 derajat Celsius.

“Untuk wilayah yang paling panas tidak dapat dipantau karena keterbatasan peralatan. Yang ada di Mamuju dan Majene hanya sekitar 33 derajat Celsius,” jelasnya.

BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah menjadikan informasi tersebut sebagai dasar untuk meningkatkan kewaspadaan dan melakukan langkah mitigasi terhadap dampak kekeringan.

Kondisi kemarau panjang berpotensi memengaruhi ketersediaan air, sektor pertanian, serta meningkatkan risiko kebakaran dan bencana hidrometeorologi lainnya.

Masyarakat juga diminta mengikuti perkembangan informasi cuaca dan iklim yang dikeluarkan BMKG, terutama terkait peringatan dini kekeringan maupun perubahan kondisi atmosfer.

Dengan prediksi hujan yang baru berpotensi kembali pada akhir Oktober hingga November, masyarakat di wilayah yang telah masuk kategori siaga dan awas diharapkan dapat melakukan langkah antisipasi sejak dini.