Pelatihan Dokpol di Makassar jadikan pembunuhan Demas Laira contoh penerapan scientific crime investigation

MAKASSAR, Mekora.id – Pengungkapan kasus pembunuhan wartawan Demas Laira di Mamuju Tengah, Sulawesi Barat, yang dijuluki Kasus Cinderella Sulbar kembali menjadi sorotan. Kasus tahun 2020 ini kini dijadikan studi kasus utama dalam Pelatihan Dokpol Kedokteran Forensik di Makassar, 26-27 Agustus 2026, sebagai bukti nyata sinergi antara peneliti DNA dan penyidik berkemampuan IT dalam scientific crime investigation.

Awal jasad dan “sepatu Cinderella”

Peristiwa terjadi pada 20 Agustus 2020 di pinggir jalan poros Trans Sulawesi, Dusun Salu Bijau, Desa Tasokko, Kabupaten Mamuju Tengah. Jasad Demas Laira, 28 tahun, ditemukan dengan 17 luka tusukan.

Saat melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP), Polres Mamuju Tengah menemukan barang bukti ganjil: sepatu sebelah kanan yang dipastikan bukan milik korban. Karena hanya sebelah dan ditemukan terpisah, publik kemudian menyebutnya “sepatu Cinderella“.

“Penemuan sepatu sebelah kanan yang misterius itu menjadi salah satu bukti krusial untuk melacak jejak pelaku. Tanpa olah TKP yang teliti dan prosedural, bukti kecil seperti ini bisa terlewat,” ungkap narasumber dalam pelatihan.

Terungkap: lewat jejak digital dan profil DNA

Proses pengungkapan kasus ini memakan waktu sekitar dua bulan. Tim gabungan Polri menggunakan dua pendekatan ilmiah sekaligus.

Pertama, dari sisi IT dan digital forensik. Analisis jejak digital, komunikasi, dan pergerakan data berhasil memetakan 6 orang yang masuk sebagai potensial suspek pelaku. Pendekatan sistematis ini dikaji oleh Penyidik Berkemampuan IT dan Digital Iptu Abdillah Makmur, S.H., M.H., penyidik Polda Sulawesi Selatan.

Kedua, dari sisi DNA. Sepatu bukti tersebut kemudian dikirim ke Laboratorium DNA Pusdokkes Polri untuk pemeriksaan. Hasilnya mengejutkan.

“Dari hasil DNA di Laboratorium DNA Pusdokkes Polri didapat hasil identik 3 orang. Profil DNA ketiganya ada di sepatu itu, atau bisa dikatakan 3 orang tersebut pernah memakai atau menginjak sepatu itu,” jelas peneliti DNA AKBP Dr. dr. Mauluddin M, S.Sos, SH, MH, M.Biomed, Sp.FM.

Lebih lanjut, karena ketiganya masih satu keluarga dan tinggal serumah, wajar jika jejak DNA mereka ditemukan di barang yang sama. Namun temuan ini menjadi penguat yang sangat signifikan untuk mengerucutkan penyidikan.

Akhirnya, polisi menangkap 6 orang pelaku yang masih memiliki ikatan keluarga. Motifnya bukan terkait profesi korban sebagai jurnalis, melainkan masalah pribadi atau sakit hati karena pelaku merasa keluarganya dilecehkan, sesuai rilis Polda Sulawesi Barat.

Dibedah di pelatihan Dokpol: 3 pilar scientific crime investigation

Dalam pelatihan bertema Sinergi Olah TKP Yang Tepat dan Prosedural Mengedepankan Scientific Crime Investigation, kasus Cinderella diurai sebagai model.

1. Pilar DNA

Salah satu peneliti DNA AKBP Dr. dr. Mauluddin M, S.Sos, SH, MH, M.Biomed, Sp.FM, dokter forensik Polri menekankan pentingnya standar.

“Standarisasi Laboratorium DNA adalah kunci agar bukti ilmiah diterima dan memiliki kepastian hukum. Rantai kepemilikan barang bukti dari TKP sampai Laboratorium harus jelas,” ujarnya.

2. Pilar IT dan Sistem

Penyidik Berkemampuan IT dan Digital Iptu Abdillah Makmur, S.H., M.H., penyidik Polda Sulsel, memperkenalkan Integrated Scientific Proof System (ISPS) hasil disertasinya.

“ISPS hadir untuk menjawab tantangan pembuktian modern. Data dari TKP, hasil Laboratorium, dan digital forensik harus terhubung agar tidak ada celah dan tidak saling kontradiksi,” katanya.

Kasus Cinderella adalah contohnya. Dimulai dari pemetaan 6 orang lewat jejak digital, lalu diperkuat dengan 3 profil DNA yang cocok di sepatu.

3. Pilar Praktik Lapangan

“Scientific crime investigation hanya bisa berjalan jika ada sinergi. Dokter forensik menyiapkan bukti, penyidik mengintegrasikan data, dan semuanya dimulai dari olah TKP yang benar,” tegas pemateri.

Pelajaran penting

Kasus ini membuktikan bahwa kejahatan tidak bisa diungkap dengan cara konvensional saja. Diperlukan kolaborasi multidisiplin: olah TKP yang benar, uji DNA yang standar, dan analisis sistem IT yang terintegrasi.

“Kita ingin keadilan tidak hanya dirasakan, tapi juga bisa dibuktikan secara ilmiah. Kasus Cinderella Sulbar adalah contohnya,” tutup peserta pelatihan.