Tak Puas Jawaban Kampus, Mahasiswa Unimaju Ancam Terus Berunjuk Rasa
- account_circle mekora.id
- calendar_month Kamis, 23 Jan 2025
- comment 0 komentar
- print Cetak

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Mamuju (Unimaju) berunjuk rasa.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MAMUJU, Mekora.id – Mahasiwa Universitas Muhammadiyah Mamuju (Unimaju), kembali melanjutakan aksi unjuk rasa untuk menolak kebijaka biaya studi banding yang dinilai mahal. Aksi itu dilakukan di Pelataran Kampus II Unimaju di Jl. Baharuddin Lopa, Mamuju, Rabu, (22/1/2025).
Menurut Koordinator Aksi, Abdiel, kebijakan kampus yang semenah-menah dengan menerapkan studi banding keluar pulau memaksa mereka harus membayar hingga Rp 9 juta per mahasiswa pada angkatan 2022. Biaya itu kata Abdiel, sangat memberatkan bagi mahasiswa terutama bagi yang kurang mampu.
“Aksi ini merupakan bentuk protes terhadap kebijakan kampus yang mewajibkan Mahasiswa mengikuti kegiatan Benchmarking (Studi Banding) dengan biaya yang dinilai memberatkan,” kata Koordinator Aksi, Abdiel.
Meski pada aksi kedua ini Rektor Unimaju mengeluarkan empat poin tanggapan, namun mahasiswa menganggap hal tersebut hanya sebagai alibi. Hal itu karena surat yang dikeluarkan Rektor bukan merupakan keputusan yang berkekuatan hukum.
Terlebih, kata Mahasiswa poin tanggapan Rektor itu tidak sesuai tuntutan mahasiswa yang menginginkan studi banding bisa dilakukan di dalam wilayah terdekat. Hal itu agar biaya yang dikeluarkan mahasiswa tidak membludak.
“Ada pun surat tanggapan yang dikeluarkan pihak kampus itu belum sepenuhnya memberikan solusi kepada kami, karena ada beberapa poin yang tidak tertera dalam surat hasil rapat pengelola kampus Unimaju,” kata Abdiel.
Mahasiswa mendesak Rektor Unimaju, segera melakukan transparansi pengelolaan anggaran Studi Banding yang dipungut dari setiap mahasiswa angkatan 2022.
“Harus terbuka untuk semua angkatan 2022 di karena biaya yang digunakan besar dan itu memberatkan bagi kami mahasiswa,” ujar Abdiel
Dalam aksi itu, mahasiswa juga mendesak pihak Rektorat Universitas Muhammadiyah Mamuju segera mengusut dugaan mafia Kartu Indonesia Pintar (KIP). Mahasiswa menuding, ada pihak-pihak tertentu yang sengaja memotong KIP Mahasiswa dengan alasan ucapan terima kasih.
“Mengenai mafia KIP yang sampai sekarang masih merajalela di kampus Unimaju dengan alasan ucapan terima kasih kepada pengurus,” ungkap Abdiel.
Mahasiswa menyebut, akan terus melakukan unjuk rasa jika pihak kampus tidak segera memenuhi tuntutan mereka.
“Kami sampaikan aksi ini belum selesai karena belum ada kesepakatan mengenai hasil dari aksi tadi. Hingga nantinya pihak kampus memenuhi tuntutan kami,” pungkas Abdiel.
- Penulis: mekora.id

Saluran Whatsapp
Google News