Reformasi 1998 : Jilid Perlawanan dan Tumbangnya Otoritarianisme
- account_circle mekora.id
- calendar_month Selasa, 13 Mei 2025
- comment 0 komentar
- print Cetak

Yudi Toda
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Oleh : Yudi Toda
Wakil Ketua Bidang Agitasi Media dan Propaganda DPC GMNI Mamuju
Mei 1998 menjadi saksi perjuangan rakyat Indonesia dalam menapaki era Reformasi. Sepanjang bulan tersebut, gelombang perlawanan rakyat merebak ke seluruh penjuru negeri. Krisis ekonomi yang melumpuhkan, kerusuhan sosial, penjarahan massal, aksi demonstrasi mahasiswa, hingga tragedi kemanusiaan merupakan rangkaian peristiwa yang mengguncang pemerintahan Orde Baru.
Buntut aksi berjilid-jilid itu berujung pada lengsernya Soeharto sebagai Presiden selama berkuasa 32 tahun, pada 21 Mei 1998. -Peristiwa Mei 1998 merupakan tonggak penting dalam sejarah bangsa Indonesia, menandai berakhirnya era politik dominatif menuju era politik yang lebih partisipatif.
Dibalik kejatuhan rezim otoriter Orde Baru itu, ada latar belakang kuat yang menjadi rangkaian. Hal itu menimbulkan perlawanan masif hingga pelosok negeri.
1. Krisis Ekonomi dan Perlawanan Nasional
Krisis moneter yang melanda Indonesia pada tahun 1997–1998 menjadi pemicu utama meletusnya gelombang reformasi. Nilai tukar rupiah merosot tajam, inflasi meningkat pesat, dan banyak perusahaan mengalami kebangkrutan. Lumpuhnya perekonomian membuat masyarakat merasakan langsung dampak krisis yang menyiksa, hingga menimbulkan ketidakpuasan luas terhadap pemerintahan Orde Baru. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) bahkan mencatat bahwa pada tahun 1993 terdapat sekitar 27 juta penduduk miskin. Dari sekitar 180 juta penduduk Indonesia saat itu, hampir 90 persen hidup dalam kemiskinan.
2. Tragedi Kemanusiaan, Luka Bangsa
Demonstrasi mahasiswa dan represifitas aparat keamanan berlangsung di berbagai daerah antara tanggal 2 hingga 8 Mei 1998. Aksi-aksi tersebut merupakan wujud kemarahan atas kondisi ekonomi yang memburuk. Namun alih-alih merespons situasi genting tersebut, pada 9 Mei 1998 Presiden Soeharto justru terbang ke Kairo untuk menghadiri Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G-15.
Puncak tragedi terjadi pada 12 Mei 1998, ketika mahasiswa Universitas Trisakti melakukan aksi damai menuju Gedung DPR/MPR. Namun, aksi tersebut dihadang oleh aparat keamanan, dan mengakibatkan tewasnya empat mahasiswa: Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie. Peristiwa ini dikenang sebagai Tragedi Trisakti, tragedi kemanusiaan yang memperlihatkan bagaimana negara berbalik melawan rakyatnya sendiri.
3. Akumulasi Kemarahan Rakyat
Sehari setelah Tragedi Trisakti, rakyat Indonesia seakan menjadi bara api yang mudah tersulut oleh provokasi dan kemarahan. Kekecewaan terhadap krisis ekonomi dan rezim Orde Baru memuncak dalam bentuk kerusuhan besar-besaran pada 13–15 Mei 1998. Pembakaran, penjarahan, hingga pembunuhan terjadi di berbagai kota besar, termasuk Jakarta. Kekacauan ini menjadi salah satu peristiwa tergelap dalam sejarah bangsa.
4. Pendudukan Gedung DPR/MPR
Pada 16 Mei 1998, ribuan mahasiswa dari berbagai kampus di Jakarta bergerak menuju Gedung DPR/MPR di Senayan. Dari waktu ke waktu, jumlah mereka terus bertambah, hingga memenuhi seluruh area gedung, bahkan atapnya. Para mahasiswa bertahan dan bermalam di gedung tersebut, menantang segala risiko dengan satu tuntutan utama: Soeharto harus mundur dari jabatan presiden.
Dukungan terhadap gerakan mahasiswa mulai mengalir dari berbagai elemen masyarakat, termasuk elit politik, organisasi non-pemerintah, buruh, dan rakyat umum. Kabinet Soeharto pun mulai terbelah. Sejumlah menteri di bawah koordinasi Ginanjar Kartasasmita menyatakan pengunduran diri mereka. Pada 18 Mei 1998, Ketua MPR dan loyalis Soeharto, Harmoko, secara terbuka meminta Soeharto untuk mundur secara arif dan bijaksana. Namun, Panglima ABRI, Jenderal Wiranto, menyatakan bahwa pernyataan tersebut adalah pendapat pribadi, meskipun disampaikan secara kolektif, dan tidak memiliki kekuatan hukum menurut konstitusi.
Terdesak oleh tekanan publik yang semakin besar, pada 19 Mei 1998, Soeharto memanggil sembilan tokoh Islam untuk mendengar aspirasi masyarakat. Namun, gelombang mahasiswa terus membanjiri Gedung DPR/MPR dan memperkuat desakan agar Soeharto segera lengser.
5. Era Reformasi: 21 Mei 1998
Puncak dari rangkaian peristiwa tersebut terjadi pada Kamis, 21 Mei 1998, pukul 09.05 WIB di Istana Merdeka, Jakarta. Di hadapan para wartawan dari dalam dan luar negeri, Presiden Soeharto secara resmi mengumumkan pengunduran dirinya. Wakil Presiden B.J. Habibie kemudian dilantik menjadi Presiden Republik Indonesia ketiga.
Berakhirlah sebuah era kediktatoran yang otoriter dan penuh penindasan. Di jalan-jalan dan di Gedung DPR/MPR, rakyat meluapkan kegembiraan dengan berbagai cara. Sebuah babak baru dimulai: perjalanan transisi bangsa Indonesia menuju sistem demokrasi yang lebih terbuka dan berkeadilan.
Tuntutan Utama Reformasi:
1. Penegakan supremasi hukum
2. Pemberantasan Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN)
3. Mengadili Soeharto beserta kroninya
4. Mencabut Dwifungsi ABRI
5. Memberikan otonomi daerah secara luas.
- Penulis: mekora.id

Saluran Whatsapp
Google News
