Oleh : Nur Arifah
Pagi di Mamasa selalu punya cara tersendiri untuk menenangkan isi kepala. Cahaya matahari yang perlahan menembus tebalnya kabut pegunungan sering kali memendarkan warna hangat. Di kebun ini ada hamparan bukit hijau, aroma tanah basah, dan deretan pohon kopi. Menyeduh segelas kopi hitam buatan sendiri di sini rasanya seperti menemukan ruang yang paling pas merentangkan jarak sejauh-jauhnya dari bisingnya jalanan kota dan tumpukan tugas dan pekerjaan yang selalu menguras pikiran.
Agustus 2026 ini, Mamasa kebetulan sedang ramai-ramainya. Tepat pada perayaan 17 Agustus nanti, pemerintah kabupaten menargetkan rekor MURI 33 ribu warga dari 17 Kecamatan akan meminum kopi bersama menggunakan suke, wadah bambu tradisional kita. Hajatan ini bukan cuma sekadar euforia kemerdekaan, tetapi juga momentum syukuran karena Kopi Mamasa akhirnya resmi mendapat pengakuan Indikasi Geografis (IG) dari pemerintah pusat. Sebagai anak daerah, tentu ada kebanggaan tersendiri melihat hasil bumi dari kampung halaman diakui secara nasional dan internasional.
Setiap kali nama “Kopi Mamasa” digaungkan di panggung sebesar itu, wajar jika bayangan kebanyakan orang langsung tertuju pada Arabika. Arabika Mamasa memang primadona yang luar biasa, sering memenangkan kontes dan menjadi wajah kebanggaan kita di etalase Kafe-kafe specialty. Berdasarkan rekam jejaknya, luas areal tanaman kopi Arabika di Kabupaten Mamasa memang mendominasi dengan capaian luasan hingga 11.983 hektare. Arabika ini ibarat “cangkir pertama” kopi elegan yang diseduh dengan penuh perhitungan murni untuk diapresiasi kerumitan rasanya.
Namun, di balik megahnya papan nama Arabika, ada realita lain yang mengimbangi pencapaian itu. Data pencatatan yang sama menunjukkan bahwa kopi Robusta nyatanya tetap berdiri kokoh menopang ekonomi warga dengan luas areal tanaman mencapai 7.134 hektare. Secara keseluruhan, bentangan lahan aktual kopi di wilayah ini sangatlah masif, menembus angka 33.589 hektare, tempat di mana sebanyak 20.980 kepala keluarga menggantungkan napas dan penghidupannya.
Bagi saya yang melihat langsung hamparan kebun ini, angka ribuan hektare milik Robusta bukanlah sekadar deretan statistik, melainkan urat nadi ekonomi warga. Sayangnya, urat nadi ini berdenyut di tengah keterbatasan fasilitas. Laporan lapangan dan pemetaan wilayah mengungkap fakta pahit bahwa 88% fasilitas penunjang kopi di Kabupaten Mamasa masih berada pada kategori rendah. Kondisi tersebut berimbas langsung pada hilirisasi, di mana hanya sekitar 20% dari total produksi kopi lokal yang mampu diserap oleh industri pengolahan setempat, sementara sisanya terpaksa mengalir keluar daerah.
Keterbatasan infrastruktur pengolahan ini membuat posisi tawar petani di akar rumput kerap berada di titik yang rentan. Mayoritas petani hanya mampu memproduksi kopi dalam bentuk ceri atau biji mentah dengan pengolahan tradisional, menjadikan nasib mereka sangat bergantung pada bandar atau perusahaan eksportir yang memegang kendali utama pasar. Padahal, data statistik regional mencatat bahwa Kabupaten Mamasa adalah sentra raksasa yang menyumbang hingga 76,85% dari total produksi kopi di Provinsi Sulawesi Barat.
Walaupun, jika kita mau sedikit tajam menatap realita sosial, kopi tidak jarang menampakkan sisi elitisnya. Atas nama komoditas dan gengsi, kopi sering kali berubah menjadi alat manuver politik, atau sekadar pelicin lobi-lobi di meja birokrasi demi sebuah kekuasaan. Ironisnya, mereka yang berdebat memperebutkan posisi sambil menyesap kopi mahal sering kali lupa pada tangan-tangan kapalan yang merawat ceri kopi tersebut. Tapi mari kita tinggalkan intrik kotor itu, sebab di akar rumput, tugas Robusta jauh lebih mulia dan sejati yaitu menyambung hidup orang banyak.
Kekuatan Robusta ini bahkan merantau jauh melebihi batas-batas kebun kita. Di pasar global, Robusta Indonesia sebenarnya diekspor secara masif menjadi nyawa penentu ketebalan crema dan rasa tegas pada ramuan espresso di Eropa, hingga kini perlahan dilirik sebagai Fine Robusta yang diperhitungkan. Bedanya, jika Arabika terbang membawa label nama daerahnya secara eksklusif, Robusta sering kali hadir secara anonim. Ia lebur menjadi bahan baku yang menggerakkan cangkir-cangkir kopi dunia dari balik layar.
Realita ini tercermin dengan sangat jelas saat kita kembali ke Kota Perantauan. Di Kedai kopi kekinian, di satu meja ada segelas kopi hitam seduh manual Arabika yang disajikan dengan cerita panjang dari sang barista. Namun di meja pesanan, berjejer belasan gelas es kopi susu gula aren yang dijemput ojek daring atau menemani kebanyakan orang yang dikejar tenggat waktu. Tanpa karakter pekat dan body yang kuat dari Robusta, minuman penawar lelah itu akan kehilangan tumpuan rasanya.
Inilah alasan saya menyebutnya sebagai “cangkir kedua”. Bukan berarti posisinya lebih rendah, melainkan fungsinya yang berbeda. Ia adalah kopi yang hadir bukan sekadar untuk selebrasi atau pameran identitas, melainkan sebagai kawan setia yang menggerakkan produktivitas, menemani begadang, dan menopang kerasnya rutinitas sehari-hari. Arabika mungkin adalah bendera yang membuat Mamasa dikenal luas di panggung dunia, tetapi Robusta yang memastikan kita tetap tegak melangkah setiap hari. Namun begitu, keduanya meracik harmoni yang utuh dan saling melengkapi.
Next, harus berkunjung dan mencoba kopi di daerah mana?