MAMUJU, Mekora.id – Cuaca panas masih melanda sebagian besar wilayah Sulawesi Barat seiring berlangsungnya musim kemarau. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Tampa Padang, Kabupaten Polewali Mandar (Polman) menjadi daerah dengan suhu udara tertinggi yang tercatat pada Agustus 2026.

Prakirawan Cuaca BMKG Tampa Padang, Abid Adika Juharsa, mengatakan secara umum Sulawesi Barat telah memasuki musim kemarau sejak Juni hingga awal Juli 2026.

“Berdasarkan update perkembangan musim wilayah Sulawesi Barat dasarian III Juli 2026 (21–31 Juli 2026), secara umum seluruh wilayah sudah memasuki musim kemarau mulai bulan Juni hingga awal Juli,” kata Abid, Jumat (7/8/2026).

Ia menjelaskan kondisi tersebut sesuai dengan prediksi awal BMKG yang memperkirakan awal musim kemarau terjadi pada Juni hingga Juli.

Secara umum, puncak musim kemarau di Sulawesi Barat diprediksi berlangsung pada Agustus 2026. Namun, sejumlah wilayah mengalami puncak kemarau lebih cepat, yakni pada Juli.

Wilayah tersebut meliputi Kecamatan Papalang, Sampaga, dan sebagian Tommo di Kabupaten Mamuju. Sementara di Kabupaten Mamuju Tengah meliputi Kecamatan Pangale, Budong-Budong, Tobadak, Topoyo, dan Karossa. Adapun di Kabupaten Pasangkayu meliputi sebagian Kecamatan Dapurang, Duripoku, dan Bulutaba bagian timur.

Meski demikian, BMKG memperkirakan hujan mulai berpeluang turun di wilayah Mamuju dan sekitarnya sepanjang Agustus setelah puncak kemarau lebih dahulu terjadi pada akhir Juli.

Berdasarkan hasil pengamatan alat otomatis BMKG selama Agustus 2026, suhu udara tertinggi di masing-masing wilayah tercatat sebagai berikut:

  • Polewali Mandar: 33,2 derajat Celsius.
  • Mamuju:32,5 derajat Celsius.
  • Majene: 32,4 derajat Celsius.
  • Pasangkayu: 32,1 derajat Celsius.

Abid menjelaskan data tersebut merupakan hasil pengamatan langsung dari stasiun cuaca BMKG.

BMKG mengimbau masyarakat tetap menjaga kondisi tubuh saat beraktivitas di luar ruangan, mencukupi kebutuhan cairan, serta menghindari pembakaran lahan karena meningkatnya risiko kebakaran selama musim kemarau. Selain itu, masyarakat diminta terus memantau informasi prakiraan cuaca terbaru mengingat hujan masih berpotensi terjadi di beberapa wilayah Sulawesi Barat selama Agustus.