MAMUJU, Mekora.id – Petani kelapa sawit di sejumlah wilayah Sulawesi Barat (Sulbar) kini seddang harap-harap cemas. Mereka mengeluhkan kesulitan menjual hasil panen tandan buah segar (TBS) ke perusahaan sawit. Selain harus mengantre berhari-hari, harga jual TBS juga terus mengalami penurunan.

Kondisi itu dikeluhkan petani di Kabupaten Mamuju Tengah hingga Pasangkayu dalam beberapa bulan terakhir. Di Barakkang, Kecamatan Budong-Budong, Mamuju Tengah, ratusan truk dan mobil pikap pengangkut sawit terlihat mengantre panjang untuk masuk ke pabrik PT Mitra Andalan Sawit (MAS).

Warga menyebut antrean kendaraan terjadi hampir setiap hari dan membuat petani harus menunggu hingga empat hari agar buah sawit mereka bisa diterima perusahaan.

Akibat lamanya antrean, sebagian hasil panen bahkan mulai membusuk sebelum sempat dijual.

“Sekarang PT MAS turun karena sawit antrean panjang sampai empat hari antre baru tembus, sampai-sampai buah sawit membusuk. Sudah begini sejak beberapa bulan lalu setelah lebaran,” ujar seorang petani sawit di Mamuju Tengah, Hermansyah, Sabtu (16/5/2026).

Di tengah antrean panjang itu, harga TBS di tingkat perusahaan juga kembali turun. Petani menyebut harga pembelian di PT MAS turun Rp100 per kilogram menjadi Rp2.480 per kilogram.

Menurut Hermansyah, kondisi tersebut dipicu meningkatnya produksi sawit di Sulawesi Barat (Sulbar) yang tidak diimbangi penambahan kapasitas pabrik pengolahan.

Ia juga menyebut banyaknya pasokan TBS dari luar daerah turut memperparah antrean di pabrik.

“Pertama buah sawit di Sulbar semakin banyak, namun pabrik itu-itu saja tidak bertambah. Kedua, banyak buah dari selatan seperti Wonomulyo dan Pinrang bahkan ada dari Maros. Ketiga, beberapa pabrik di Sulbar buka tutup,” katanya.

Keluhan serupa juga datang dari petani sawit di Kabupaten Pasangkayu. Mereka mengaku harus menerima penurunan harga pembelian TBS oleh PT Unggul Widya Teknologi Lestari sebesar Rp60 per kilogram menjadi Rp2.690 per kilogram.

Penurunan harga itu disampaikan perusahaan melalui pengumuman resmi kepada petani plasma.

“Bismillah, terhitung mulai hari Kamis, 14 Mei 2026, harga TBS turun Rp60 per kilogram menjadi Rp2.690 per kilogram. Agar tetap mengirimkan TBS yang berkualitas dan kriteria masak tetap dijaga,” demikian isi pengumuman Divisi Plasma PT Unggul Widya Teknologi Lestari.

Sementara itu, petani sawit di Kecamatan Tommo, Kabupaten Mamuju, mempertanyakan penetapan harga TBS yang sebelumnya telah ditetapkan Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat.

Mereka menilai harga yang diputuskan dalam rapat penetapan tidak sesuai dengan harga riil di lapangan.

“Harga naik di meja rapat penetapan tapi sampai di meja timbangan harga turun dan itu yang berlaku di semua petani sawit di Sulbar,” tulis salah seorang warga dalam komentar di media sosial.

Warga juga menyoroti penerapan harga di sejumlah perusahaan yang dinilai tidak memperhitungkan umur tanaman sawit sesuai ketentuan pemerintah.

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat menetapkan harga TBS periode Mei 2026 melalui rapat bersama perusahaan dan asosiasi petani pada 12 Mei lalu.

Dalam penetapan itu, harga tertinggi untuk tanaman umur 10 hingga 20 tahun mencapai Rp3.493,58 per kilogram dengan rendemen CPO 21,65 persen.

Sementara harga untuk tanaman umur tiga tahun ditetapkan sebesar Rp2.649,81 per kilogram. Namun, petani mengaku harga pembelian di lapangan jauh di bawah angka tersebut sehingga menambah tekanan terhadap pendapatan mereka.