Forum Aji Mandar : Pentingnya Jurnalis Meliput dengan Empati Hadapi Isu Sosial
- account_circle mekora.id
- calendar_month Selasa, 27 Mei 2025
- comment 3 komentar
- print Cetak

Forum diskusi AJI Kota Mandar Meliput dengan Empati". Senin, (26/5/2025).
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MAMUJU, Mekora.id – Maraknya kasus kekerasan seksual dan meningkatnya angka bunuh diri di Sulawesi Barat dan berbagai daerah di Indonesia menjadi perhatian serius Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Mandar.
Pers sebagai pilar keempat demokrasi dinilai memiliki peran penting dalam meredam dampak sosial dari peristiwa-peristiwa tersebut melalui pemberitaan yang beretika dan berempati.
Isu ini diangkat dalam diskusi bertajuk “Meliput dengan Empati” yang diselenggarakan AJI Kota Mandar melalui zoom, pada Senin, (26/5/2025) malam. Hal itu untuk mendorong jurnalis menyajikan informasi dengan rasa kemanusiaan, bukan sekadar mengejar sensasi atau clickbait.
Peran Media Tidak Netral: Dampaknya Nyata pada Korban
Editor Kompas.com sekaligus anggota Satgas Kekerasan Seksual AJI Indonesia, Ira Rachmawati, menegaskan media bukan sekadar penyampai informasi. Setiap pemberitaan memiliki pengaruh besar terhadap cara publik melihat dan merespons suatu isu.
“Sering kali kita sebagai jurnalis terlalu fokus pada eksklusivitas berita, hingga tanpa sadar menyingkap identitas korban. Padahal ini bisa memperpanjang trauma korban dan menciptakan stigma sosial baru,” ujar Ira, Senin (26/5/2025).
Ira juga mengingatkan agar wartawan tidak memperhalus istilah dalam pemberitaan kekerasan seksual.
“Jika memang itu perkosaan, tulislah demikian. Jangan diganti dengan istilah seperti rudapaksa atau menggagahi. Tidak ada ruang untuk memperhalus pelaku kekerasan seksual,” tegasnya.
Ia menekankan pentingnya kode etik jurnalistik sebagai pedoman dasar setiap jurnalis dalam menulis berita, terutama yang menyangkut hak korban dan dampak psikologisnya.
Isu Bunuh Diri: Dapat Dicegah Jika Gejala Dikenali
Dalam sesi diskusi yang sama, Tajrani Tahlib, peneliti psikologi sosial, menjelaskan bahwa tindakan bunuh diri tidak terjadi secara tiba-tiba, melainkan melalui rentang waktu dan gejala yang bisa dikenali.
“Banyak berita menyederhanakan motif bunuh diri hanya karena ‘masalah pacar’. Padahal itu keliru. Perubahan perilaku seperti menarik diri, sulit makan, atau tampak murung adalah tanda awal yang bisa dikenali,” jelas Tajrani.
Ia juga mendorong pentingnya menciptakan lingkungan yang suportif dan terbuka agar seseorang dapat mengekspresikan tekanan mentalnya sebelum mencapai titik ekstrem.
“Langkah awal yang bisa dilakukan adalah mencari ketenangan di alam, seperti ke pinggir laut atau pegunungan. Tapi bila gejalanya berat, maka sebaiknya segera mendatangi psikolog profesional,” tambah lulusan UGM ini.
Pers Perlu Menjadi Bagian dari Solusi
Diskusi “Meliput Dengan Empati” ini menjadi pengingat bagi jurnalis, berita yang mereka tulis bisa menjadi pisau bermata dua — menyembuhkan atau justru menyakiti. Karena itu empati menjadi fondasi utama dalam peliputan isu-isu kemanusiaan.
- Penulis: mekora.id


Saluran Whatsapp
Google News
