JAKARTA, Mekora.id – Dari ruang kelas pelatihan kesehatan di Jakarta, sebuah inovasi dari ujung barat Sulawesi membuktikan bahwa seragam polisi bisa menjadi harapan baru dalam perang melawan Tuberkulosis (TBC). Inovasi itu bernama KETUK DOORS.

Proyek Perubahan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II Angkatan XV Kementerian Kesehatan RI ini digagas oleh AKBP Dr. Mauluddin M., S.Sos., M.H., Sp.F., yang sehari-hari menjabat sebagai Kasubbid Kespol Biddokkes Polda Sulawesi Barat, dengan Nomor Daftar Hadir (NDH) 15.

Ujian implementasi proyek digelar pada Rabu, 23 September 2026, bertempat di Ruang Cenderawasih, Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Kementerian Kesehatan RI Jakarta. Tampil sebagai Penguji adalah Dr. Agus Triyono, S.Si., M.Kes., dan sebagai Coach adalah Dr. Ina Yuniati, Dipl.M, M.Sc. Ujian turut diperkuat testimoni dukungan dari Mentor, Kombes Pol. Prasetya Sejati, S.I.K., yang disampaikan melalui video taping.

Apa itu KETUK DOORS? Singkatan dari Kepemimpinan Adaptif Bhabinkamtibmas dalam Akselerasi Eliminasi TBC Terpadu yang Transformatif, Unggul, dan Kolaboratif melalui Pendekatan Strategis Deteksi, Observasi, Obati, Rawat, serta Sembuhkan Berbasis Data SITB Kemenkes. Jargonnya sederhana namun kuat: Satu Ketukan, Sejuta Harapan, Menuju Eliminasi TBC 2030.

Menjawab Darurat TBC di Sulbar

Dalam paparannya, Dr. Mauluddin membuka dengan data nasional yang memprihatinkan. Indonesia masih berada di peringkat kedua dunia dengan estimasi 1,09 juta kasus TBC per tahun. Setiap jam, 14 jiwa meninggal dunia karena penyakit yang sebenarnya bisa disembuhkan ini.

Potret di Sulawesi Barat tak kalah serius. Estimasi kasus mencapai 5.051 kasus. Namun cakupan penemuan kasus baru masih 34 persen, jauh dari target nasional 80 persen. Artinya, ada lebih dari 1.800 kasus hilang yang belum ditemukan dan berpotensi menularkan kepada keluarga dan tetangga. Cakupan Terapi Pencegahan TBC (TPT) untuk kontak serumah pun baru 20 persen dari target nasional 90 persen.

Menurut Dr. Mauluddin, rendahnya capaian ini disebabkan empat hal: akses geografis yang sulit, kesadaran masyarakat yang masih rendah, stigma terhadap penderita TBC, serta sistem deteksi dan pendampingan yang belum optimal. Jawabannya adalah menggerakkan ujung tombak yang paling dipercaya di desa: Bhabinkamtibmas.

Empat Tahap Perjalanan KETUK DOORS

Inovasi ini tidak berjalan instan. Ada empat milestone yang dirancang dengan rapi.

Pertama, pada 6 sampai 19 Agustus 2026, dilakukan penguatan komitmen dan tata kelola. Tim Kerja dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Nomor Kep/33/VIII/2025, disusun SOP dan Juknis KETUK DOORS, serta dilakukan penyamaan persepsi lintas sektor antara Polda Sulbar, Dinas Kesehatan Provinsi, Dinas Kesehatan Kabupaten Mamuju, Puskesmas, dan kader TBC.

Kedua, pada 19 Agustus sampai 5 September 2026, masuk pada penguatan kapasitas, kolaborasi dan digitalisasi. Bhabinkamtibmas dilatih agar mampu berperan sebagai Agen Kesehatan, kapasitas kader TBC ditingkatkan, dan Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) milik Kemenkes dioptimalkan sebagai basis data untuk menentukan intervensi secara real time melalui dashboard.

Ketiga, pada 1 Juli sampai 15 September 2026, adalah fase inti yaitu implementasi door to door di tiga desa lokus di Kabupaten Mamuju, yakni Desa Botteng, Desa Bambu, dan Desa Topore. Di sini Bhabinkamtibmas bersama tenaga kesehatan Puskesmas melakukan patroli terpadu dari rumah ke rumah untuk skrining gejala TBC, investigasi kontak serumah, edukasi kesehatan, serta pendampingan pengobatan.

Keempat, pada 10 sampai 15 September 2026, dilakukan ekspansi, sosialisasi massal dan penyusunan dashboard kolaboratif. Pada tahap ini pula dilakukan terobosan komunikasi publik yang belum pernah ada dalam sejarah PKN, yaitu pemutaran Video Film KETUK DOORS dan Nonton Bareng Film AUTOPSY di Bioskop Cinemax Mamuju yang dihadiri 591 penonton di tiga studio sekaligus.

Hasil Nyata dalam 2,5 Bulan

Hasilnya berbicara. Dalam waktu hanya dua setengah bulan, angka-angka menunjukkan lonjakan.

Di tingkat Provinsi Sulawesi Barat, penemuan kasus TBC meningkat dari 1.743 kasus menjadi 2.488 kasus atau naik 745 kasus (43 persen). Keberhasilan pengobatan (TSR) meningkat dari 3.034 orang menjadi 3.242 orang atau naik 208 orang (6,9 persen). Cakupan TPT kontak serumah meningkat paling drastis dari 377 orang menjadi 1.268 orang atau naik 891 orang (236 persen).

Di tingkat Kabupaten Mamuju, Treatment Coverage meningkat dari 34 persen menjadi 48,6 persen atau naik 14,6 poin, dan cakupan TPT meningkat dari 20 persen menjadi 69,0 persen atau naik 49,0 poin.

Di tingkat tiga desa lokus, jumlah penerima TPT meningkat dari 4 orang menjadi 129 orang. Rinciannya, Desa Botteng dari 1 orang menjadi 5 orang, Desa Bambu dari 2 orang menjadi 7 orang, dan Desa Topore yang paling melonjak dari 1 orang menjadi 117 orang.

Apresiasi Penguji dan Coach

Penguji Dr. Agus Triyono, S.Si., M.Kes., memberikan apresiasi tinggi. Menurutnya, kekuatan KETUK DOORS ada pada basis data SITB yang akurat dan terintegrasi, sehingga intervensi bisa ditentukan dengan cepat dan tepat. Ia menilai kepemimpinan adaptif dan kolaboratif yang ditunjukkan Reformer terbukti mampu mentransformasi Bhabinkamtibmas dari penjaga keamanan menjadi garda terdepan eliminasi TBC. Inovasi ini juga dinilai sangat mendukung Asta Cita ke-4 tentang SDM Unggul.

Coach Dr. Ina Yuniati menilai KETUK DOORS efektif karena berbasis bukti, humanis, dan kolaboratif. Pendekatan door to door yang dilakukan Bhabinkamtibmas berhasil membangun kepercayaan masyarakat, sehingga warga tidak takut lagi untuk diperiksa dan berobat.

Sementara Mentor Kombes Pol. Prasetya Sejati, S.I.K., melalui video taping menyampaikan kesaksiannya. Ia melihat langsung bagaimana Dr. Mauluddin mampu mentransformasi mindset Bhabinkamtibmas menjadi agen kesehatan. Ia pun merekomendasikan inovasi ini untuk direplikasi ke seluruh Polres jajaran Polda Sulbar dan menjadi Role Model Nasional.

Ke depan, KETUK DOORS akan direplikasi ke seluruh kabupaten di Sulawesi Barat dengan strategi penguatan regulasi melalui Peraturan Gubernur, integrasi program dengan Program Polri Presisi, digitalisasi pemantauan melalui dashboard SITB real time, serta peningkatan kapasitas berkelanjutan bagi Bhabinkamtibmas dan kader kesehatan. Polda Sulbar membuktikan bahwa Polri tidak hanya hadir menjaga keamanan, tetapi juga menjaga kesehatan masyarakat menuju Sulawesi Barat Bebas TBC dan Indonesia Eliminasi TBC 2030.