Sulbar-Kaltim Jajaki Kerja Sama Sektor Pangan dan Distribusi
- account_circle mekora.id
- calendar_month 3 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Gubernur Sulbar dan Kaltim bertemu di Mamuju.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MAMUJU, Mekora.id – Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) dan Kalimantan Timur (Kaltim) mulai menjajaki kerja sama strategis di sektor pangan dan distribusi antarwilayah.
Hal itu setelah Gubernur Sulbar, Suhardi Duka, menerima kunjungan Gubernur Kaltim, Rudy Mas’ud, di Rumah Jabatan Gubernur Sulbar, Sabtu (28/3/2026).
Rudy Mas’ud hadir bersama istrinya, Syarifah Suraidah, dan disambut jajaran Pemprov Sulbar, termasuk Anggota Komisi IV DPR RI Muh. Zulfikar Suhardi, Sekda Sulbar Junda Maulana, serta sejumlah kepala OPD.
Pertemuan ini membahas peluang kerja sama, terutama pemenuhan kebutuhan pangan dan penguatan distribusi logistik.
Dalam kesempatan itu, Suhardi Duka menyampaikan Sulbar memiliki keunggulan di sektor pangan, khususnya beras, dengan surplus mencapai sekitar 75 ribu ton per tahun.
“Salah satu yang menjadi produksi Sulawesi Barat itu adalah pangan, kami surplus kurang lebih 75.000 ton. Ini banyak mengalir ke Kalimantan,” ujar Suhardi Duka.
Ia menilai distribusi beras selama ini masih bergantung pada mekanisme perdagangan antar pedagang. Karena itu, ia mendorong pola kerja sama yang lebih terstruktur, baik antar pemerintah (government to government) maupun melalui BUMD.
“Kalau ini bisa dikelola dengan baik, baik melalui kerja sama pemerintah maupun BUMD, tentu akan lebih efisien dan saling menguntungkan,” katanya.
Selain beras, Sulbar juga mulai mendorong pengembangan sektor peternakan. Dalam satu hingga dua tahun ke depan, komoditas seperti kambing diproyeksikan ikut mengalami surplus.
“Ke depan, kemungkinan kita juga surplus di sektor peternakan, terutama kambing,” tambahnya.
Suhardi menegaskan, kerja sama ini diarahkan untuk saling melengkapi kebutuhan kedua daerah tanpa semata-mata menghitung neraca untung-rugi.
“Kami sepakat untuk saling bersinergi. Apa yang bisa kita kirim ke Kalimantan dan apa yang bisa kita terima dari sana, yang penting saling bermanfaat,” ujarnya.
Sementara itu, Rudy Mas’ud mengungkapkan Kalimantan Timur masih mengalami kekurangan pasokan beras, sementara Sulbar justru memiliki kelebihan produksi.
“Sulawesi Barat surplus sekitar 75.000 ton per tahun, sementara Kalimantan Timur saat ini masih minus,” kata Rudy.
Ia menyebut kebutuhan beras di Kaltim masih defisit sekitar 55 persen. Kedekatan geografis antara kedua wilayah menjadi peluang besar untuk mempercepat distribusi.
“Sulawesi Barat dan Kalimantan Timur hanya dipisahkan oleh selat,” ujarnya.
Untuk mendukung konektivitas, salah satu opsi yang dibahas adalah penyediaan kapal cepat dengan kecepatan 25–30 knot, sehingga waktu tempuh antarwilayah dapat dipangkas menjadi sekitar 4–5 jam.
“Kita dorong agar ada kapal cepat untuk mobilisasi orang, barang, dan jasa, bahkan bisa disubsidi bersama antara pemerintah Kaltim dan Sulbar,” jelasnya.
Selain beras dan kambing, kerja sama juga berpotensi mencakup komoditas lain seperti sapi, ayam petelur, hingga material bangunan. Di sisi lain, Kalimantan Timur dapat menyuplai energi untuk kebutuhan Sulawesi Barat.
Kerja sama ini diharapkan menjadi langkah awal integrasi ekonomi kawasan yang saling menguntungkan antar dua provinsi di kawasan timur Indonesia.
- Penulis: mekora.id



Saluran Whatsapp
Google News

Saat ini belum ada komentar