Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » NEWS » Nasional » Polemik Impor 105 Ribu Mobil India untuk Kopdes Merah Putih, DPR hingga Ekonom Angkat Suara

Polemik Impor 105 Ribu Mobil India untuk Kopdes Merah Putih, DPR hingga Ekonom Angkat Suara

  • account_circle mekora.id
  • calendar_month Sabtu, 28 Feb 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

MAMUJU, Mekora.id – Rencana impor 105 ribu mobil pikap asal India untuk operasional Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih memicu gelombang kritik dari berbagai kalangan. Program yang dikaitkan dengan BUMN PT Agrinas Pangan Nusantara itu dinilai menyisakan banyak tanda tanya, mulai dari aspek pembiayaan, kesiapan industri nasional, hingga dampaknya terhadap neraca perdagangan.

BUMN tersebut tercatat mengontrak pengadaan 105.000 kendaraan niaga dengan nilai sekitar Rp24,66 triliun. Kontrak melibatkan dua produsen otomotif asal India, yakni Mahindra & Mahindra dan Tata Motors.

Sebanyak 35.000 unit Scorpio Pickup akan dipasok Mahindra. Sementara 70.000 unit lainnya berasal dari Tata Motors, masing-masing 35.000 unit Yodha Pickup dan 35.000 unit Ultra T.7 Light Truck.

Unit Sudah Masuk Bertahap

Sejumlah unit kendaraan jenis CBU (completely built up) dilaporkan telah tiba di Indonesia secara bertahap. Hingga akhir bulan ini, ditargetkan 1.000 unit sudah masuk. Untuk sementara, kendaraan tersebut disimpan di Kodim sambil menunggu kesiapan koperasi penerima.

Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota, menjelaskan bahwa keputusan impor diambil setelah negosiasi dengan produsen otomotif dalam negeri tidak mencapai titik temu, terutama dalam hal harga dan kapasitas produksi.

Menurutnya, Agrinas telah menjajaki kerja sama dengan sejumlah pabrikan besar seperti Astra International, Isuzu, Mitsubishi Motors, hingga Hino Motors. Namun, kemampuan pasokan dinilai belum mencukupi kebutuhan dalam waktu singkat.

Isuzu disebut hanya mampu memasok sekitar 900 unit, Toyota melalui model Hilux sekitar 800 unit pada periode April–Mei 2026, sementara Mitsubishi L300 sekitar 750 unit per bulan. Hino awalnya menawarkan 120 unit per bulan sebelum ditingkatkan menjadi total 10 ribu unit setelah lobi dengan prinsipal di Jepang.

Joao menyatakan bahwa persoalan utama adalah skema pembelian dalam jumlah besar yang tidak diimbangi penawaran harga borongan dari produsen dalam negeri. Ia menegaskan proses pengadaan dilakukan secara terbuka dan dilengkapi berita acara pertemuan.

DPR Minta Ditunda

Meski demikian, langkah tersebut mendapat sorotan dari Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Sufmi Dasco Ahmad. Ia meminta agar rencana impor ditunda dan menunggu arahan Presiden Prabowo Subianto yang masih berada di luar negeri.

Dasco menilai pembahasan rinci diperlukan, terutama terkait sumber anggaran, skema pembiayaan, serta layanan purna jual kendaraan agar tidak menimbulkan beban fiskal jangka panjang.

“Tentunya Presiden pada saat pulang akan membahas detail-detail mengenai impor tersebut. Dan tentunya juga presiden akan meminta pendapat dan mengkalkulasi kesiapan dari perusahaan dalam negeri. Sehingga kami sudah menyampaikan pesan untuk ditunda dulu” ujar Dasco,

Menperin: Industri Nasional Mampu

Penolakan serupa datang dari Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita. Ia menyebut kapasitas produksi pikap nasional mencapai sekitar 1 juta unit per tahun. Dengan kebutuhan Kopdes yang hanya sekitar 10–15 persen dari kapasitas tersebut, impor dinilai bukan satu-satunya opsi.

Menurutnya, bila kebutuhan dipenuhi industri dalam negeri, nilai tambah ekonomi, penyerapan tenaga kerja, hingga penguatan rantai pasok otomotif akan tetap berada di dalam negeri.

“Apabila seluruh kebutuhan kendaraan pick-up dipenuhi melalui impor, maka nilai tambah ekonomi dan penyerapan tenaga kerja akan dinikmati oleh industri di luar negeri. Namun, apabila kebutuhan tersebut dapat dipenuhi oleh industri dalam negeri, maka manfaat ekonomi, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan industri nasional juga akan dirasakan di dalam negeri,” tegas Agus, menggarisbawahi pentingnya mendukung industri lokal demi pertumbuhan ekonomi nasional.

Ekonom Ingatkan Risiko Neraca Perdagangan

Lebih jauh lagi, Ekonom Senior INDEF, Didik Rachbini, menyoroti potensi dampak negatif impor mobil ini terhadap neraca perdagangan dan neraca pembayaran Indonesia. Didik khawatir bahwa impor dalam jumlah besar akan menekan kinerja ekspor otomotif Indonesia, yang pada akhirnya dapat memperburuk kondisi perekonomian secara keseluruhan.

Ia juga mengingatkan bahwa situasi ini dapat mempengaruhi basis produksi otomotif dalam negeri yang saat ini tengah diperkuat. Kekhawatiran Didik sangatlah relevan. Neraca perdagangan yang defisit dan neraca pembayaran yang tertekan dapat memicu instabilitas ekonomi, seperti pelemahan nilai tukar rupiah dan peningkatan inflasi.

Hal ini tentu akan berdampak buruk bagi daya beli masyarakat dan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Polemik ini semakin menarik ketika Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso menyatakan bahwa impor pickup tersebut bebas atau tidak memerlukan izin persetujuan impor (PI).

Pernyataan ini seolah membuka jalan bagi PT Agrinas Pangan Nusantara untuk merealisasikan rencana impornya tanpa hambatan berarti.

Aspek Regulasi

Sementara itu, Menteri Perdagangan Budi Santoso menyatakan bahwa secara aturan, impor mobil tidak memerlukan Persetujuan Impor (PI). Artinya, dari sisi regulasi administrasi, tidak ada hambatan untuk mendatangkan kendaraan CBU.

Namun polemik yang berkembang kini bukan sekadar soal legalitas, melainkan menyentuh isu keberpihakan pada industri nasional dan dampak ekonomi jangka panjang.

“Kalau mobil kan bebas. Mobil kan tidak perlu PI, tidak perlu rekomendasi,” ujar Budi, menjelaskan bahwa regulasi yang berlaku saat ini tidak menghalangi impor mobil.

Menunggu Keputusan Final

Dengan sebagian unit sudah berada di Indonesia, pemerintah berada pada persimpangan kebijakan: melanjutkan skema impor sesuai kontrak atau mengevaluasi ulang demi menjaga keseimbangan antara percepatan pembangunan desa dan perlindungan industri dalam negeri.

Keputusan akhir akan menjadi cerminan arah kebijakan industri dan perdagangan nasional, terutama dalam konteks komitmen terhadap kemandirian ekonomi.

  • Penulis: mekora.id

Rekomendasi Untuk Anda

  • BPJS PBI Sulbar

    Mamuju Tidak Kebagian Dana BPJS PBI 2024, Fraksi Demokrat Pertanyakan Sikap Pemprov Sulbar

    • calendar_month Sabtu, 14 Okt 2023
    • account_circle mekora.id
    • visibility 297
    • 0Komentar

    MAMUJU, mekora.id – Alokasi BPJS Penerima Bantuan Iuran (PBI) untuk kabupaten di Sulbar tengah jadi sorotan Fraksi Demokrat di DPRD Sulbar. Hal tersebut lantaran dalam rancangan APBD 2024 Sulbar, Kabupaten Mamuju satu-satunya kabupaten yang tidak menerima bantuan subsidi BPJS PBI. Anggota DPRD Sulbar Fraksi Demokrat, Firman Argo Waskito, dalam pandangan umumnya menyebut Mamuju seperti dianak […]

  • Pencuri speaker sekolah di Tapalang

    Nekat Curi Speaker Sekolah Demi Beli Boje, Pria di Tapalang Mamuju Dibekuk Polisi

    • calendar_month Senin, 15 Jan 2024
    • account_circle mekora.id
    • visibility 149
    • 0Komentar

    MAMUJU, mekora.id – Seorang pria bernama Gunawan (33) di Tapalang dibekuk Polisi setelah ketahuan mencuri speaker inventaris milik SD Negeri Lembang, Kecamatan Tapalang, Mamuju, Senin (15/1/2024). Menurut keterangan Kasi Humas Polresta Mamuju, Ipda Herman Basir, kejadian tersebut bermula saat pelaku melakukan pencurian dengan mencongkel jendela sekolah pada Senin, (10/01/2024) sekitar Pukul 03.00 WITA dini hari. […]

  • Gubernur Sulbar Temui BNPB

    Dana Stimulan Gempa Tahap II Mandek, Gubernur Sulbar Temui Kepala BNPB

    • calendar_month Rabu, 7 Mei 2025
    • account_circle mekora.id
    • visibility 152
    • 0Komentar

    JAKARTA, Mekora.id – Gubernur Sulawesi Barat (Sulbar), Suhardi Duka (SDK), bertemu dengan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Mayor Jenderal TNI Suharyanto, di Jakarta untuk membahas percepatan penyaluran dana stimulan tahap II bagi korban gempa bumi 2021 di Kabupaten Mamuju dan Majene. Pertemuan tersebut merupakan bentuk komitmen Gubernur Sulbar dalam memperjuangkan hak masyarakat yang hingga […]

  • Ketua Panitia Karang Taruna Mamuju

    Tingkatkan SDM, Karang Taruna Mamuju Segera Laksanakan Bimtek Media Sosial

    • calendar_month Rabu, 3 Jul 2024
    • account_circle mekora.id
    • visibility 148
    • 1Komentar

    MAMUJU, mekora.id – Badan Pengurus Karang Taruna Kabupaten Mamuju, akan menggelar kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) pengelolaan media sosial. Bimtek itu nantinya akan di berikan pada ratusan anggota dari berbagai tingkatan Karang Taruna se-Kabupaten Mamuju. Kegiatan ini rencananya di laksanakan selama tiga hari, mulai 9 – 11 Juli 2024. Untuk Opening Ceremony dan Bimtek akan di […]

  • ABM SDK makan malam

    SDK-ABM Makan Malam di Jakarta, Isyarat Pilkada Sulbar?

    • calendar_month Rabu, 8 Mei 2024
    • account_circle mekora.id
    • visibility 187
    • 0Komentar

    MAMUJU, mekora.id – Dua tokoh politik  Sulbar, Ali Baal Masdar (ABM) dan Suhardi Duka (SDK) tertangkap kamera sedang makan malam bersama di Jakarta. Sinyal koalisi ABM-Suraidah di Pilgub Sulbar menguat. Politikus Demokrat Sulbar, Syamsul Samad membenarkan ihwal pertemuan itu. Ia juga tak membantah bahwa ada pembahasan seputar Pilkada 2024. ” Silaturahmi makan malam itu penting, […]

  • Toilet bersih di Mamuju

    Enam Sekolah di Mamuju Dapat Predikat Toilet Terbersih

    • calendar_month Minggu, 11 Feb 2024
    • account_circle mekora.id
    • visibility 162
    • 0Komentar

    MAMUJU, mekora.id  – Sebanyak enam sekolah di Kabupaten Mamuju mendapat penilaian toilet terbersih yang merupakan program dari Pemprov Sulbar. Minggu, (11/2/2024). Enam sekolah itu, yakni TK Kumala Bhayangkari, SDN Bulutakkang Simboro, SMPS IT Buah Hati, SLBN Pembina, SMA Negeri 1 Kalukku dan SMKN 1 Rangas. Hal itu merupakan salah satu keberhasilan Dinas Pendidikan Pemuda dan […]

expand_less