MAMUJU, Mekora.id – Potensi Logam Tanah Jarang (LTJ) atau rare earth elements di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, semakin menjadi perhatian pemerintah pusat di tengah meningkatnya kebutuhan dunia terhadap mineral strategis untuk industri teknologi dan energi bersih.

Pemerintah bahkan mulai menyiapkan proyek percontohan hilirisasi LTJ di Mamuju melalui PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas), perusahaan baru bentukan Danantara yang diproyeksikan menjadi pengelola pengembangan industri logam tanah jarang nasional.

Proyek tersebut diarahkan untuk mengolah ore atau bijih mineral menjadi mixed rare earth oxide, bahan bernilai ekonomi tinggi yang digunakan dalam industri kendaraan listrik, baterai, elektronik, hingga pertahanan.

Kepala Badan Industri Mineral (BIM), Brian Yuliarto, mengatakan proyek hilirisasi itu berjalan beriringan dengan proses pengurusan izin usaha pertambangan (IUP) di kementerian terkait.

“Mungkin ini yang dalam waktu dekat akan segera kita lakukan yaitu pilot teknologi hilirisasi rare earth yang ada di Mamuju,” kata Brian, dikutip dari Bloomberg, Jumat (15/5/2026).

Menurutnya, pengembangan teknologi pengolahan Logam Tanah Jarang akan memanfaatkan riset dari perguruan tinggi dalam negeri sebagai upaya memperkuat kemandirian teknologi nasional.

“Kita coba teknologi-teknologi yang sudah dikembangkan di kampus untuk mengekstraksi atau merubah dari mineral ore yang mengandung logam tanah jarang menjadi mixed rare earth oxide,” ujarnya.

Pihak Perminas juga membuka peluang kerja sama dengan sektor swasta guna memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global industri logam tanah jarang.

“Sehingga diharapkan kita bisa menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia juga menjadi pemain yang strategis untuk industri rare earth ini,” lanjut Brian.

Sementara itu, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sebelumnya telah memetakan potensi LTJ di Mamuju melalui serangkaian penyelidikan sejak 2018.

Hasil kajian tersebut dipaparkan dalam Focus Group Discussion bertajuk Potensi dan Pengelolaan Mineral Logam Tanah Jarang di Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat yang disampaikan Penyelidik Bumi Ahli Madya Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara dan Panas Bumi (PSDMBP) Badan Geologi, Moehamad Awaludin, pada 21 Maret 2024.

Dalam kajian itu disebutkan bahwa Formasi Batuan Gunung Api Adang di Kabupaten Mamuju memiliki indikasi kandungan LTJ yang cukup tinggi dan berpotensi menjadi kawasan strategis pengembangan mineral kritis nasional.

Badan Geologi kemudian mengusulkan sejumlah wilayah izin usaha pertambangan (WIUP) LTJ yang tersebar di lima blok utama di Mamuju.

Kelima blok tersebut meliputi Blok Bebanga-Ampalas seluas 8.712 hektare, Blok Mamuju 2.670 hektare, Blok Hulu Mamuju 4.087 hektare, Blok Tapalang-Rantedoda-Taan 4.010 hektare, dan Blok Tapalang-Botteng-Pangasaan-Ahu seluas 7.813 hektare. Dengan total luas areal 27.292 hektar.

Selain itu, terdapat dua blok tambahan yang juga dipersiapkan sebagai usulan WIUP, yakni Blok Takandeang dan Blok Botteng.

Berdasarkan hasil pengujian sampel, kandungan LTJ di sejumlah titik dinilai cukup signifikan. Pada Blok Takandeang, kadar LTJ dalam sampel tanah tercatat mencapai 6.012,32 ppm, sedangkan sampel batuan mencapai 3.346,52 ppm.

Sementara di Blok Botteng, kandungan LTJ tertinggi pada sampel tanah mencapai 4.803,99 ppm dan sampel batuan sebesar 2.163,43 ppm.

Badan Geologi menyebut penyelidikan tersebut bertujuan untuk memetakan sebaran LTJ, menentukan daerah prospek, sekaligus menjadi dasar rekomendasi wilayah pertambangan dan WIUP di Kabupaten Mamuju.

Dalam dokumen kajian itu, Mamuju juga disebut telah masuk sebagai salah satu kawasan greenfield LTJ nasional, bersama sejumlah daerah lain di Indonesia yang diproyeksikan menjadi pusat pengembangan mineral strategis masa depan.