Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » OPINI » Industri Kreatif di Media Sosial: Antara Citra dan Realita Sosial

Industri Kreatif di Media Sosial: Antara Citra dan Realita Sosial

  • account_circle mekora.id
  • calendar_month Rabu, 7 Jan 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh : Muhammad Fahmi Amansyah
Universitas Muhammadiyah Malang – Program Studi Ilmu Komunikasi (202310040311167)

Dalam beberapa tahun terakhir, industri kreatif semakin sering dipandang sebagai dunia kerja
yang ideal. Di media sosial, kita disuguhi potret para kreator yang hidupnya tampak bebas dan
menyenangkan: bekerja dari kafe atau rumah, mengatur jadwal sendiri, menyalurkan passion,
sekaligus mendapat pengakuan lewat likes, views, dan jumlah pengikut. Gambaran ini perlahan
membentuk kesan bahwa industri kreatif adalah simbol kebebasan, kesuksesan, dan aktualisasi diri di
era modern. (Duffy, B. E., & Hund, E. 2021).

Namun, dibalik citra yang terlihat indah tersebut, muncul pertanyaan yang tidak kalah penting
apakah realitas industri kreatif benar-benar seindah yang ditampilkan di media sosial?. (Duffy 2022)
Apakah pengalaman mayoritas pelaku kreatif memang penuh fleksibilitas dan kebebasan, atau justru
sarat dengan tekanan, ketidakpastian pendapatan, jam kerja panjang, dan minimnya perlindungan
sosial, sering kali, narasi yang beredar hanya menyoroti sisi gemerlapnya saja, sementara berbagai
persoalan struktural seperti kompetisi yang ketat, eksploitasi karya, tuntutan algoritma, hingga
kelelahan mental tertutupi oleh romantisasi. Akibatnya, masyarakat bisa memiliki ekspektasi yang
tidak realistis terhadap kerja kreatif, sekaligus mengabaikan tantangan nyata yang dihadapi para
pelakunya (Hesmondhalgh 2021).

Melalui artikel ini, pembahasan akan difokuskan pada bagaimana romantisasi industri kreatif
di media sosial membentuk opini publik, serta dampaknya terhadap cara masyarakat memandang
kerja kreatif, para kreator, dan nilai kreativitas itu sendiri apakah sebagai proses kerja yang kompleks,
atau sekadar gaya hidup yang terlihat menyenangkan di layar. (Couldry & Hepp 2020) Media sosial
kini tidak lagi sekedar menjadi alat untuk berkomunikasi, tetapi telah berkembang menjadi ruang
tempat makna dibentuk dan disebarkan. Lewat foto, video, cerita personal, serta peran algoritma yang
menentukan konten mana yang lebih sering muncul, media sosial secara perlahan membangun
gambaran bersama tentang apa itu kesuksesan, hal menarik, dan kehidupan yang patut dijadikan
panutan.

Dalam industri kreatif, gambaran yang paling sering ditampilkan adalah sisi yang indah dan
menyenangkan. Proses kerja terlihat santai, karya mendapat pujian, dan pencapaian dirayakan secara
terbuka. Sebaliknya, cerita tentang kegagalan, kelelahan, ketidakpastian penghasilan, hingga tekanan
mental jarang muncul ke permukaan. Akibatnya, publik lebih sering melihat industri kreatif sebagai
dunia kerja yang ideal, bebas masalah, dan penuh kesenangan. Situasi ini tidak lepas dari cara kerja
media sosial itu sendiri. Konten yang estetis dan menyentuh emosi positif cenderung lebih mudah
menarik perhatian dan mendapat apresiasi. (Citton 2021) Sementara itu, kisah tentang kerentanan dan
kesulitan sering dianggap kurang menarik atau tidak laku. Dengan demikian, romantisasi industri
kreatif bukan hanya pilihan pribadi para kreator, tetapi juga hasil dari sistem media sosial yang
mendorong representasi tertentu sekaligus menyingkirkan narasi lain yang lebih kompleks dan tidak
selalu nyaman untuk dilihat. (Poell, Nieborg, & van Dijck 2022)

Romantisasi industri kreatif tidak muncul begitu saja, melainkan berkaitan erat dengan
kondisi sosial yang lebih luas. Di tengah kejenuhan terhadap pola kerja konvensional yang kaku,
penuh aturan, dan hierarkis, industri kreatif hadir sebagai alternatif yang terlihat lebih manusiawi.
Bagi banyak orang, terutama generasi muda, dunia kreatif dipersepsikan sebagai ruang untuk bekerja
dengan bebas, menemukan makna, dan tetap menjadi diri sendiri.

Namun, dibalik gambaran tersebut, ada realitas yang sering luput dari perhatian. Industri
kreatif tetap berjalan dalam sistem ekonomi yang menuntut produktivitas, efisiensi, dan keuntungan.
Kebebasan yang kerap ditampilkan di media sosial sering kali tidak sepenuhnya nyata. (McRobbie, A.
2020). Banyak pekerja kreatif justru tidak memiliki batasan jam kerja yang jelas, hidup dengan
pendapatan yang tidak menentu, dan terus-menerus menyesuaikan diri dengan selera pasar serta
tuntutan algoritma platform digital. Banks, M. (2020).

Publik bukan hanya menjadi penikmat narasi romantis tentang industri kreatif, tetapi juga ikut
berperan dalam mempertahankannya. Pujian, likes, dan harapan terhadap konten yang selalu terlihat
positif mendorong para kreator untuk terus menampilkan citra ideal. Tanpa disadari, respons semacam
ini menciptakan tekanan sosial tambahan bagi pelaku industri kreatif untuk selalu tampak baik-baik
saja, meskipun realitasnya tidak selalu demikian. Selain itu, karya kreatif sering dinilai hanya dari
hasil akhirnya. Proses panjang, usaha, serta kondisi kerja yang melatarbelakanginya jarang mendapat
perhatian. Pandangan ini memperkuat anggapan bahwa kreativitas adalah sesuatu yang muncul secara
alami, seolah tidak membutuhkan kerja keras, waktu, dan energi yang setara dengan pekerjaan lain.
(International Labour Organization 2022).

Karena itu, perubahan cara pandang publik menjadi sangat penting. Ketika masyarakat mulai
menyadari bahwa industri kreatif memiliki kompleksitas, risiko, dan tantangan nyata, ruang dialog
yang lebih adil antara kreator dan publik dapat terbuka. Dari sini, apresiasi terhadap kerja kreatif tidak
hanya berhenti pada hasil, tetapi juga mencakup proses dan kesejahteraan para pelakunya (Poell, T., et
all 2022).

Romantisasi industri kreatif di media sosial adalah fenomena sosial yang tidak sederhana. Di
satu sisi, ia mampu memberi inspirasi, membuka imajinasi, dan mendorong banyak orang untuk
berani mengekspresikan diri. (Bishop, S. 2023). Narasi ini membuat industri kreatif terasa dekat,
relevan, dan penuh kemungkinan. Namun di sisi lain, romantisasi juga berisiko menutupi realitas
sosial yang sarat tantangan, ketidakpastian, dan kerentanan yang dialami banyak pelaku di dalamnya.
Menyadari adanya jarak antara citra yang ditampilkan dan realitas yang dijalani menjadi langkah awal
untuk membangun pemahaman yang lebih kritis. Publik perlu melihat kerja kreatif secara lebih utuh,
kreator berhak menghadirkan cerita yang lebih jujur tentang proses dan perjuangan, sementara
platform digital memiliki tanggung jawab untuk tidak hanya mengedepankan narasi yang indah, tetapi
juga yang manusiawi. (Oakley, K., & Banks, M. 2020)

Dengan pemahaman seperti ini, industri kreatif tidak lagi sekadar dipandang sebagai ruang
kebebasan dan estetika semata, melainkan sebagai arena kerja yang nyata. Sebuah ruang yang layak
mendapatkan apresiasi yang adil, perlindungan yang memadai, serta empati sosial terhadap mereka
yang hidup dan bekerja di dalamnya.

  • Penulis: mekora.id

Rekomendasi Untuk Anda

  • Air Terjun Sambabo

    Air Terjun Sambabo, Kekayaan Alam Mamasa Tertinggi di Sulawesi

    • calendar_month Sabtu, 9 Sep 2023
    • account_circle mekora.id
    • visibility 658
    • 2Komentar

    MAJENE, mekora.id – Jika mendengar Kabupaten Mamasa, mungkin yang terbayang adalah kesejukan negeri diatas awan atau pohon pinus yang kerap jadi tempat relaksasi pikiran warga kota. Namun tahu kah kalian disana terdapat air terjun Sambabo. Ya air terjun Air Terjun Sambabo merupakan surga tersembunyi yang memiliki panorama yang khas, disanalah kamu akan mendapati Air terjun […]

  • Hanura Mamuju

    Hanura Serahkan Rekomendasi Cakada Mamuju Untuk Sutinah

    • calendar_month Rabu, 19 Jun 2024
    • account_circle mekora.id
    • visibility 145
    • 2Komentar

    MAMUJU, mekora.id – Partai Hanura Kabupaten Mamuju menyerahkan surat rekomendasi sebagai bakal calon kepala daerah (Cakada) kepada Bupati petahana, Sutinah Suhardi. Penyerahan itu dilakukan langsung oleh pengurus DPC, di Mamuju, pada, Selasa (18/6/2024) kemarin. Ketua DPC Hanura Kabupaten Mamuju, Mervie Parasan mengatakan, surat rekomendasi yang diserahkan ke Sutinah itu telah ditanda tangani oleh ketua Umum […]

  • Tambang pasir Sungai lariang

    Lima Perusahaan Tambang di Sungai Lariang Dilaporkan ke Polda Sulbar Atas Dugaan Kejahatan Lingkungan

    • calendar_month Sabtu, 6 Des 2025
    • account_circle mekora.id
    • visibility 732
    • 0Komentar

    MAMUJU, Mekora.id — Lima perusahaan tambang pasir yang beroperasi di Sungai Lariang, Kecamatan Tikke Raya dan Lariang, Kabupaten Pasangkayu, dilaporkan ke Direktorat Reskrimsus Polda Sulawesi Barat, pada Jumat, (5/12/2025), atas sejumlah dugaan kejahatan lingkungan, Laporan itu dilayangkan oleh Lembaga advokasi Tomakaka Justice Indonesia (TJI), mereka mengatakan laporan tersebut buntut sejumlah aktivitas pertambangan yang diduga ilegal, […]

  • Reses Khalil Qibran di Tapalang

    200 Orang di Tapalang Hadiri Reses M. Khalil Qibran, Keluhkan Harga Nilam

    • calendar_month Kamis, 20 Feb 2025
    • account_circle mekora.id
    • visibility 164
    • 0Komentar

    MAMUJU, Mekora.id – Kurang lebih 200 orang masyarakat di Desa Kasambang, Kecamatan Tapalang, Kabupaten Mamuju, menghadiri Reses (Kunjungan Kerja) Anggota DPRD Sulawesi Barat (Sulbar), M. Khalil Qibran, pada Rabu, (19/2/2025). Dalam Reses ini tercipta dialog bersama, Anggota Fraksi partai Golkar, M. Khalil Qibran, banyak menerima aspirasi.  Masyarakat Kasambang mengaku risau dengan tidak stabilnya harga nilam. […]

  • Pj Gubernur Sulbar, Zudan Arif Fakrulloh

    Jelang Akhir Masa Jabatan, Pj Gubernur Sulbar Rombak 239 Pejabat Fungsional

    • calendar_month Kamis, 9 Mei 2024
    • account_circle mekora.id
    • visibility 105
    • 0Komentar

    MAMUJU, mekora.id – Menjelang berakhirnya masa jabatan Penjabat (Pj) Gubernur Sulbar, Zudan Arif Fakrulloh pada 12 Mei 2024. Sebanyak 239 pejabat fungsional dirombak. Pelantikan itu digelar di Kantor Gubernur Sulbar, pada, Rabu, (8/5/2024). Zudan Arif Fakrulloh mengatakan, pelantikan itu sebagai jalan meniti karir bagi pejabat fungsional di Pemprov Sulbar. Untuk itu dia berpesan agar para […]

  • Pemprov Sulbar Buka Pos Balita di Kompleks Perkantoran, Dukung Program PASTI PADU dan Prioritaskan SDM Unggul

    Pemprov Sulbar Buka Pos Balita di Kompleks Perkantoran, Dukung Program PASTI PADU dan Prioritaskan SDM Unggul

    • calendar_month Jumat, 20 Feb 2026
    • account_circle Beye
    • visibility 131
    • 0Komentar

    MAMUJU, Mekora.id – Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat menggelar layanan Pos Balita di halaman Kantor Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Sulbar, Jumat (20/2/2026). Program ini menjadi langkah konkret mendukung inisiatif PASTI PADU yang digagas Pemprov Sulbar sekaligus implementasi Panca Daya ke-3 yaitu membangun sumber daya manusia yang unggul dan berkarakter yang menjadi prioritas […]

expand_less