GMNI Kritik Ketergantungan Investasi Asing, Minta Hilirisasi Perkuat Industri Dalam Negeri
- account_circle mekora.id
- calendar_month Jumat, 9 Jan 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ketua DPP GMNI Bidang Hubungan Industri dan Hilirisasi, Prima Dwi Dzaldi,
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Persoalan lain yang dikritisi GMNI adalah hubungan industrial. Praktik upah murah, minimnya peningkatan kompetensi tenaga kerja lokal, serta lemahnya perlindungan buruh di kawasan industri hilirisasi dinilai berpotensi melahirkan ketimpangan baru.
“Hilirisasi tidak boleh dilepaskan dari prinsip kerja layak. Jika buruh hanya menjadi penopang produksi yang eksploitatif, maka hilirisasi tidak berpihak pada rakyat,” kata Prima.
Selain itu, GMNI menilai keterlibatan UMKM dan industri kecil-menengah dalam rantai pasok hilirisasi masih sangat terbatas. Fragmentasi rantai pasok membuat hilirisasi hanya menguntungkan segelintir korporasi besar dan gagal menjadi lokomotif pemerataan ekonomi.
Aspek lingkungan juga menjadi sorotan. Ekspansi industri nikel dan perkebunan sawit di berbagai daerah dinilai berkontribusi terhadap deforestasi, pencemaran lingkungan, dan tekanan sosial bagi masyarakat lokal. Minimnya standar keberlanjutan disebut berisiko melahirkan krisis ekologis jangka panjang.
Berdasarkan kajian tersebut, DPP GMNI menyampaikan sejumlah rekomendasi strategis, mulai dari mengarahkan hilirisasi pada penguatan kedaulatan industri dan teknologi nasional, memperkuat peran BUMN sebagai pengendali rantai pasok, hingga mewajibkan transfer teknologi yang konkret dan terukur. GMNI juga mendorong jaminan hubungan industrial yang adil, keterlibatan UMKM, serta menjadikan keberlanjutan lingkungan dan sosial sebagai indikator utama keberhasilan hilirisasi.
Di akhir pernyataannya, Prima menegaskan bahwa hilirisasi harus kembali berpijak pada nilai Trisakti Bung Karno.
“Jika hilirisasi tidak mengubah struktur ketergantungan ekonomi, maka yang dibangun bukan industrialisasi nasional, melainkan kolonialisme ekonomi dalam wajah baru,” pungkasnya.
- Penulis: mekora.id


Saluran Whatsapp
Google News
