Dialog Tokoh Sulbar : Masih Adakah Pemimpin Ideal Masa Kini?
- account_circle mekora.id
- calendar_month Kamis, 18 Jul 2024
- comment 0 komentar
- print Cetak

Dialog kepemiluan KPU Sulbar dan Wacana Info di Mamuju.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MAMUJU, mekora.id – Menghadapi Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) serentak pada 27 November 2024 mendatang, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Sulawesi Barat (Sulbar) bersama media massa Wacana Info, melaksanakan dialog publik dengan tema “Membincang Karakter Ideal Pemimpin Daerah” di Ngalo Rock Cafe, Jl. Andi Makkasau, Mamuju, Rabu 17 Juli 2024 malam.
Dialog itu diisi oleh Narasumber tokoh agama, Sayyid Ahmad Fadlu Al Mahdaly, Akademisi Rektor Unika Mamuju, Sahril, Dosen Politik Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar), Muhammad, dan Ketua KPU Sulbar, Said Usman Umar. Yang dipandu oleh Ustadz Nur Salim Ismail selaku moderator.
Ketua KPU Sulbar, Ketua KPU Sulbar, Said Usman Umar mengatakan, kehadiran narasumber dari tokoh agama, Sayyid Ahmad Fadlu Al Mahdaly, Akademisi Rektor Sahril, Dosen Politik Universitas Sulawesi Barat (Unsulbar), Muhammad, serta Ustadz Nur Salim Ismail selaku moderator. Diharapkan mampu memberikan edukasi pada masyarakat untuk memilih pemimpin yang ideal.
“Kita ingin lebih condong pada pembangunan kesadaran politik masyarakat. Makanya, hari ini dihadirkan tokoh agama, akademisi, dosen politik, untuk memberikan kecerdasan kepada masyarakat. Tupoksi kami hanya persoalan di prosedural itu. Kita tidak akan bisa menentukan bahwa calon ini yang ideal, makanya diserahkan sepenuhnya kepada pihak agamawan dan akademisi,” tandasnya.
Hal itu juga selaras dengan tagline “BARANI” KPU Sulbar dalam menghadapi Pilkada 2024. Kata Said, tagline itu menggambarkan keberanian untuk memilih pemimpin, berani menolak politik uang.
“Slogan Pilkada Sulbar “BARANI” merupakan penggabungan dari kata Berbudaya, Aman, Ramah, dan Melayani,” kata Said Usman Umar.
Tokoh agama, Sayyid Ahmad Fadlu Al Mahdaly, dalam pandangannya mengatakan, saat ini mencari pemimpin ideal sukar dilakukan. Hal itu dikarenakan, selalu ada orang dengan kepentingan yang berbeda-beda tidak akan terpuaskan.
“Jangan-jangan yang kita bincangkan ini hanyalah semacam ilusi, kenapa hal itu karena ideal itu hal yang subjektif. Karena saat ini orang akan merasa lebih aman dan tertarik ketika ada yang memberi mereka rasa aman dan membuat lapar mereka hilang,” ungkap tokoh agama yang akrab disapa Annang Guru itu,
Annang Guru mengatakan, ketika dia menentukan pemimpin, yang dia lihat adalah seberapa besar cinta yang ada dalam dirinya. Menurutnya karena cinta itulah yang menggerakan semuanya. Bagaimana pemimpin mencintai rakyatnya.
“Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang mempunyai cinta dalam dirinya, dimana bukan hanya mencintai dirinya dan keluarganya, tapi mencintai orang lain. Karena cintalah melahirkan karakter-karakter yang baik untuk bermanfaat bagi orang lain,” jelasnya.
Sayyid Ahmad Fadlu Al Mahdaly mencontohkan, ketika ada orang terdepan dalam membela orang terzalimi, maka itulah pemimpin ideal.
“Rasulullah selalu berdiri paling terdepan membela yang hak-hak terzalimi, kalau ada pemimpin yang berani melakukan itu. Maka itulah pemimpin ideal menurut saya,” tambah Sayyid Fadlu.
Sementara, Rektor Unika, Sahril menyampaikan, untuk menentukan saat ini kebanyakan figur yang lebih cenderung menyukai hal praktis. Kata dia, hal itu dibuktikan dengan munculnya figur-figur yang lebih menyukai melawan kotak kosong.
“Sekarang ini, kebanyakan figur tidak lagi berani. Kenapa lebih cenderung menyukai melawan kotak kosong?. Jadi gagasan yang akan kita dapatkan itu tidak lagi bisa bervariasi, tetapi lebih monoton,” kata Sahril.
Sahril mengatakan, untuk menentukan pemimpin ideal, mesti dilihat dari kapabilitas dan kebijaksanaan. Karena dari kebijaksanaan itulah semuanya sumber kebaikan akan muncul.
“Sebesar apapun calon pemimpin itu ditentukan oleh kebijaksanaan, sebab kebijakan itulah yang nantinya akan menjadi ruang bagi semua,” kata Sahril.
Sedangkan, Dosen Politik Unsulbar Muhammad menuturkan, Pilkada itu bukan momentum pada saat hari pencoblosan, ada tahapannya dan tahapan ini harus dikawal. Peran masyarakat penting selalu memantau agar hasilnya melahirkan kepala daerah yang betul-betul mampu membawa seluruh kabupaten di Sulbar sebagai provinsi mengejar banyak ketertinggalan dari daerah lain yang jauh lebih maju.
“Kita mendorong menjelang pendaftaran para calon tidak diwarnai dengan politik transaksional di tingkat partai. Bagaimana ada mahar politik untuk membawa rekomendasi. Karena kebelakang akan berimbas bagaimana kos politik yang besar dikeluarkan calon,” tegasnya.
Sehingga, penting mendorong peran Bawaslu karena sudah diatur PKPU bahwa money politik di proses pengusungan bakal calon jadi calon oleh partai itu penting diawasi bukan hanya bawaslu tapi masyarakat, mahasiswa hingga media.
“Bukan hanya bicara karakter idealnya, tapi bagaimana proses yang ada betul-betul bisa dikawal secara ideal, sehingga outputnya yang dihasilkan ini baik seluruh kabupaten dan Sulbar,” tutupnya.
Diskusi ini dihadiri oleh puluhan mahasiswa dari berbagai kampus dan lembaga, serta puluhan media massa.
- Penulis: mekora.id

Saluran Whatsapp
Google News
