Tokoh Adat Mappurondo Hingga MLKI Soroti Penggunaan Tarian Sakral “Mangngajo” di Acara GPIT
- account_circle mekora.id
- calendar_month Rabu, 8 Nov 2023
- comment 1 komentar
- print Cetak

Potongan gambar vidio Tarian Mangngajo dalam penyambutan Pj Bupati Mamasa di Sidang Tahunan GPIT di Lakahang, Mamasa.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MAMASA, mekora.id – Acara Penyambutan Penjabat (Pj) Bupati Mamasa pada Sidang Tahunan Gereja Protestan Indonesia Timur (GPIT) di Lakahang, Kecamatan Tabulahan, Kabupaten Mamasa pada Senin (6/11/2023) tuai sorotan dari tokoh adat Mappurondo.
Dalam video berdurasi 30 detik yang beredar di media sosial, seseorang orang terlihat sedang melakukan tarian “Mangngajo”. Tarian tersebut sangat identik dengan tarian sakral untuk ritual penghayat kepercayaan adat Mappurondo di Wilayah 3 Mamasa.
Dalam tarian “Mangngajo” biasanya dilakukan oleh seseorang menggunakan mahkota tanduk kerbau dengan memegang alat musik sejenis Tamborin lalu diiringi gendang yang berbunyi khas.
Ketua MLKI (Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia) Sulawesi Barat, Cakdi Muliadi, menayangkan hal tersebut. Pasalnya kata Cakdi, tarian tersebut merupakan hal sakral yang tidak boleh dilakukan sembarang.
Cakdi Muliadi mengatakan, sakralnya makna yang terkandung dalam tarian itu sehingga tidak boleh sembarang dilakukan. Terlebih jika dilakukan oleh orang diluar tradisi adat Mappurondo.
“Kegiatan sambutan yang mereka lakukan adalah ritual kami, yang harus ditegur apalagi kalau mereka bukan penganut kami. Sebab kita harus menilai makna-makna yang terkandung dalam kegiatan sambutan mereka. Kalaupun ada ya kita katakan ini sudah melanggar,” tutur Cakdi Muliadi, Rabu (8/11/2023).
Selain MLKI, Tokoh adat dan pemuda Penghayat kepercayaan adat Mappurondo juga menyoroti hal itu.
Tokoh adat Mappurondo, Sarlis DP mengatakan, tarian Mangngojo sebagai salah satu kebudayaan asli Mamasa, merupakan warisan yang telah dijaga dengan sakral turun-temurun oleh adat Mappurondo.
“Kami rasa bahwa acara sambutan dengan menggunakan tarian khas milik Ada’ Mappurondo (Mangngajo) yang dilakukan oleh GPIT di lakahang adalah tarian ritual milik Mappurondo. Karena tidak dipungkiri ada banyak budaya di kabupaten Mamasa yang umum bisa dipakai dan ada memang budaya ritual yang diwariskan dari nenek moyang pitu ulunna salu yang dilestarikan dan dijaga oleh penganut penghayat kepercayaan Ada’ Mappurondo hingga saat ini,” tutur Sarlis.
Untuk itu Sarlis menyebut, masyarakat Mamasa khususnya di Pitu Ulunna Salu perlu memahami lebih lanjut tentang budaya ritual yang dimiliki adat Mappurondo sehinggat tidak mengganggu ketemtraman sesama penganut agama dan kepercayaan.
“Banyak masyarakat Pitu Ulunna Salu bahkan masyarakat kabupaten Mamasa belum paham budaya ritual yang dimiliki oleh Penghayat Kepercayaan Ada’ Mappurondo terkhusus bagi pemeluk Agama. Padahal budaya ritual yang diyakini oleh penganut Ada’ Mappurondo yang turun-temurun diwariskan oleh nenek moyang,” sambung Sarlis.
Dengan adanya hal tersebut, tokoh adat Mappurondo ini menilai GPIT telah menodai kesakralan Adat Mappurondo.
“Masyarakat penganut Penghayat Kepercayaan merasa ternodai dan akan menindak lanjuti apa yang dilakukan pada kegiatan acara penyambutan Pj Bupati Mamasa oleh GPIT Jemaat Mentari Lakahang,” ungkapnya.
Saat ini redaksi mekora.id belum melakukan konfirmasi pada pengurus GPIT perihal penggunaan tarian “Mangngajo” di Lakahang.
Demi kesinambungan Informasi, redaksi mekora.id akan berupaya melakukan konfirmasi pada pihak terkait.
- Penulis: mekora.id


Saluran Whatsapp
Google News
