Scroll untuk baca artikel
GaleriSejarah

Resensi Buku :  Jejak dan Cerita Para Pemimpin Daerah Sulbar

×

Resensi Buku :  Jejak dan Cerita Para Pemimpin Daerah Sulbar

Sebarkan artikel ini
Dr. Drs. H. Muh. Dahlan Abubakar, M.Hum
Dr. Drs. H. Muh. Dahlan Abubakar, M.Hum

Prof.Dr.Basri Hasanuddin, M.A. yang juga menorehkan pengantar menulis, buku ini pastilah merupakan karya dari sebuah cita-cita mulia, kerja sungguh-sungguh, dan fokus untuk mencoba memahami upaya-upaya sistematik yang telah dilakukan oleh para bupati/kepala daerah pada zamannya. Para pemimpin daerah yang ada di dalam buku ini adalah mereka yang lahir dari format demokrasi pada masanya. Yang mungkin melalui format demokrasi terpimpin ketika para pemimpin dipilih ole DPRD dan bukan dari hasil produk pemilihan langsung.

Pejabat Gubernur Sulawesi Barat Prof.Dr.Zudan Arif Fakhrulloh, S.H.,M.H. mengapresiasi karya Sarman Sahuding yang sangat informatif, sarat muatan sejarah dan data autentik mengenai kepemimpinan para bupati di Sulawesi Barat dalam rentang waktu 63 tahun.

Advertisement

Menteri Dalam Negeri H.Mochammad Ma’ruf (2006) yakin karya penulis ini bagi pejabat publik yang sedang bertugas di daerah mana pun di Indonesia dapat mengambil hikmah dari pengalaman-pengalaman para pemimpin di dalam buku ini.

“Saya yakin buku ini akan dapat memotivasi para Pamong bekerja keras dengan visi yang jelas, taat kepada aturan dan jujur,” tulis Mochammad Ma’ruf.

Buku ini berisi rekam jejak para bupati enam kabupaten di Sulawesi Barat antara tahun 1960 hingga 2023. Satu rentang waktu yang cukup panjang, 63 tahun.

Dimulai dengan Kabupaten Mamasa yang mulai terbentuk pada tahun 2002 dan dipimpin pertama kali oleh Drs.H.M.Said Saggaf, M.S dengan motto mengembangkan Kepemimpinan IBU. Disusul Drs.Obednego Depparinding, M.H. (2008-2011) yang dilabeli “tokoh Mamasa yang tenang dan berkarisma”, dan Dr.H.Ramlan Badawi, M.H., dengan ‘tagline’ terlahir miskin di kampung, memimpin kabupaten ini selama 12 tahun (2011-2023).

H. Andi Hasan Manggabarani memimpin Kabupaten Polewali Mamasa (Polmas) pada tahun 1960-1965, sekaligus membuka tabir kabupaten baru. Kolonel (Purn.) Abdullah Madjid melanjutkan kepemimpinan di kabupaten ini pada tahun 1966 hingga 1979 yang dijuluki sebagai pencetus awal Tri Konsepsi. Kolonel (Purn.) H.Said Mengga dengan label “jalan panjang sebuah pengabdian’ memimpin kabupaten ini tahun 1980-1990. Drs.H.Andi Kube Dauda, M.Si. Pada tahun 1990 hingga 1995 melanjutkan tugas memimpin daerah ini dengan motto ‘senja mengukir di atas ilmu”. Kol. (Purn.) Andi Saad Pasilong (1995-1997) meskipun singkat tapi berkomitmen ingin memajukan daerah. Kol.(Purn.) Hasyim Manggabarani dengan semangat “membangun pluralisme kebangsaan” memimpin antara tahun 1998-2003. Drs.H.Ali Baal, M.Si. selama 9 tahun (2004-2013) memimpin Polmas dengan semangat “kepala suku memimpin kabupaten”. H.Andi Ibrahim Masdar dengan “energi baru memimpin Mandar” selama 10 tahun (2013-2023).

Majene sejak 1960 hingga 2023 dipimpin oleh 14 bupati/kepala daerah. Prof.Dr.Baharuddin Lopa, S.H. ketika memimpin Kabupaten Majene tahun 1960 sebagai nakhoda pertama, baru berusia 25 tahun. Jika orang berbicara sosok bupati, Lopa selalu dikenang — selain integritas dan disiplin yang tiada bandingannya — sebagai bupati termuka di Sulawesi Selatan. Pangdam XIV Hasanuddin Brigjen M.Jusuf menunjuk Lopa memimpin Majene guna mengantisipasi Andi Selle yang desersi bersama sejumlah anggota pasukannya. Lantaran M.Jusuf mendengar menjadi sasaran pembunuhan, Lopa akhirnya ditarik kembali setelah tak cukup setahun menjabat Bupati Majene. Lopa kembali ke instansi awalnya, kejaksaan. Kisah luar biasa Lopa dalam kariernya sebagai penegak hukum, banyak terungkap di dalam buku ini. Jadi, sangat patut dibaca.

Lopa kemudian digantikan Andi Tonra yang memimpin dua tahun (1960-1962), mewarisi sikap Lopa, kukuh pada kebenaran. Kol. (Purn.) Abdul Rahman Tamma juga memimpin tidak terlalu lama, tiga tahun (1962-1965) yang dijuluki penulis dengan “perahu kian menepi, perjuangan pun berakhir”. Tugasnya pun dilanjutkan Kol. (Purn.) Abdul Rauf yang juga memimpin hanya 2 tahun (1965-1967) yang memiliki kenangan “Abdi republik untuk Mandar”. Abdul Malik Pattana Endeng memimpin cukup singkat, 1967-1970, dengan ‘tagline’ “kalau bintang menyinari Mandar”. Abd.Rasyid Sulaiman, S.H. memimpin Majene 1970-1975 sebagai jaksa yang bersahaja. Brigjen (Purn.) Alim Bachrie memimpin dua periode (1975-1985) yang mulai memberi warna daerah ini dengan semangat “sebuah nama melintasi zamannya”.

Drs.Andi Burhanuddin, M.M. memimpin Majene 1985-1990 yang mengusung motto “selalu terbaik, buah kerja keras”. Drs.H.Mustar Lazim melanjutkan kepemimpinan daerah ini pada tahun 1990-1995 sebagai seorang pamong senior kilau di ujung Nusantara. Drs.Tadjuddin Noor, M.M. menjabat pada tahun 1995-2001 memimpin dengan semangat “bunga ditanam harum dipetik”. Drs. H.Muhammad Darwis menakhodai Majene tahun 2001-2006, pengabdian lima tahun yang melelahkan. Dia digantikan H.Kalma Katta, S.Sos., M.M. yang menjabat dua periode (2006-2011 & 2011-2016) yang memimpin dengan “mengokohkan ‘assalamalewuang Majene”. Dr. H. Fahmi Massiara memimpin Majene tahun 2016-2020), meskipun singkat tegas memimpin, sederhana dalam keseharian. H.A.Achmad Syukri, S.E.,M.M. dan Arismundar Kalma, S.STP, M.M. berduet memimpin Majene tahun 2021-2024) sebagai penerus semangat “assamalewuang bersendikan religi”.

Mamuju, seperti juga Majene, termasuk daerah yang lebih dulu ada ketika masih bergabung dengan Provinsi Sulawesi Selatan. Tidak heran banyak sosok yang memimpin daerah ini. Kapten Andi Paccoba Amrullah (1960-1964) yang hadir di tengah desiran peluru dan kondisi yang masih terisolasi. Abdul Madjid Pattaropora (1965-1969), pemimpin yang satunya kata dengan perbuatan. Mayor Inf.(Anumerta) Abdul Wahab Azazi pada tahun 1969 memimpin daerah ini,”telah gugur sang bunga bangsa”.

Kol.(Purn.) Hapati Hasan selama sepuluh tahun (1969-1974 &1974-1979) memimpin Mamuju dan dijuluki sebagai “The founding fathers Mamuju”. Berprinsip “pengabdian untuk rakyat, Kol. (Purn.) Atiek Sutedja yang dari pasukan Resimen Para Komando Angkatan Dasar (RPKAD) yang legendaris itu, memimpin Mamuju pada tahun 1979 hingga 1984. Atiek Sutedja merupakan bupati pertama yang menginjakkan kakinya di Kalumpang dua tahun setelah memimpin Mamuju. Kol. (Purn.) Musa Karim (1984-1989) memerintah dengan prinsip “di mana kaki berpihak, di situ bumi dijunjung”. Brigjen (Purn.) Djuritno menakhodai Mamuju 1989-1994 yang memimpin “hari ini sumber inspirasi segalanya”. Kol. (Purn.) Nurhadi Purnomo memimpin 1994-1999 dengan tekad “Mamuju masa depan Sulsel”. “Merajut masa depan Mamuju, diusung H.Almalik Pababari saat memimpin Mamuju tahun 2000-2005.

Dr.H.Suhardi Duka, M.M. memimpin Mamuju selama dua periode, 2005-2010 & 2010-2015 dengan motto “pedati kini berputar ke atas”. Drs.H.Habsi Wahid, M.M.–H.Irwan SP Pababari, S.H.,M.Si. Memimpin selama lima tahun (2015-2021) dengan semangat “inspirasi speeboat dari Budong-Budong. Hj.Sitti Sutinah Sukardi, S.H.,M.Si. melanjutkan jejak suaminya memimpin Mamuju pada tahun 2021-2024.

Mamuju Tengah yang baru terbentuk tahun 2016, dipimpin pertama kali oleh duet M.Aras Tamauni- H.M.Amin Jasa antara tahun 2016-2021 & 2021-2024) sebagai “perintis Tobadak tonggak pertama di bumi Lalla ‘Tassisara’.

Kabupaten Mamuju Utara/Pasangkayu pada awal kehadirannya dipimpin Ir.H.Abdullah Rasyid, M.M., alumni Unhas, selama lima tahun (2005-2010) yang dijuluki ‘sang penyangga deklarasi Matra’. Dr.H.Agus Ambo Djiwa melanjutkan kepemimpinan bupati pertama pada periode 2010-2015 & 2015-2020) yang dinilai sebagai ‘pejuang muda terdepan pemimpin di utara’. H.Yaumil Ambo Djiwa, S.H. menjabat Bupati Mamuju Utara tahun 2021-2024 yang disebut-sebut pemimpin mengakar dari desa ke puncak Pasangkayu.

Buku ini dikunci dengan epilog Drs. Akmal Malik, S.Si. dan komentar 31 tokoh.

Tinggalkan Balasan