Kebakaran Dahsyat di Los Angeles Jadi yang Termahal Sepanjang Sejarah Amerika Serikat
- account_circle mekora.id
- calendar_month Selasa, 14 Jan 2025
- comment 0 komentar
- print Cetak

Kebakaran dasyat di Los Angelas, Amerika Serikat. (Foto : Istimewa)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MAMUJU, Mekora.id – Jumlah korban meninggal dunia akibat kebakaran di Los Angeles, Amerika Serikat, bertambah menjadi 16 orang. Peneliti iklim dan atmosfer dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Erma Yulihastin, menyebutkan bahwa kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Los Angeles adalah fenomena anomali.
Dalam sepekan terakhir, masyarakat dunia dikejutkan oleh berita kebakaran di Negeri Paman Sam. Kebakaran pertama kali dilaporkan terjadi pada Selasa (7/1/2025) pagi waktu setempat di Pacific Palisades, kawasan Los Angeles County, sebelah timur Malibu, Amerka Serikat.
Kebakaran terbesar, di Palisades, telah melahap lebih dari 23.000 hektare lahan. Meskipun ribuan petugas pemadam kebakaran berhasil mengendalikan sekitar 11 persen dari kebakaran tersebut, situasinya tetap kritis.
Kini kebakaran telah menyebar ke lingkungan Mandeville Canyon, yang memicu perintah evakuasi untuk sebagian besar wilayah Brentwood, sebuah kawasan elite yang menjadi tempat tinggal tokoh-tokoh terkenal seperti Arnold Schwarzenegger, CEO Disney Bob Iger, dan bintang NBA LeBron James.
Kerugian Ribuan Triliun
Mengutip BBC, Kepala Pemadam Kebakaran Kota LA, Kristin Crowley, pada Minggu (12/1/2025) mengatakan bahwa petugas pemadam kebakaran sedang melakukan “segala upaya” untuk menghentikan penyebaran api.
Kebakaran terus bergerak ke arah timur, mengancam lingkungan eksklusif Brentwood, termasuk Getty Center, museum seni terkenal di dunia yang kini telah mengevakuasi stafnya. Getty Center menyimpan lebih dari 125.000 karya seni, termasuk karya-karya dari Van Gogh, Rubens, Monet, dan Degas.
Kebakaran di Pacific Palisades menjadi yang terparah dalam sejarah Los Angeles. Lebih dari 12.000 bangunan dilaporkan hangus terbakar, sementara lebih dari 150.000 warga terpaksa mengungsi.
Hingga Minggu waktu setempat, jumlah korban meninggal akibat kebakaran hutan di Los Angeles meningkat menjadi 16 orang. Lima kematian dilaporkan terkait dengan kebakaran Palisades, dan 11 lainnya akibat kebakaran Eaton, sebagaimana dikonfirmasi oleh kantor pemeriksa medis Kabupaten Los Angeles.
- Kebakaran di Los Angeles (Foto : Philipcheungphoto)
Kebakaran ini diproyeksikan menjadi salah satu bencana termahal dalam sejarah Amerika Serikat. Menurut AP News, kerugian diperkirakan mencapai 135 miliar dolar AS (sekitar Rp2.202 triliun) hingga 150 miliar dolar AS (sekitar Rp2.447 triliun). Sebagai perbandingan, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia 2025 sebesar Rp3.621,3 triliun.
Kepala Meteorology Accuweather, Jonathan Porter, menjelaskan bahwa kebakaran ini berpotensi menjadi yang termahal dalam sejarah modern AS. Estimasi kerugian mencakup berbagai faktor, seperti kerusakan properti, infrastruktur, kendaraan, biaya kesehatan, kehilangan upah, hingga gangguan rantai pasokan.
“Api yang bergerak cepat dan didorong oleh angin ini telah menciptakan salah satu bencana kebakaran hutan paling mahal dalam sejarah modern AS,” kata Porter.
Sementara itu, broker asuransi Aon PLC menyebut bahwa kebakaran di Amerika Serikat ini akan melampaui Camp Fire 2018, yang sebelumnya menjadi kebakaran termahal dengan kerugian 12,5 miliar dolar AS (sekitar Rp203,9 triliun) dan menewaskan 85 orang.
Sejumlah ahli memperkirakan butuh waktu beberapa bulan untuk menghitung total kerugian secara konkret. Menurut Porter dari Accuweather, kerugian kemungkinan akan terus bertambah.
Fenomena Anomali
Hingga kini, penyebab pasti kebakaran dahsyat di Los Angeles belum diketahui. Namun, sejumlah pakar mencoba mengurai alasan mengapa kebakaran ini sulit dijinakkan, meskipun terjadi di musim dingin.
Perubahan iklim yang semakin pesat disebut sebagai salah satu penyebab ganasnya api yang melahap sejumlah wilayah California Selatan. Direktur Pusat Penelitian Kebakaran Liar Universitas Swansea, Stefan Doerr, mengatakan bahwa musim kebakaran di California telah diperpanjang secara signifikan selama beberapa dekade terakhir.
“Beberapa penelitian telah menunjukkan secara meyakinkan bahwa musim kebakaran di California kini lebih panjang dibandingkan sebelumnya,” ujar Doerr kepada Anadolu Agency.
Para ahli juga memperingatkan bahwa kebakaran hutan di musim dingin dapat lebih sering terjadi pada tahun-tahun mendatang, seiring dengan percepatan perubahan iklim global.
Peneliti iklim dan atmosfer dari BRIN, Erma Yulihastin, dalam unggahan di akun media sosial X, menyebut adanya fenomena anomali.
Erma menjelaskan bahwa kebakaran hutan dan lahan yang menghanguskan puluhan ribu rumah ini biasanya dipicu oleh hembusan angin Santa Ana. Angin ini memiliki sifat kering dan dapat membakar dedaunan kering saat bertiup.
“Normalnya, angin Santa Ana, yang dipicu oleh sistem tekanan tinggi di California, terjadi saat musim panas. Namun, jika angin ini terjadi di musim dingin seperti Januari, maka ini benar-benar anomali bahkan penyimpangan iklim,” ujar Erma.
Erma menambahkan, angin Santa Ana umumnya berasal dari Great Basin, sebuah wilayah dataran luas gurun yang membawa udara panas dan kering.
“Meskipun sekarang musim dingin, suhu mencapai 27 derajat Celsius di kawasan hutan Angeles, menandakan bahwa titik-titik api telah terbentuk,” jelasnya.
(Sumber : VOA Indonesia)
- Penulis: mekora.id



Saluran Whatsapp
Google News
