AJI Mandar Soroti Ruang Ekspresi yang Menyempit di Peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia
- account_circle mekora.id
- calendar_month 3 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Mimbar bebas AJI Mandar di Depan Stadion Prasamya Mandar, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MAJENE, Mekora.id – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Mandar menyoroti semakin menyempitnya ruang kebebasan berekspresi di Indonesia. Keprihatinan tersebut disampaikan dalam aksi damai dan mimbar bebas memperingati Hari Kebebasan Pers Sedunia, Minggu (3/5/2026), di Plataran Stadion Prasamya Mandar, Kabupaten Majene, Sulawesi Barat.
Aksi yang diikuti puluhan peserta dari kalangan mahasiswa, organisasi masyarakat sipil, dan komunitas ini menjadi wadah untuk menyuarakan berbagai persoalan demokrasi, kebebasan pers, hingga ancaman terhadap ruang sipil.
Koordinator aksi yang juga Ketua Divisi Gender, Anak, dan Kelompok Marginal AJI Kota Mandar, Harmegi Amin, menegaskan bahwa kondisi kebebasan berekspresi saat ini semakin memprihatinkan. Menurutnya, kritik terhadap kekuasaan kerap dibalas dengan intimidasi, ancaman, hingga teror.
“Kita sangat prihatin, saat ini ruang ekspresi kita kian menyempit. Jika kita kritis, ancaman kekerasan, intimidasi, dan teror terus membayangi,” ujar Harmegi dalam orasinya.
AJI Mandar secara khusus mengecam berbagai tindakan represif yang belakangan terjadi, mulai dari teror terhadap wartawan dan kantor Majalah Tempo hingga aksi penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS, Andrie Yunus.
Selain itu, Harmegi juga menyoroti semakin luasnya peran aparat keamanan di ruang-ruang sipil, termasuk keterlibatan dalam sejumlah proyek konstruksi pemerintah. Menurutnya, kondisi tersebut patut menjadi perhatian bersama.
AJI Mandar juga menegaskan bahwa kekerasan terhadap jurnalis masih terus berlangsung dalam berbagai bentuk, mulai dari intimidasi fisik, serangan digital, kriminalisasi, hingga tekanan ekonomi yang sistematis terhadap perusahaan media.
Tidak hanya itu, praktik sensor dan swasensor juga dinilai kembali menguat. Fenomena ini dianggap mengingatkan pada pola pembungkaman yang pernah terjadi pada masa Orde Baru.
Mimbar bebas tersebut diisi dengan beragam kegiatan, seperti orasi politik, pembacaan puisi, serta pertunjukan seni dari berbagai elemen mahasiswa dan masyarakat sipil.
“Ruang seperti ini penting untuk memastikan pesan-pesan keadilan tetap tersampaikan, terutama ketika saluran formal sering kali tersumbat,” kata Harmegi.
Soroti Militerisme dan Ancaman Lingkungan
Dalam kesempatan yang sama, Aco Nursyamsu dari Studi Advokasi dan Kedaulatan Agraria (SUAKA) Sulawesi Barat turut menyampaikan kritik terhadap maraknya ekspansi pertambangan di Sulawesi Barat yang dinilai mengancam lingkungan dan ruang hidup masyarakat.
Ia juga mengingatkan masyarakat terhadap munculnya gejala militerisme baru yang dinilai menyerupai pola kekuasaan pada era Orde Baru.
“Kita sudah menumbangkan rezim militeristik Orde Baru, tetapi hari ini negara kita justru berderap menuju militerisme yang baru,” tegas Aco.
Peringatan Hari Kebebasan Pers Sedunia di Majene tahun ini menjadi pengingat bahwa kebebasan pers dan ruang demokrasi harus terus dijaga, terutama di tengah meningkatnya berbagai ancaman terhadap jurnalis, aktivis, dan masyarakat sipil.
- Penulis: mekora.id


Saluran Whatsapp
Google News

Saat ini belum ada komentar