YOGYAKARTA, Mekora.id – Perbedaan organisasi dan pilihan politik tidak semestinya menjadi sekat yang memisahkan kader Marhaenis. Ketua Dewan Penasihat Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Pemuda Marhaenis (GPM), Toto Sukarnoputra, mengingatkan bahwa Marhaenisme bukan milik eksklusif organisasi tertentu, melainkan ajaran perjuangan yang harus hidup dalam pikiran, sikap, dan tindakan.

Putra sulung Proklamator Kemerdekaan Indonesia, Sukarno, itu menyoroti kecenderungan sebagian kader yang menjadikan identitas organisasi sebagai ukuran untuk menilai kadar kemarhaenisan seseorang. Menurutnya, cara pandang semacam itu justru berisiko menggerus persaudaraan yang seharusnya menjadi kekuatan bersama.

Ia menegaskan, kesetiaan terhadap Marhaenisme tidak cukup dibuktikan melalui atribut, keanggotaan, atau klaim sebagai pewaris pemikiran Bung Karno. Ukuran yang lebih mendasar terletak pada bagaimana nilai-nilai perjuangan tersebut dijalankan, terutama dalam membela rakyat kecil dan melawan ketidakadilan.

“Jangan merasa paling Marhaenis hanya karena berada di organisasi atau partai politik tertentu. Marhaenisme bukan milik satu organisasi. Yang harus menjadi ukuran adalah sejauh mana nilai-nilai Marhaenisme diwujudkan dalam sikap, pikiran, dan tindakan,” ujar Toto saat menghadiri Konferda II GPM DIY, Minggu (18/10/2026).

Menurut Toto, semangat persatuan yang diwariskan Bung Karno harus tetap menjadi pijakan bagi kader dalam menghadapi perbedaan. Indonesia dibangun di atas keberagaman suku, agama, golongan, dan pandangan politik. Karena itu, perjuangan kebangsaan membutuhkan kemampuan untuk merangkul perbedaan, bukan memperuncingnya menjadi pertentangan.

Ia mengingatkan bahwa latar belakang kaderisasi, organisasi, maupun kendaraan politik yang berbeda tidak lantas membuat seorang kader lebih rendah daripada kader lainnya. Perbedaan jalur perjuangan seharusnya membuka ruang pertukaran gagasan, bukan melahirkan klaim sepihak tentang siapa yang paling berhak membawa nama Marhaenisme.

Jangan Jadikan Organisasi sebagai Sekat Perjuangan

Toto berpandangan, kesamaan cita-cita jauh lebih penting daripada keseragaman identitas organisasi. Kader Marhaenis yang tumbuh melalui jalur berbeda tetap memiliki ruang untuk membangun kerja sama selama berpegang pada nilai perjuangan dan keberpihakan terhadap kepentingan rakyat.

“Yang menyatukan kaum Marhaenis semestinya bukan keseragaman organisasi, melainkan kesamaan cita-cita perjuangan,” tegasnya.

Ia menilai, menjadi kontradiktif ketika kader berbicara tentang persatuan nasional, tetapi pada saat yang sama membiarkan permusuhan tumbuh di antara sesama pejuang ideologi. Begitu pula ketika gotong royong terus digaungkan kepada masyarakat, sementara perbedaan identitas organisasi justru dijadikan alasan untuk saling menjauh.

“Jangan sampai kita berbicara tentang persatuan nasional, tetapi justru memelihara perpecahan di antara sesama kader. Jangan sampai kita mengajarkan gotong royong kepada rakyat, tetapi membangun tembok permusuhan hanya karena perbedaan identitas organisasi,” ujarnya.

Bagi Toto, Marhaenisme seharusnya menjadi titik temu bagi kader dari berbagai lingkungan organisasi. Perbedaan pengalaman dan perspektif dapat memperkaya perjuangan apabila disertai kemauan untuk berdialog, saling mendengar, dan bekerja bersama.

Sebaliknya, ketika identitas organisasi digunakan untuk meniadakan kelompok lain, energi perjuangan justru habis untuk mempertahankan ego kelompok, bukan menjawab persoalan rakyat.

Persatuan Bukan Keseragaman

Toto menekankan, persatuan tidak berarti semua kader harus memiliki pandangan yang sama atau mengikuti satu jalur politik. Perbedaan pendapat merupakan bagian dari kehidupan organisasi dan demokrasi. Yang diperlukan ialah kedewasaan untuk mengelola perbedaan tanpa kehilangan tujuan bersama.

Ia juga tidak menampik pentingnya kritik dalam perjuangan ideologis. Namun, kritik harus diarahkan untuk memperbaiki gagasan dan tindakan, bukan menjadi alat untuk mengukuhkan klaim bahwa satu kelompok paling benar dalam memahami Marhaenisme.

Karena itu, ia mengajak kader mengevaluasi sejauh mana ajaran yang dipelajari benar-benar membentuk karakter dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

“Apakah Marhaenisme yang kita pelajari telah menjadikan kita pribadi yang lebih terbuka, rendah hati, dan mampu merangkul sesama? Ataukah justru membuat kita merasa paling benar dan memandang kader lain sebagai lawan?” katanya.

Menurutnya, ideologi tidak semestinya hanya menjadi identitas yang dipertahankan dalam perdebatan. Ideologi harus memiliki daya hidup melalui solidaritas, keberanian melawan ketidakadilan, dan kerja nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Berbeda, Tetap Satu Perjuangan

Toto kembali mengingatkan bahwa kader Marhaenis dapat memilih organisasi, partai politik, dan jalan pengabdian yang berbeda tanpa harus memutus ikatan persaudaraan. Perbedaan tersebut tidak seharusnya menghilangkan kesadaran tentang tanggung jawab bersama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Kader Marhaenis boleh berbeda rumah organisasi, berbeda kendaraan politik, dan berbeda jalan pengabdian. Tetapi perbedaan itu tidak boleh menghapus kesadaran bahwa kita memiliki tanggung jawab kebangsaan yang sama,” ujarnya.

Ia meminta kader tidak berhenti pada kebanggaan terhadap nama organisasi atau simbol perjuangan. Lebih dari itu, setiap kader perlu menunjukkan keberpihakan yang konkret terhadap rakyat, baik melalui sikap politik, kerja sosial, maupun keterlibatan dalam memperjuangkan keadilan.

“Jangan merasa paling Marhaenis karena nama organisasi yang kita kenakan. Buktikan Marhaenisme melalui sikap, pikiran, dan tindakan. Jangan hanya bertanya dari organisasi mana seorang kader berasal, tetapi lihatlah nilai apa yang ia perjuangkan dan manfaat apa yang ia hadirkan bagi rakyat,” kata Toto.

Ia menegaskan, persatuan bukan tuntutan untuk menghapus perbedaan, melainkan kesediaan untuk tetap berjalan bersama di tengah perbedaan tersebut.

Menurut Toto, perjuangan membangun Indonesia akan kehilangan kekuatannya apabila para pejuang justru sibuk saling meniadakan. Sebaliknya, persaudaraan yang melampaui sekat organisasi dapat memperluas ruang kolaborasi tanpa harus mengorbankan prinsip ideologis.

“Marhaenisme akan menemukan maknanya yang lebih luas ketika mampu menyatukan kader-kadernya melampaui sekat organisasi, tanpa kehilangan prinsip ideologis dan keberpihakan kepada rakyat Indonesia,” pungkasnya.