PM Mongolia Mundur Setelah Putranya Pamer Gaya Hidup Mewah
- account_circle mekora.id
- calendar_month Senin, 9 Jun 2025
- comment 0 komentar
- print Cetak

Perdana Menteri (PM) Mongolia, Luvsannamsrai Oyun-Erdene, resmi mengundurkan diri. (Foto : X/OyunerdenePM)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MAMUJU, Mekora.id – Perdana Menteri (PM) Mongolia, Luvsannamsrai Oyun-Erdene, resmi mengundurkan diri dari jabatannya usai kalah dalam sidang mosi tidak percaya di parlemen pada Selasa, 3 Juni 2025 di ibu kota Ulaanbaatar.
Pengunduran diri ini menyusul gelombang protes publik atas tuduhan korupsi yang diperparah oleh viralnya video yang memperlihatkan gaya hidup mewah putra Oyun-Erdene di media sosial.
“Merupakan suatu kehormatan untuk mengabdi kepada negara dan rakyat saya di masa-masa sulit, termasuk pandemi, perang, dan kebijakan tarif,” kata Oyun-Erdene setelah hasil pemungutan suara diumumkan, dikutip dari Al Jazeera.
Dalam pemungutan suara tersebut, hanya 44 dari 126 anggota parlemen yang memberikan dukungan kepada Oyun-Erdene, jauh di bawah ambang batas mayoritas 64 suara yang diperlukan untuk mempertahankan posisinya.
Putra PM Picu Kemarahan Publik
Kemarahan masyarakat dipicu oleh video pertunangan mewah putra Oyun-Erdene yang berusia 23 tahun. Dalam video tersebut terlihat penggunaan helikopter pribadi, cincin kawin mewah, tas desainer, serta mobil mewah dalam prosesi lamaran. Media lokal juga melaporkan bahwa sang putra menyewa hotel mewah untuk acara tersebut.
Kecurigaan pun mencuat terkait sumber kekayaan yang dimiliki sang putra, mengingat sang perdana menteri selama ini dikenal mengusung citra berasal dari keluarga pedesaan sederhana dan memerangi korupsi.
Oyun-Erdene membantah tuduhan korupsi, dan menuduh lawan-lawan politiknya menjalankan kampanye kotor untuk menjatuhkannya. Dalam pidatonya sebelum pemungutan suara, ia menyebutkan adanya “kepentingan tersembunyi” yang mengatur kampanye terorganisasi melawan pemerintahannya.
Korupsi dan Demonstrasi di Mongolia
Dilansir dari Channel News Asia (CNA), Mongolia telah lama menghadapi persoalan korupsi yang mengakar, terutama sejak negara ini menikmati lonjakan pendapatan dari sektor pertambangan batu bara. Banyak warga menilai elite politik telah menikmati keuntungan besar, sementara masyarakat umum tetap termarjinalkan.
Sejak bulan lalu, ratusan warga — mayoritas anak muda — menggelar aksi demonstrasi di alun-alun depan gedung parlemen di Ulaanbaatar. Mereka membawa plakat bertuliskan “Pengunduran diri itu mudah” dan menuntut keadilan atas gaya hidup mewah yang mencolok.
“Kami datang karena kecewa dengan ketidakadilan sosial dan praktik korupsi yang tak kunjung diberantas,” kata salah satu demonstran kepada media lokal.
Meski telah menyatakan mundur, Oyun-Erdene masih akan menjabat sebagai perdana menteri sementara hingga penggantinya resmi ditunjuk dalam waktu maksimal 30 hari.
Belum Ada Harapan Perubahan Besar
Menurut pengamat politik Mongolia, Julian Dierkes dari Universitas Mannheim, Jerman, pengunduran diri ini tidak serta merta menjanjikan perubahan besar dalam kebijakan, termasuk soal korupsi. Ia menyebutkan bahwa peristiwa ini mungkin menandai kembalinya politik faksional di internal partai penguasa, setelah sebelumnya relatif stabil selama beberapa tahun.
- Penulis: mekora.id


Saluran Whatsapp
Google News
