Menggali Jejak Kerajaan Kurri-Kurri, Kota Niaga di Pesisir Mamuju
- account_circle mekora.id
- calendar_month Senin, 29 Jul 2024
- comment 2 komentar
- print Cetak

Peta pelayaran Portugis di Pulau Celesbes (Sulawesi) 1611.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MAMUJU, mekora.id – “Untuk menghancurkan suatu Bangsa, cukup melakukan tiga hal. Pertama; kaburkan sejarahnya, kedua; Hancurkan bukti sejarah bangsa itu, sehingga tidak bisa diteliti dan dibuktikan kebenarannya, dan ketiga; putuskan hubungan mereka dengan leluhurnya, dengan mengatakan leluhur mereka primitif”. kata Juri Lina dalam buku Architects Of Deception.
Gambaran Juri Lina di atas menjadi bukti nyata, tantangan peradaban yang saat ini penuh dengan misteri. Minimnya sumber informasi dan literatur menjadi bagian kepingan puzzle yang belum terpecahkan.
Meski begitu, antusiasme membincangkan peradaban di tengah hiruk-pikuk politik lahir dari sejumlah kalangan muda di Mamuju, Sulawesi Barat. Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Mamuju memantik publik dengan Forum Discussion Group (FGD) dengan pokok pembahasan “Menggali Sejarah Kurri-Kurri”, yang dilaksanakan di cafe Ruang Rindu, di Mamuju, pada, Sabtu, (27/7/2024).
Tokoh-tokoh penting seperti Maradika (Raja Mamuju) Andi Bau Akram Dai, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Sulbar Safaruddin Sanusi, Sejarawan dan Pegiat Budaya Muhaimin Faisal, penulis dan peneliti dari Mamuju Ethnic Arman Husain, Tokoh Masyarakat (Keluarga besar To Kaiyang di Padang) Hasbi, Penulis dan Jurnalis Jasman Rantedoda, hadir dalam dialog itu.
Menurut Ketua Cabang GMNI Mamuju, Adam Jauri, dialog ini menjadi bagian tidak terpisahkan untuk menjaga sejarah peradaban yang ada. Sebab di era disrupsi saat ini kebudayaan tidak lagi dikenal dan nyaris punah.
Untuk itu dia berharap, dialog para tokoh yang hadir dapat menjadi referensi dan asupan pengetahuan bagi generasi mudah di Mamuju.
“Keprihatinan kita tentu saja saat ini melihat ruang publik yang tidak lagi mengenal apa itu Mamuju, bagaimana sejarah dan apa masa lalu yang ada di Mamuju. Untuk itu kami berharap FGD ini bisa melahirkan gagasan yang konkrit dan bisa dilestarikan kedepan,” ungkap Adam.
Sementara Maradika (Raja Mamuju) Andi Bau Akram Dai mengatakan, FGD itu menjadi momentum untuk kembali mengulas sejarah. Dia menyebut penting bagi generasi muda untuk terus menghidupkan budaya, untuk itu dia berharap sekolah-sekolah di Mamuju dapat mengajarkan muatan lokal bermuatan sejarah dan budaya.
“Ini menjadi momentum dan akan diingat oleh sejarah, sebab ini menjadi sejarah hasil terus hidup. Ini juga menjadi sangat penting untuk diterapkan sebagai bahan ajar di sekolah menjadi muatan lokal,” kata Andi Bau Akram.
Kurri-Kurri dalam sejarah
Menurut catatan Mamuju Ethnic, Kurri-Kurri merupakan sebuah kerajaan yang terletak di Pesisir Mamuju (saat ini sekitar Pelabuhan Feri di Kelurahan Simboro, Kecamatan Simboro). Sekitar abad 16, wilayah Kurri-Kurri menjadi sentra niaga dengan akses pelabuhan yang menjadi persinggahan kapal-kapal niaga menuju wilayah Selatan dan Utara Sulawesi.
Kurri-Kurri dalam catatan dan arsip sejarah bangsa eropa, tercatat dalam sejumlah peta. Peta awal seperti peta De Wit untuk Asia Tenggara, diukir oleh Joannes Lhulier pada tahun 1662, dan peta Isole Dell’India cioe le Molucche la Filippine e della Sonda Parte de Paesi di nuova scoperta e l’Isole de Ladri ne Mare del Zud 1683. Giacomo Giovanni Rossi (1627-1691) adalah peta yang dibuat oleh orang Italia. Pada peta ini terlihat jelas toponim Qui-qui (Kurri-kurri) berdampingan dengan Toponim Mamoya (Mamuju).
Bahkan dalam referensi lain, Kurri-Kurri tercatat di dalam peta yang sedikit lebih tua “Dekoratif Hindia Timur” dari Atlas Mercator-Hondius, disana toponim untuk Kurri-kurri tertulis lebih jelas sebagai Curri-curri.
Literatur lain dalam catatan Mamuju Ethnic menyebut, Peta itu juga menjadi cikal bakal yang di pedomani oleh pelaut dan navigator Belanda, Cornelis de Houtman, untuk berlayar ke Nusantara (1595-1597).
“Buku itu berjudul “Itinerarium neer Oost ofte Portugaels Indien” dipedomani oleh navigator Belanda Cornelis de Houtman, untuk berlayar ke Nusantara,” kata Founder Mamuju Ethnic, Arman Husain.
Pada dekade itu, Pelabuhan Kurri-Kurri menjadi pintu dan mitra dagang utama niaga untuk Pelabuhan Makassar dan Parepare (sejak Pelabuhan Makassar belum menjadi kota pelabuhan terbesar sejak tahun 1510). Kurri menjadi bagian penting dan sangat dikenal di beberapa negara eropa sebagai pemasok cangkang kura kura (tortoise shell). Selain itu Kurri- kurri juga sangat terkenal di dunia luar dengan komoditas ekspor : rotan, damar, dan teripang (J.v. Mills: Journal Of The Malayan Branch Of The Royal Asiatic Society 1930 Vol. VIII.1930).
Menurut Arman Husain, kemajuan di Kerajaan Kurri-Kurri menjadi cikal bakal penaklukan dari kerajaan Mamuju oleh Tome Jammeng pada abad ke -16. Setelah Tome Jammeng berhasil menginvasi Kurri-Kurri dan berikutnya menaklukkan kerajaan Managallang.
“Tom Jammeng kemudian menjadikan semua rakyat Kurri-kurri ini sebagai tawanan atau budak kerajaan. Bahkan seiring waktu ada yang menjadi bagian dari kerajaan Mamuju,” kata Arman Husain.
Sementara literatur lain dari Penutur Keluarga Besar “To Kaiyang di Padang” Hasbi mengatakan, pada abad ke-7 kerajaan Kurri-Kurri mulai terbentuk yang didirikan oleh raja pertama Tomaballa Pala Bittina. Kemudian Raja kedua Tarapati memimpin kerajaan Kurri-Kurri.
Masa kepemimpinan raja Tarapati, kerajaan Kurri-Kurri mengalami perkembangan pesat. Dimasa itu hubungan niaga dengan wilayah lain termasuk kerajaan Kutai Kartanegara. Bahkan bangsa portugis menjalin Kerjasama dengan Kurri-Kurri.
“Di masa kepemimpinan raja Tarapati, kerajaan Kurri-Kurri mengalami perkembangan pesat. Kerajaan Kutai Kartanegara hingga Portugis datang di Kerajaan Kurri-Kurri menjalin Kerjasama perdagangan,” kata Hasbi.
Pada masa ini, Raja Tarapati menikahi permaisuri bernama To Pelipa Di Karoro yang merupakan cucu dari Tenri Malle di Padang (Saat Ini di Kelurahan Rimuku). Setelah pernikahan itu, sang permaisuri mengatakan tidak ingin tinggal di Kurri-Kurri namun ingin menetap di wilayah padang.
Keinginan dari permaisurinya itu, kemudian diwujudkan oleh raja Tarapati dengan memberikan sebuah wilayah yang kemudian dikenal dengan nama Kerajaan Langga Monar. Selama itu pula kerajaan Kurri-Kurri menjadikan Langga Monar sebagai pusat pemerintahan.
“Sebagai raja bijaksana, Narapati langsung memberikan sebuah tanah di (wilayah Rangas saat ini) dan menjadi sebuah kerajaan Langga Monar (Langga (Tanah)-Monar (Mahar). Pusat kerajaan di tempatkan di Langga Monar. Karena saking sayangnya Tarapato pada permaisuri,” tambah Hasbi.
Merosotnya kejayaan Kerajaan Kurri- Kurri
Dalam perjalanannya, pemerintahan yang dijalankan oleh Tarapati lambat laun mengalami kemerosotan dan terjadi kurangnya tingkat kepercayaan masyarakat serta dewan adat (Baligau) pada sang raja.
Setelah mengalami kemerosotan, Raja Tarapati lantas mengambil inisiatif membawah permaisurinya untuk mengasingkan diri ke wilayah Kaili (Sulawesi Tengah)
“Untuk mengisi kekosongan pemerintahan Kerajaan Kurri-Kurri dan Langga Monar, maka dewan adat (Baligau) menggelar rapat adat. Maka diutuslah Puang Marica dari kerajaan Balanipa untuk mengisi kekosongan di Kurri-Kurri (sesuai perjanjian Tammajarra 1),” tutur Hasbi.
Setelah memimpin masa transisi di Kerajaan Kurri-Kurri dan Langga Monar, Puang Marica dan Baligau memutuskan meminta raja terdahulu Tarapati untuk kembali dan memimpin wilayah itu.
Setelah sejumlah upaya, Raja Tarapati akhirnya memutuskan kembali. Namun dia mensyaratkan tidak lagi ingin menjadi raja tetapi menjadi abdi dalam untuk membantu pemulihan situasi. Setelah mendengar pernyataan dari Tarapati, akhirnya Puang Marica sebagai raja sementara memutuskan untuk membentuk Galaggar Pitu (Dewan Adat).
Akhirnya dimasa itu, penyatuan kerajaan Kurri-Kurri dan Langga Monar disepakati menjadi Kerajaan Mamunyu yang digelar di Lissuang Ada’ di Anjoro Pitu (Sekarang Kelapa Tujuh Mamuju).
“Jadi disitulah Lissuang Ada’ pertama kali digelar, dengan penyatuan itu kerajaan Kurri-Kurri dan Langga Monar menjadi sudah tidak ada dan digantikan oleh Kerajaan Mamunyu,” tutur Hasbi.
Dalam arti lain (Bahasa Mamuju), Kurri-Kurri mengarah pada sebuah jenis burung pipit. Unggas pemakan biji-bijian itu hidup bergerombol. Secara harfiah kata meng; kurri-kurri yang bermakna seperti banyaknya burung tersebut. Atau bisa juga diartikan banyak karena jumlah masyarakat yang tinggal di wilayah tersebut banyak jumlahnya karena sebagai pusat perdagangan tentunya disini telah ramai banyak didatangi oleh pedagang dan orang orang dari berbagai daerah lainnya. (Catatan Mamuju Ethnic 2016).
Hingga kini literatur terkait eksistensi kerajaan Kurri-Kurri masih menjadi perdebatan di kalangan budayawan dan peneliti.
Penulis dan Jurnalis, Jasman Rantedoda mengatakan, dari sejumlah penelitian yang dilakukan bersama Badan Arkeologi Sulawesi Selatan. Meski jejek kerajaan Kurri-Kurri diyakini ada, namun belum ada penemuan yang mengidentifikasi titik kerajaan itu berada.
“Dari sejumlah penelitian yang dilakukan belum penemuan tentang titik tentang lokasi Kurri-Kurri ini. Minimnya literatur dan belum bisa divalidasi ini tentu membuat banyak persepsi bebas menginterpretasikan secara subyektif,” kata Jasman.
Sehingga menurut dia, perlu diskursus dan pembahasan secara mendalam untuk membahas tentang eksistensi kerajaan Kurri-Kurri.
“Langkah ini menjadi sangat bagus, saya kiri diskusi akan panjang dan memerlukan banyak waktu,” tutupnya.
Namun begitu, dalam penelitian yang dilakukan ditemukan sejumlah jejak arkeologi seperti pala bitti batu di Sumare’, bujung gassa di Rangas dan patung Budha berlilit naga di Tanete Buluang. Jejak itu diyakini sebagai peninggalan yang merujuk kerajaan Kurri-Kurri. Termasuk pelabuhan Ferry yang diduga telan menjadi pelabuhan sejak masa kerjaan Kurri-kurri dan sampai sekarang.
- Penulis: mekora.id


Saluran Whatsapp
Google News
