Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » BUDAYA » Menggali Jejak Kerajaan Kurri-Kurri, Kota Niaga di Pesisir Mamuju

Menggali Jejak Kerajaan Kurri-Kurri, Kota Niaga di Pesisir Mamuju

  • account_circle mekora.id
  • calendar_month Senin, 29 Jul 2024
  • comment 2 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

MAMUJU, mekora.id – “Untuk menghancurkan suatu Bangsa, cukup melakukan tiga hal. Pertama; kaburkan sejarahnya, kedua; Hancurkan bukti sejarah bangsa itu, sehingga tidak bisa diteliti dan dibuktikan kebenarannya, dan ketiga; putuskan hubungan mereka dengan leluhurnya, dengan mengatakan leluhur mereka primitif”. kata Juri Lina dalam buku Architects Of Deception.

Gambaran Juri Lina di atas menjadi bukti nyata, tantangan peradaban yang saat ini penuh dengan misteri. Minimnya sumber informasi dan literatur menjadi bagian kepingan puzzle yang belum terpecahkan.

Meski begitu, antusiasme membincangkan peradaban di tengah hiruk-pikuk politik lahir dari sejumlah kalangan muda di Mamuju, Sulawesi Barat. Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Mamuju memantik publik dengan Forum Discussion Group (FGD) dengan pokok pembahasan “Menggali Sejarah Kurri-Kurri”, yang dilaksanakan di cafe Ruang Rindu, di Mamuju, pada, Sabtu, (27/7/2024).

Tokoh-tokoh penting seperti Maradika (Raja Mamuju) Andi Bau Akram Dai, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Sulbar Safaruddin Sanusi, Sejarawan dan Pegiat Budaya Muhaimin Faisal, penulis dan peneliti dari Mamuju Ethnic Arman Husain, Tokoh Masyarakat (Keluarga besar To Kaiyang di Padang) Hasbi, Penulis dan Jurnalis Jasman Rantedoda, hadir dalam dialog itu.

Menurut Ketua Cabang GMNI Mamuju, Adam Jauri, dialog ini menjadi bagian tidak terpisahkan untuk menjaga sejarah peradaban yang ada. Sebab di era disrupsi saat ini kebudayaan tidak lagi dikenal dan nyaris punah.

Untuk itu dia berharap, dialog para tokoh yang hadir dapat menjadi referensi dan asupan pengetahuan bagi generasi mudah di Mamuju.

“Keprihatinan kita tentu saja saat ini melihat ruang publik yang tidak lagi mengenal apa itu Mamuju, bagaimana sejarah dan apa masa lalu yang ada di Mamuju. Untuk itu kami berharap FGD ini bisa melahirkan gagasan yang konkrit dan bisa dilestarikan kedepan,” ungkap Adam.

Sementara Maradika (Raja Mamuju) Andi Bau Akram Dai mengatakan, FGD itu menjadi momentum untuk kembali mengulas sejarah. Dia menyebut penting bagi generasi muda untuk terus menghidupkan budaya, untuk itu dia berharap sekolah-sekolah di Mamuju dapat mengajarkan muatan lokal bermuatan sejarah dan budaya.

“Ini menjadi momentum dan akan diingat oleh sejarah, sebab ini menjadi sejarah hasil terus hidup. Ini juga menjadi sangat penting untuk diterapkan sebagai bahan ajar di sekolah menjadi muatan lokal,” kata Andi Bau Akram.

Kurri-Kurri dalam sejarah

Menurut catatan Mamuju Ethnic, Kurri-Kurri merupakan sebuah kerajaan yang terletak di Pesisir Mamuju (saat ini sekitar Pelabuhan Feri di Kelurahan Simboro, Kecamatan Simboro). Sekitar abad 16, wilayah Kurri-Kurri menjadi sentra niaga dengan akses pelabuhan yang menjadi persinggahan kapal-kapal niaga menuju wilayah Selatan dan Utara Sulawesi.

Kurri-Kurri dalam catatan dan arsip sejarah bangsa eropa, tercatat dalam sejumlah peta. Peta awal seperti peta De Wit untuk Asia Tenggara, diukir oleh Joannes Lhulier pada tahun 1662, dan peta Isole Dell’India cioe le Molucche la Filippine e della Sonda Parte de Paesi di nuova scoperta e l’Isole de Ladri ne Mare del Zud 1683. Giacomo Giovanni Rossi (1627-1691) adalah peta yang dibuat oleh orang Italia. Pada peta ini terlihat jelas toponim Qui-qui (Kurri-kurri) berdampingan dengan Toponim Mamoya (Mamuju).

Bahkan dalam referensi lain, Kurri-Kurri tercatat di dalam peta yang sedikit lebih tua “Dekoratif Hindia Timur” dari Atlas Mercator-Hondius, disana toponim untuk Kurri-kurri tertulis lebih jelas sebagai Curri-curri.

Literatur lain dalam catatan Mamuju Ethnic menyebut, Peta itu juga menjadi cikal bakal yang di pedomani oleh pelaut dan navigator Belanda, Cornelis de Houtman, untuk berlayar ke Nusantara (1595-1597).

“Buku itu berjudul “Itinerarium neer Oost ofte Portugaels Indien” dipedomani oleh navigator Belanda Cornelis de Houtman, untuk berlayar ke Nusantara,” kata Founder Mamuju Ethnic, Arman Husain.

Pada dekade itu, Pelabuhan Kurri-Kurri menjadi pintu dan mitra dagang utama niaga untuk Pelabuhan  Makassar dan Parepare (sejak Pelabuhan Makassar belum menjadi kota pelabuhan terbesar sejak tahun 1510). Kurri menjadi bagian penting dan sangat dikenal di beberapa negara eropa sebagai pemasok cangkang kura kura (tortoise shell). Selain itu Kurri- kurri juga sangat terkenal di dunia luar dengan komoditas ekspor : rotan, damar, dan teripang (J.v. Mills: Journal Of The Malayan Branch Of The Royal Asiatic Society 1930 Vol. VIII.1930).

Menurut Arman Husain, kemajuan di Kerajaan Kurri-Kurri menjadi cikal bakal penaklukan dari kerajaan Mamuju oleh Tome Jammeng pada abad ke -16. Setelah Tome Jammeng berhasil menginvasi Kurri-Kurri dan berikutnya menaklukkan kerajaan Managallang.

Tom Jammeng kemudian menjadikan semua rakyat Kurri-kurri ini sebagai tawanan atau budak kerajaan. Bahkan seiring waktu ada yang menjadi bagian dari kerajaan Mamuju,” kata Arman Husain.

Sementara literatur lain dari Penutur Keluarga Besar “To Kaiyang di Padang” Hasbi mengatakan, pada abad ke-7 kerajaan Kurri-Kurri mulai terbentuk yang didirikan oleh raja pertama Tomaballa Pala Bittina. Kemudian Raja kedua Tarapati memimpin kerajaan Kurri-Kurri.

Masa kepemimpinan raja Tarapati, kerajaan Kurri-Kurri mengalami perkembangan pesat. Dimasa itu hubungan niaga dengan wilayah lain termasuk kerajaan Kutai Kartanegara. Bahkan bangsa portugis menjalin Kerjasama dengan Kurri-Kurri.

  • Penulis: mekora.id

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kelapa Sawit Pasangkayu

    Dugaan Mafia Tanah di Pasangkayu, Advokat : 1.372 Hektar Lahan Warga Dicaplok Perusahaan Sawit

    • calendar_month Rabu, 23 Apr 2025
    • account_circle mekora.id
    • visibility 145
    • 0Komentar

    MAMUJU, Mekora.id – Kasus tumpang tindih lahan antara masyarakat dan perusahaan perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat (Sulbar), terus menuai perhatian. Dari 59 desa yang ada di wilayah tersebut, tercatat 30 desa mengalami konflik agraria berupa sertifikat hak milik (SHM) warga yang overlaping dengan sertifikat hak guna usaha (HGU) milik perusahaan. Hal ini […]

  • Gedung Radioterapi RSUD Sulbar

    Fakta Baru Radioterapi RSUD Sulbar, Proyek 19,4 Miliar Ternyata 6 Kali Pindah Tangan 

    • calendar_month Senin, 8 Jul 2024
    • account_circle mekora.id
    • visibility 98
    • 2Komentar

    MAMUJU, mekora.id – Setelah heboh plafon gedung Radioterapi milik Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Regional Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) ambruk, kini muncul fakta baru diungkap oleh  Kejaksaan Tinggi (Kejati) Sulawesi Barat (Sulbar). Proyek dengan anggaran Rp 19,4 miliar tahun 2023 itu, ditemukan indikasi melawan hukum. Hal itu setelah Asisten Perdata dan Tata Usaha Negara (Asdatun) […]

  • Pesan Natal Oikumene Sulbar

    Pesan Natal Oikumene Sulbar, Sekda Junda Dorong Keluarga Jadi Pilar Kedamaian Daerah

    • calendar_month Jumat, 9 Jan 2026
    • account_circle mekora.id
    • visibility 111
    • 0Komentar

    MAMUJU, Mekora.id — Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar), Junda Maulana, mendorong penguatan peran keluarga sebagai pilar utama terciptanya kedamaian dan harmoni di daerah. Hal tersebut disampaikannya saat menghadiri perayaan Natal Oikumene yang digelar Forum Komunikasi Gereja-Gereja Mamuju, Kamis (8/1/2026). Kehadiran Junda Maulana dalam kegiatan tersebut sekaligus mewakili Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka. Perayaan Natal […]

  • Gantung diri di Keang

    Diduga Depresi, Seorang Petani di Kalukku Ditemukan Gantung Diri

    • calendar_month Rabu, 30 Apr 2025
    • account_circle mekora.id
    • visibility 46
    • 0Komentar

    MAMUJU, Mekora.id – Seorang pria berinisial MD (40) Desa Keang, Kecamatan Kalukku, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat (Sulbar), ditemukan gantung diri kebun, pada Rabu, (30/4/2025). keterangan Kapolsek Kalukku, Iptu Makmur, korban sehari-hari bekerja sebagai petani yang menanam nilam dan kakao. Kemudian Korban dikabarkan meninggalkan rumah di Dusun Salumanapo pada malam hari, tanpa sepengetahuan anak dan istrinya. “Berdasarkan […]

  • Heince Demmabuttu ke Sekwan Sulbar

    Berita Foto : Sekwan DPRD Sulbar Terima Kunjungan Mantan Anggota DPRD Sulbar Hence

    • calendar_month Kamis, 25 Jan 2024
    • account_circle mekora.id
    • visibility 47
    • 0Komentar

    MAMUJU, mekora.id – Sekertaris Dewan (Sekwan), Muhammad Hamzih didampingi Kepala Bagian Fasilitasi Penganggaran dan Pengawasan, Irma Trisnawati, menerima kunjungan mantan Anggota DPRD Sulbar periode 2004-2009 Heince Demmabuttu di ruang kerjanya, Kamis (25/01/2024). Pertemuan itu bertujuan untuk membangun silaturahmi baik dari Heince maupun dari Sekretariat DPRD Sulbar. Mereka tampak berbincang santai sembari membahas situasi di DPRD […]

  • Rapat Sekwan dan Pejabat Sekretariat DPRD Sulbar.

    Sekwan Gelar Rapat Evaluasi dengan Pejabat Sekretariat DPRD Sulbar

    • calendar_month Rabu, 7 Feb 2024
    • account_circle mekora.id
    • visibility 44
    • 0Komentar

    MAMUJU, mekora.id – Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Sulawesi Barat (Sulbar) kembali melaksanakan rapat internal di kantor sementara, Jl Abd Malik Pattana Endeng, Rangas, Simboro, Mamuju, Rabu (7/2/2024). Rapat internal dihadiri Sekertaris Dewan (Sekwan) Muhammad Hamzih, para Kabag, Kasubag, serta pejabat fungsional. Kepala Bagian Persidangan Musra Awaluddin mengatakan, rapat internal tersebut dalam rangka evalusi […]

expand_less