GMNI Kritik Ketergantungan Investasi Asing, Minta Hilirisasi Perkuat Industri Dalam Negeri
- account_circle mekora.id
- calendar_month 10 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Ketua DPP GMNI Bidang Hubungan Industri dan Hilirisasi, Prima Dwi Dzaldi,
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
JAKARTA, Mekora.id — Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) menilai kebijakan hilirisasi industri yang dijalankan pemerintah sejak 2010 hingga kini belum mencerminkan arah industrialisasi nasional yang berdaulat, berkeadilan, dan berkelanjutan.
Penilaian tersebut disampaikan sebagai bagian dari evaluasi kritis GMNI terhadap arah pembangunan ekonomi nasional yang dinilai masih bertumpu pada logika investasi asing dan orientasi ekspor, tanpa diiringi penguatan struktur industri dalam negeri.
Ketua DPP GMNI Bidang Hubungan Industri dan Hilirisasi, Prima Dwi Dzaldi, menyebut hilirisasi seharusnya dimaknai sebagai proses penguatan rantai nilai industri secara menyeluruh, mulai dari penguasaan bahan baku, kedaulatan teknologi, hingga hubungan industrial yang adil.
“Hilirisasi kita masih bersifat kuantitatif dan transaksional, mengejar angka investasi dan ekspor, tetapi lemah dalam membangun kapasitas industri nasional, kedaulatan teknologi, serta perlindungan tenaga kerja,” ujar Prima, Jumat, (9/1/2026).
Dalam kajian akademiknya, GMNI mencatat kontribusi sektor industri pengolahan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2023 masih stagnan di kisaran 18–19 persen, jauh menurun dibandingkan awal 2000-an yang mencapai lebih dari 30 persen. Fakta ini menunjukkan hilirisasi belum mampu merombak struktur ekonomi nasional secara fundamental.
Produk hilir yang dihasilkan, menurut GMNI, sebagian besar masih berada pada level setengah jadi dan belum masuk ke rantai produksi berteknologi tinggi. Di sisi lain, dominasi modal besar dan asing di sektor strategis dinilai memperlihatkan lemahnya peran negara sebagai pengendali arah industrialisasi.
“Kawasan industri seperti Morowali memang menaikkan pendapatan daerah, tetapi nilai tambah terbesar tetap mengalir ke korporasi besar dan investor asing,” tegas Prima.
GMNI juga menyoroti lemahnya transfer teknologi sejak hilirisasi dijalankan lebih dari satu dekade. Hingga kini, belum terlihat pusat riset nasional yang mampu menopang peningkatan kemampuan industri domestik. Ketergantungan terhadap teknologi dari China dan Jepang masih sangat dominan, terutama pada komoditas nikel dan tembaga.
- Penulis: mekora.id


Saluran Whatsapp
Google News

Saat ini belum ada komentar