Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » NEWS » Nasional » GMNI Kritik Ketergantungan Investasi Asing, Minta Hilirisasi Perkuat Industri Dalam Negeri

GMNI Kritik Ketergantungan Investasi Asing, Minta Hilirisasi Perkuat Industri Dalam Negeri

  • account_circle mekora.id
  • calendar_month Jumat, 9 Jan 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

JAKARTA, Mekora.id — Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) menilai kebijakan hilirisasi industri yang dijalankan pemerintah sejak 2010 hingga kini belum mencerminkan arah industrialisasi nasional yang berdaulat, berkeadilan, dan berkelanjutan.

Penilaian tersebut disampaikan sebagai bagian dari evaluasi kritis GMNI terhadap arah pembangunan ekonomi nasional yang dinilai masih bertumpu pada logika investasi asing dan orientasi ekspor, tanpa diiringi penguatan struktur industri dalam negeri.

Ketua DPP GMNI Bidang Hubungan Industri dan Hilirisasi, Prima Dwi Dzaldi, menyebut hilirisasi seharusnya dimaknai sebagai proses penguatan rantai nilai industri secara menyeluruh, mulai dari penguasaan bahan baku, kedaulatan teknologi, hingga hubungan industrial yang adil.

“Hilirisasi kita masih bersifat kuantitatif dan transaksional, mengejar angka investasi dan ekspor, tetapi lemah dalam membangun kapasitas industri nasional, kedaulatan teknologi, serta perlindungan tenaga kerja,” ujar Prima, Jumat, (9/1/2026).

Dalam kajian akademiknya, GMNI mencatat kontribusi sektor industri pengolahan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) pada 2023 masih stagnan di kisaran 18–19 persen, jauh menurun dibandingkan awal 2000-an yang mencapai lebih dari 30 persen. Fakta ini menunjukkan hilirisasi belum mampu merombak struktur ekonomi nasional secara fundamental.

Produk hilir yang dihasilkan, menurut GMNI, sebagian besar masih berada pada level setengah jadi dan belum masuk ke rantai produksi berteknologi tinggi. Di sisi lain, dominasi modal besar dan asing di sektor strategis dinilai memperlihatkan lemahnya peran negara sebagai pengendali arah industrialisasi.

“Kawasan industri seperti Morowali memang menaikkan pendapatan daerah, tetapi nilai tambah terbesar tetap mengalir ke korporasi besar dan investor asing,” tegas Prima.

GMNI juga menyoroti lemahnya transfer teknologi sejak hilirisasi dijalankan lebih dari satu dekade. Hingga kini, belum terlihat pusat riset nasional yang mampu menopang peningkatan kemampuan industri domestik. Ketergantungan terhadap teknologi dari China dan Jepang masih sangat dominan, terutama pada komoditas nikel dan tembaga.

Persoalan lain yang dikritisi GMNI adalah hubungan industrial. Praktik upah murah, minimnya peningkatan kompetensi tenaga kerja lokal, serta lemahnya perlindungan buruh di kawasan industri hilirisasi dinilai berpotensi melahirkan ketimpangan baru.

“Hilirisasi tidak boleh dilepaskan dari prinsip kerja layak. Jika buruh hanya menjadi penopang produksi yang eksploitatif, maka hilirisasi tidak berpihak pada rakyat,” kata Prima.

Selain itu, GMNI menilai keterlibatan UMKM dan industri kecil-menengah dalam rantai pasok hilirisasi masih sangat terbatas. Fragmentasi rantai pasok membuat hilirisasi hanya menguntungkan segelintir korporasi besar dan gagal menjadi lokomotif pemerataan ekonomi.

Aspek lingkungan juga menjadi sorotan. Ekspansi industri nikel dan perkebunan sawit di berbagai daerah dinilai berkontribusi terhadap deforestasi, pencemaran lingkungan, dan tekanan sosial bagi masyarakat lokal. Minimnya standar keberlanjutan disebut berisiko melahirkan krisis ekologis jangka panjang.

Berdasarkan kajian tersebut, DPP GMNI menyampaikan sejumlah rekomendasi strategis, mulai dari mengarahkan hilirisasi pada penguatan kedaulatan industri dan teknologi nasional, memperkuat peran BUMN sebagai pengendali rantai pasok, hingga mewajibkan transfer teknologi yang konkret dan terukur. GMNI juga mendorong jaminan hubungan industrial yang adil, keterlibatan UMKM, serta menjadikan keberlanjutan lingkungan dan sosial sebagai indikator utama keberhasilan hilirisasi.

Di akhir pernyataannya, Prima menegaskan bahwa hilirisasi harus kembali berpijak pada nilai Trisakti Bung Karno.

“Jika hilirisasi tidak mengubah struktur ketergantungan ekonomi, maka yang dibangun bukan industrialisasi nasional, melainkan kolonialisme ekonomi dalam wajah baru,” pungkasnya.

  • Penulis: mekora.id

Rekomendasi Untuk Anda

  • Yakub F Solon Resmi Jadi Pj Bupati Mamasa, Dilantik 19 September 2023

    Yakub F Solon Resmi Jadi Pj Bupati Mamasa, Dilantik 19 September 2023

    • calendar_month Jumat, 15 Sep 2023
    • account_circle mekora.id
    • visibility 217
    • 1Komentar

    MAMUJU, mekora.id – Asisten II bidang Ekonomi dan Pembangunan Setda Sulbar DR. Yakub F Solon resmi ditetapkan sebagai Penjabat (Pj) Bupati Mamasa. Pj Gubernur Sulawesi Barat Zudan Arif Fakrulloh mengatakan, penetapan Yakub F Solon sebagai pj Bupati Mamasa ditetapkan Kementerian Dalam Negeri hari ini di Jakarta, (15/09/2023). “Pj Bupati Mamasa sudah ditetapkan oleh Pemerintah Pusat […]

  • Ekonomi Sulbar 2024

    Ekonomi Sulbar Tahun 2024 Diproyeksi Tumbuh 5 Hingga 6 Persen

    • calendar_month Kamis, 30 Nov 2023
    • account_circle mekora.id
    • visibility 83
    • 2Komentar

    MAMUJU, mekora.id – Bank Indonesia memproyeksi ekonomi di Sulawesi Barat akan bertumbuh pada angka 5,6 sampai 6,4 persen secara year on year (YoY) pada tahun 2024. Deputi Kepala Perwakilan BI Sulawesi Barat, Achmad, mengatakan pertumbuhan itu masih akan ditopang oleh konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah. Salah satu penyumbang pertumbuhan ekonomi Sulbar tahun 2024, yakni […]

  • Demo HMI Mamasa

    Demo di Kantor Bupati, HMI Mamasa Desak Dirut RSUD Kondosapata Dicopot

    • calendar_month Senin, 23 Des 2024
    • account_circle mekora.id
    • visibility 169
    • 0Komentar

    MAMASA, Mekora.id – Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Mamasa menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor Bupati Mamasa, Senin (23/12/2024). Aksi tersebut dilakukan untuk mendesak Penjabat (Pj) Bupati Kabupaten Mamasa mencopot Direktur Utama RSUD Kondosapata yang dinilai tidak becus. Tuntutan ini berawal dari dugaan ketidaktransparan dalam pengelolaan anggaran alat kesehatan (alkes) di RSUD Kondosapata, yang […]

  • PDAM Mamuju di demo

    Sebulan Krisis Air Bersih, Picu Warga Mamuju Demo dan Cuci Motor di Depan Kantor PDAM

    • calendar_month Senin, 19 Mei 2025
    • account_circle mekora.id
    • visibility 276
    • 0Komentar

    MAMUJU, Mekora.id – Krisis air bersih yang melanda sejumlah wilayah di Kota Mamuju selama sebulan terakhir memicu kemarahan warga. Pada Senin (19/5/2025), puluhan warga turun ke jalan dan menggelar aksi unjuk rasa di depan Kantor PDAM Tirta Manakarra di Jalan Kurungan Bassi. Dalam aksinya, warga membakar ban bekas dan menyampaikan orasi protes. Sebagai bentuk sindiran […]

  • Batubara Bonehau

    Penggunaan Jalan Umum Oleh Tambang Batubara di Bonehau Labrak 2 Undang-undang, JATAM Siap Lapor KPK

    • calendar_month Kamis, 25 Apr 2024
    • account_circle mekora.id
    • visibility 228
    • 0Komentar

    MAMUJU, mekora.id – Kejadian nyaris bentrok antaran warga dan karyawan tambang batubara di Dusun Tamalea, Desa Bonehau, Kecamatan Bonehau, Kabupaten Mamuju, pada Senin 22 April 2024 lalu, jadi perhatian Jaringan Advokasi Tambang (JATAM) Nasional. Divisi Kampanye JATAM Nasional, Alfarhat Kasman mengatakan, upaya paksa yang dilakukan oleh karyawan PT Bonehau Prima Coal (BPC) untuk menerobos palang […]

  • Terdakwa Ijazah Palsu Mamuju Tengah (Mateng)

    Terdakwa Ijazah Palsu Eks Cabup Mateng Segera Dieksekusi Penjara

    • calendar_month Rabu, 15 Jan 2025
    • account_circle mekora.id
    • visibility 237
    • 0Komentar

    MAMUJU, Mekora.id – Pasca dijatuhi vonis tiga tahun penjara oleh Pengadilan Tinggi (PT) Sulawesi Barat (Sulbar), terdakwa kasus ijazah palsu, eks Calon Bupati (Cabup) Mamuju Tengah (Mateng), Haris Haris Halim Sinreng, mangkir dari panggilan jaksa untuk dieksekusi masuk ke dalam Rutan Mamuju Kelas II B. Kepala Kejaksaan Negeri (Kejari) Mamuju, Raharjo Yusuf Wibisono, mangkirnya terdakwa […]

expand_less