Tangan Mungil Vivhia, Penenun Cilik Perawat Warisan Leluhur di Mamasa
- account_circle mekora.id
- calendar_month Selasa, 1 Okt 2024
- comment 0 komentar
- print Cetak

Vivhia penenun cilik dari Mamasa. (Foto : Istimewa)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MAMASA, Mekora.id – Vivhia, seorang penenun gadis cilik berumur 7 tahun dari Desa Rantepuang, Kecamatan Sesenapadang, Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat, duduk tenang di atas lantai papan rumah panggungnya. Ia meraih serangkain benang berwarna merah dan kuning. Dengan seutas perkakas dari kayu Vivhia menyulam sebuah tenun khas dari Mamasa.
Disaat anak-anak se-usianya gandrung bermain gadget, gadis yang masih duduk di bangku kelas 3 SD ini memilih menghabiskan banyak waktunya berkutat di alat tenun tradisional usai pulang sekolah, dari tangan mungilnya ia telah menghasilkan berlembar-lembar helaian kain tenun tradisional khas daerahnya seperti sarung, selendang dan gantungan tas yang semuanya berasal dari tangan bocah cilik ini.
Vivhia tampak begitu piawai menggerakkan alat tenun di sekitarnya, jemarinya mungil lincah memainkan benang, lalu lengan kecilnya dengan cekatan menghentak kayu palang agar benang menyatu membentuk pola yang sudah didesain terlebih dahulu.
Gadis cilik ini mengaku tertarik menenun karena sehari-hari melihat sang nenek menenun. Awalnya, hanya bermain di sekitar tempat neneknya menenun. Lalu muncul rasa ingin tahu dan ingin belajar menenun.
- Vivhia penenun cilik di Mamasa. (Foto : Istimewa)
“Saya merasa senang jika menenun awalnya hanya melihat dari nenek yang sudah lama menenun,” tutur Vivhia, saat ditemui pekan lalu di rumahnya.
Didampingi seorang ibu yang juga merupakan penenun, menjadi penyemangat tersendiri penenun cilik di Mamasa itu, untuk terus belajar menghasilkan karya tenun tradisional yang indah dan cantik.
“Sejak kecil dia suka memperhatikan orang menenun, setelah masuk SD ia meminta bapaknya dibuatkan alat tenun yang ukurannya kecil dan pas untuk dirinya,” kata Arruan Lempan, Ibu Vivhia.
Dalam menenun Ia masih sering dituntun, diberi arahan agar tenunannya terlihat rapi dan menghasilkan motif dengan ciri khas daerah Mamasa sebagaimana yang warisan leluhurnya.
Meski hampir setiap harinya berkutik di alat tenun Vivhia, masih tetap meluangkan waktunya bermain bersama teman-temanya sebagaimana dengan anak seusianya. Di usianya yang menginjak 7 tahun ia sangat sering belajar dan kini menjadi mahir menenun.
(FR)
- Penulis: mekora.id



Saluran Whatsapp
Google News
