Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » LIFESTYLE » Ragam » Siluet Lelaki Kampung Meniti Karir ‘Seragam Cokelat’

Siluet Lelaki Kampung Meniti Karir ‘Seragam Cokelat’

  • account_circle mekora.id
  • calendar_month Sabtu, 20 Des 2025
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Dua anak lelaki bersaudara dari kampung Salubua berjuang hidup hingga jadi polisi

MAMUJU, Mekora.id – Warga kampung jauh itu membangun rumah di bawah kaki bukit. Di kampung itu nyaris tak ada daratan yang memadai untuk dijadikan pemukiman. Tapi meski seolah tersampir di lereng perbukitan, kini 50 Kepala Keluarga (KK) tetap hidup rukun, tenteram di antara rumah rerimbun pepohonan. Itulah Salubua, satu dari 11 Lingkungan yang ada di Kelurahan Talippuki.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Mamasa tahun 2024, populasi penduduk Kelurahan Talippuki sebanyak 1.365 jiwa — jumlah penduduk terbanyak kedua setelah Kelurahan Mambi: 1.933 jiwa.

Di Lingkungan Salubua hidup sepasang keluarga membangun rumah sederhana: berdiri kuat dari kayu beralas tanah dan beratap daun rumbia. Meski sederhana menjadi tempat berteduh merenda hari esok sepasang keluarga: Usman dan Tabada.

Pasangan Usman dan Tabada dikaruniai dua orang anak lelaki: Syamsuddin (55 tahun) dan Makmur (45 tahun).

Keduanya lahir di kampung Salubua dulu. Syamsuddin dan Makmur tumbuh menjadi anak petani, terwariskan dari nasib kedua orang tuanya. Sebagai keluarga petani, berempatnya sehari-hari rajin menggarap kebun kopi miliknya, juga kelola sawah berpetak kecil berundak tak jauh dari rumah mereka di kampung.

Untuk padi sendiri, keluarga ini memiliki dua jenis sawah: sawah tadah hujan berpetak dan sawah di lereng gunung yang menghasilkan Pare Bara’baq (Padi Gogo).

Di masa kecilnya dulu, Makmur ingat betul, sehari-hari keluarganya hidup dari hasil berkebun dan bertani. Dari hasil kebun dan sawah cukup untuk kebutuhan sehari-hari.

Di kampung-kampung pegunungan — yang dulu masih bagian Kabupaten Polewali Mamasa (Polmas) dalam Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel), sebelum terbentuk Kabupaten Mamasa (2002) dan Provinsi Sulawesi Barat (2004) — tempo dulu, petani sawah panen hanya satu kali dalam setahun. Barulah ketika teknologi dan modernisasi pertanian sampai ke pegunungan, padi bisa dipanen dua kali setahun. Itu pun baru mulai sekitar tahun 2000-an.

Padi Gogo juga demikian, hanya bisa dipanen sekali dalam setahun. Kuantitasnya tergantung, jikalau binatang buas menggasak batang-batang padi, maka hasilnya tak maksimal. Hidup sekadar cukup, dan kesehajaan keluarga ini tumbuh seiring waktu. Meski jauh dari keramaian kota, Makmur kecil punya cita-cita ingin sukses di suatu hari kelak dengan jalan sekolah.

Lingkungan Salubua berjarak dua kilometer dari ibu Kelurahan Talippuki, sekitar 3 kilometer dari Kelurahan Mambi, Ibu Kota Kecamatan Mambi, Kabupaten Mamasa.

Di umur sekolah, Syamsuddin dan Makmur masuk Sekolah Dasar (SD) di Salubulung, Talippuki. Selama enam tahun di SD keduanya jalan kaki dari Salubua ke Salubulung, tempat satu-satunya SD terdekat masa itu.

Pulang pergi ke sekolah dijalaninya begitu tekun. Merintangi jalan setapak. Di musim penghujan, ia memayungi kepala dan buku tulis dalam kempitan dengan selembar daun pisang.

Tamat SD perjuangan menempuh pendidikan lanjutan lebih menantang. SMP Negeri Mambi meski telatif jauh, 5 kilometer dari Salubua, Syamsuddin dan Makmur sudah terlatih berjalan kaki, dan keduanya jalani hingga tamat di SMP Mambi.

Selama sekolah di SMP Mambi, Syamsuddin dan Makmur setiap dua kali sepekan membantu ibu memikul sayur-mayur untuk dijual di Pasar Mambi.

Pasar besar Mambi — pasar ramai — di hari Kamis dan pasar kecil hari Senin. Di sore hari, sehari sebelum hari pasar tiba, Syamsuddin dan Makmur cekatan bersama Ibu memetik dan mengumpul sayuran. Pukul tiga dini hari dalam seragam sekolah — lebih sering bertiga dengan Ibu — berangkat dari Salubua ke Mambi.

Ketika tiba di Ba’ba Lemba, kampung pertama sekitar setengah kilometer sebelum pasar Mambi, mereka istirahat sejenak: cuci kaki dari lumpur lalu pakai sepatu, seterusnya ke pasar. Setelah barang jualan ditaruh ditempat dalam penjagaan ibunya, Syamsuddin dan Makmur berulah menuju ke sekolah, SMP Negeri Mambi.

Makmur tak mengenal gengsi. Bisa membantu ibu jualan sayur, ada tambahan pendapatan untuk kebutuhan keseharian mereka di kampung.

Pulang sekolah selepas siang, di saat yang sama waktu pasar berakhir, Makmur kembali menemui Ibunya mengambil hasil belanjaan: ikan, minyak goreng, garam dan kebutuhan dasar dapur lainnya dibawa pulang ke rumah mereka di Salubua.

Bocah Makmur yang Kekar

Terlatih secara alamiah sebagai anak kampung di pegunungan. Saban pulang sekolah di SD dulu, Makmur ikut membantu ayah-ibunya di kebun dan di sawah. Menjelang malam, ia kembali ke rumah dengan memikul kayu bakar untuk digunakan mananak nasi dan memanaskan air di dapur.

Selain sudah terbiasa selama 6 tahun di SD, bolak-balik jalan kaki selama pulang pergi sekolah di SMP Mambi selama tiga tahun membentuk kaki Makmur kokoh.

Tekad Makmur untuk terus sekolah formal begitu kuat ditambah dorongan ibu dan bapaknya yang selalu memberinya semangat.

“Sebenarnya waktu tamat di SMP Mambi, saya sudah hampir putus harapan untuk sekolah lanjutan atas di kota. Kami kan petani, hidup masih susah. Tapi saya nekad berangkat ke Parepare untuk melanjutkan sekolah SLTA,” kata Makmur di Mamuju, Selasa malam, 16 Desember 2025.

Setelah tamat SMP Negeri Mambi tahun 1996, Makmur berangkat ke kota niaga dan melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 2 Parepare, Sulawesi Selatan. Tiga tahun kemudian, setelah lulus sekolah tingkat lanjutan atas, tak ada impian besar Makmur selain harus kembali ke kampung Salubua untuk melanjutkan perkerjaan bertani dan berkebun, membantu kedua orang tuanya.

Meski sudah mengantongi ijazah SLTA, seperti yang ia kisahkan pada Selasa, 16 Desember, cukup baginya dan perjalanan selanjutkan ia pasrahkan pada Yang Kuasa. Akhir tahun 1999 dan sepanjang 2000 adalah masa-masa menikmati hasil perkebunan komoditas kopi yang pernah dirintisnya sejak masih kecil dulu bersama kakak Syamduddin.

“Terkadang saya sendiri jalan kaki ke Mambi pikul biji kopi kering dalam karung untuk dijual di pasar,” cerita Makmur. Dan, itu menurutnya, “Saya nikmati, senang sudah bisa punya uang hasil dari kerja keras sejak kecil. Alhamdulillah,” Makmur bersyukur.

Kesyukuran Makmur terbesar bisa sekolah sampai di lanjutan atas: bisa baca tulis. “Itu sudah lebih dari cukup.” Lalu, jalan hidupnya pun berbelok, melangkahi jauh dari sekadar bisa baca tulis.

Berkarir Jadi Polisi

Tahun 2001. Hasil tabungan menjual kopi ditambah melego sepetak kecil sawah milik keluarga, terkumpul uang Rp4 juta. “Uang itu saya pakai mendaftar masuk polisi, termasuk bekal selama tinggal lima bulan di Makassar,” cerita Makmur.

Setelah resmi memakai seragam cokelat, Makmur ditugaskan di Polres Sidrap, Sulawesi Selatan, tahun 2002 hingga 2006. Selama di Sidrap itulah ia mulai belajar ilmu penyidikan (Reserse).

Tahin 2006 ia dipindahkan ke Polres Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat — provinsi hasil pemekaran Provinsi Sulawesi Selatan pada tahun 2004. Di saat berada di posisi Min Polres Mamuju, di tahun itu juga ia dipindah tugaskan ke Penghubung Polda Sulawesi Barat — cikal bakal Polda Sulawesi Barat.

Seorang polisi tentu ia bangga menjadi bagian dari personil yang dilibatkan merintis kehadiran Polda Sulawesi Barat di tahun 2004 itu.

“Mulai sejak awal, seperti penentuan lokasi pembangunan kantor Polda Sulawesi Barat,” ujar Makmur. Ia ingat, dulu sebetulnya lokasi awal di sekitar Rangas, Mamuju, tapi itu dianggap tak cocok. Kemudian ditemukan lokasi di Kalubibing, Mamuju, dan itulah lokasi tempat berdirinya Markas Polda Sulawesi Barat seperti yang ada sekarang.

Terkait lokasi di Kalubibing yang disepakati oleh tim, jalannyq tak begitu mulus. Warga Desa Kalubibing, Kecamatan Mamuju, sempat menolak. Bahkan, sebut Makmur, warga memagar jalan masuk ke lolasi tempat pembangunan Mapolda Sulawesi Barat. Alasan warga, salah satunya, menuntut harga tanah yang oleh tim dianggap terlampau mahal.

Oleh pimpinan kemudian memercayakan kepada Makmur, yang notabene memiliki hubungan kekerabatan dengan sejumlah warga di Kalubibing, mendekatinya secara persuasif dan kekeluargaan.

Pilihan ini berhasil. Polisi Makmur berhasil membujuk masyarakat Kalubibing untuk membuka blokade jalan, termasuk menerima harga yang disepakati bersama, dan itu di bawah dari harga tanah yang dituntut oleh warga sebelumnya.

Selesai soal lokasi. Dalam kapasitasnya di Penghubung Polda Sulawesi Barat juga berakhir. Saat itu tahun 2007. Polsek Kalukku — wilayah kerja Polres Mamuju — membutuhkan personil untuk mengerjakan tugas atas kasus 9 orang tahanan di Polsek Kalukku, sementara petugas Kanitresnya sedang sakit.

Dengan begitu Makmur kemudian dipindah-tugaskan ke Polsek Kalukku untuk membereskan berkas 9 orang tahanan yang masa penahanannya akan segera berakhir. Setelah mendapat Surat Perintah dari Kapolres Mamuju, Makmur bergegas ke Polsek Kalukku.

“Saya bermalam, begadang 4 malam, kerja non-stop mengerjakan berkas tahanan yang sudah mau berakhir semua,” ujarnya.

Cerita Makmur, hanya waktu satu minggu di Polsek Kalukku pekerjaan itu selesai dan berkas kasus tersebut sudah bisa dilimpahkan ke Kejaksaan Negeri Mamuju. Keberhasilan ini menjadikan Makmur seterusnya berdinas sebagai Reserse di Polsek Kalukku, hingga tahun 2011.

Makmur sedikit bangga. Ia katakan, jajaran Polsek di wilayah kerja Polres Mamuju, Polsek Kalukku yang dipimpinnya selalu nomor satu dalam hal penanganan kasus. Kasus tindak pidana khusus yang sering ditangani Polsek Kalukku seperti Illegal Loging, tindak pidana migas (BBM Bersubsidi), dan pengedaran uang rupiah palsu.

Tindak pidana umum seperti perampokan, pembunuhan, dan pencurian kendaraam bermotor (curanmor) semua bisa diungkap oleh Polsek Kalukku. Dan, oleh pimpinannya di Polres Mamuju dianggap hal itu kesuksesan di bidang reserse oleh sosok polisi Makmur.

Selain memberi kebanggaan pada institusi Polri, Makmur diberi Piagam Penghargaan. Piagam ini kemudian menjadi salah satu bahan yang berarti, ia gunakan sebagai tambahan kelengkapan berkas ketika pihaknya sekolah Perwira Polisi (2018).

Menurutnya, tak ada catatan yang istimewa. Tahun 2011 Makmur dipindahtugaskan ke Polsek Tommo, salah satu kecamatan relatif jauh dari Ibu Kota Mamuju, atau kecamatan yang berbatasan dengan Kabupaten Mamuju Tengah (Mateng).

Di Tommo ia menjabat (Pj) sebagai Kanit Reskrim karena pangkatnya baru Brigadir, seharusnya pangkat Bripka menduduki jabatan itu.

Di Polsek Tommo, dalam catatan Makmur, kasus yang pernah ia tangani hanya berupa tindak pidana ringan (tipiring), dan cara penyelesaiannya dilakukan pendekatan dengan tokoh-tokoh masyarakat setempat. “Hanya kasus ringan, tidak seberat kasus di Kalukku,” ujarnya.

Genap setahun di Polsek Tommo, Kapolres Mamuju menempatkannya kembali di Polres Mamuju: Pj Kanit Pidum. Mengapa hanya jadi penjabat (Pj)? “Pangkat saya belum sampai. Seharusnya dijabat oleh personil dengan pangkat Bripda. Makanya saat menjabat, saya tak dapat tunjangan,” kata Makmur sumringah.

Lima tahun lebih lamanya penjabat (Pj) Kanit Pidum Polres Mamuju. Ketika pulang sekolah Perwira selama 7 bulan di tahun 2018 di Sukabumi, Jawa Batat, Makmur justru berada di level dengan suasana yang relatif baru. Pimpinannya langsung menempatkannya di Polda Sulawesi Barat — Polda yang baru terbentuk secara resmi.

Dari pengalaman, pangkat, juga suasana baru — dalam hati dan kasat mata — tentulah Makmur menikmati betul posisi barunya sebagai Panit Krimsus di Polda Sulawesi Batay. Ia langsung berkantor di Kalubibing 01, Markas Polda Sulawesi Barat yang baru, kantor dengan lokasi yang dulu ia ikut perjuangkan.

2019 s.d .2020 tentulah terasa singkat semata. Tahun 2021, Ipda Makmur mendapat promosi jabatan sebagai Pj. Kapolsek Sampaga, Mamuju. Sampaga ini berada di antara Kecamatan Tommo dan Kecamatan Kalukku.

Selama memimpin Polsek Sampaga, Makmur mencatat tiga kasus tindak pidana: pembunuhan, pencurian, dan penganiayaan. Tiga kasus itu yang sampai terproses di Kejaksaan.

Dari sisi jumlah (angka) memang relatif sedikit. Tapi ia beralasan bahwa kasus pidana di masyarakat bisa ia tekan dengan caranya yang sungguh manusiawi. Sebagai seorang Muslim, saban waktu Jumat, ia mendatangi Masjid, setelah Ibadah ia berdiri menyampaikan himbauan pada masyarakat untuk menjaga keamanan, dan saling mengeratkan tali persaudaraan sesama warga.

Peran Kamtibmas ia jalankan rutin. Ia gilir setiap masjid minimal dalam sepekan di 7 desa yang ada di Kecamatan Sampaga, Kabupaten Mamuju. Setahun tentulah terbilang singkat. Jabatan baru menunggunya.

Beban Ringan di Hati yang Tulus

Di mana pun ditugaskan sebagai perwira Kepolisian, ia menerimanya, dijalaninya dengan penuh tanggungjawab. Dikembalikan dalam hati yang bening: tak ada kerja yang berat manakala dijalani sungguh-sungguh dalam hati yang lurus. Itu yang selalu memantik Makmur dalam mengabdi di Kepolisian Republik Indonesia. Panji Bhayangkara adalah yang utama. Soal pangkat urusan berikut.

Tahun 2022. Kembali ke Polres Mamuju dengan jabatan baru: Pjs Kasat Narkoba. Lagi-pagi penjabat sementara, mengapa demikian? “Pangkat saya batu Iptu, pak. Belum dapat, seharusnya pangkat AKP di Kasat Narkoba,” kata Makmur, merendah.

Meski masih tetap pangkat Iptu, hanya setahun diamanahi Kasat Narkoba, dan selanjutnya diberi amanah yang lebih menantang: Kapolsek Kalukku. Kepolisian Resort di kecamatan terpadat kedua di Kabupaten Mamuju. Terdapat 4 kelurahan dan 10 desa.

Aktifitas ekonomi menggeliat di pusat kota kecamatan ini. Di tengah kotanya yang luas, berjejeran rumah toko. Bisa dibilang, kalau Kabupaten Polewali Mandar (Polman) punya (kecamatan) Wonomulyo, steriotipnya adalah Kalukku bagi Kabupaten Mamuju. Meski eskalasi ekonomi bisnis tak sama persis, tapi Kalukku termasuk ikon baru ekonomi prospek.

Tugas Makmur selaku Kapolsek Kalukku masih membawahi Kecamatan Papalang — kecamatan tetangga Kalukku — yang belum memiliki Polsek tersendiri. Kecamatan ini terdiri dari 9 desa.

Saat wawancara, Selasa, 16 Desember, Makmur masih tercatat Kapolsek Kalukku. Masih pangkat Iptu. Makanya sejak 2022 hingga tahun ini — dan entah sampai kapan — masih pelaksana tugas karena belum berpangkat AKP. Konsekuensi jadi penjabat sementara, setiap tahun diperpanjang masa jabatannya selaku Kapolsek Kalukku. Syukur-syukur, ia telah mendapatkan tunjangan sepadan dengan jabatannya itu.

Kesyukuran Makmur karena dipercaya oleh pimpinannya di Polres Mamuju. Itu yang paling penting. Apa pun itu semua, Makmur bekerja secara profesional. Ia bekerja sesuai tupoksi yang telah digariskan di Kepolisian: kinerja selaku pimpinan kepolisian di wilayah Polsek, ya itu yang dibayar. “Anggaran kami berbasis kinerja,” katanya singkat.

Iptu Makmur tak mau latah: catatan kinerja yang ia pahami bukan semata seberapa banyak orang yang dikirim ke penjara. “Bukan itu,” akunya. “Yang penting adalah skala keamanan di wilayah kerja kita.”

Bahkan, dalam hemat Makmur, yang dikatakan berhasil manakala tidak ada lagi tindak pidana di wilayah kerja kita. Walau zero tindak pidana tentu sulit dihindari karena itu terkait dengan dinamika hidup masyarakat yang terkadang nyerempet ke hal-hal tindak pidana.

Catatan pengabdian kemasyarakatan Kapolsek Kalukku Makmur layak ditulis di sini. Tahun 2023 ia mulai berkebun. Ia memiliki kebun seluas 2 ha di Dusun Kassak, Desa Belang-Belang, Kecamatan Kalukku, Kabupaten Mamuju. Di kebun itu ia tanam 200 pohon durian jenis Musang King. Selain itu, itu juga tetap memelihara kebun kopinya yang ada di Lingkungan Salubua, Kelurahan Talippuki, Kecamatan Mambi.

Sembari berkebun di kala hari libur — Sabtu dan Minggu — Makmur juga menginisiasi pembukaan jalan baru untuk kempentingan masyarakat di wilayah kerjanya.

Masih di tahun 2023, Kapolsek Makmur membuka jalan baru di Dusun Gentungan, Kelurahan Bebanga, Kecamatan Kalukku. Panjang 1,5 kilometer, lebar 4 meter. Pembukaan jalan dengan mesin excavator. Sumber dana dari swadaya pengusaha di kecamatan.

“Memang, saya yang inisiatif kumpul dana. Sekarang jalan itu sudah digunakan oleh warga,” kata Makmur bangga.

Awal 2025 ini Makmur menggalang warga desa untuk bergerak membantu Program Pemerintah Pusat: Asta Cita Presiden Prabowo Subianto. Program ketahanan pangan ini diterjemahkan Makmur dengan menggiatkan tanam jagung di Kalukku.

“Kami kerjasama dengan warga. Saya ajak masyarakat Kalukku menanam jagung,” ujarnya.

Aktifitas kepemudaan juga menjadi perhatian Kapolsek Makmur. Sejak tiba di Kalukku, ia inisiasi membuat lapangan bola voli dalam lingkungan Mapolsek Kalukku. Setelahnya, lapangan olahraga itu dimanfaatkan oleh masyarakat Kalukku. Tak jarang invitasi bola voli antarklub serta angardesa dan kelurahan diadakan di lapangan mapolsek.

Tapi Makmur pernah dikejutkan kejadian naas yang menimpa lima dusun di wilayah kerjanya: longsor besar di Pammulukang, Kecamatan Kalukku. Saat itu Oktober 2022. “Belum genap satu tahun saya bertugas di Kalukku ketika musibah itu datang,” kisah Makmur peluh.

Tak ayal, ketika itu lima dusun terdampak serius atas musibah bencana alam tersebut. Dusun yang terdampak antara lain, Dusun Robia Apo, Dusun Betteng Batu, Dusun Torata, Dusun Pondok Indah, dan Dusun Salu Dango.

Berbilang pekan ia bolak-balik dari Ibu Kota Kecamatan Kalukku ke lokasi terdampak bencana, puluhan kilometer jauhnya. Ini seolah tugas dan tantangan pertamanya yang serius, kala itu. Ia tak menyerah. Ia turun langsung di titik lokasi. Bersama unsur Tripika Kecamatan Kalukku, mengevakuasi korban, mencari bantuan penyambung hidup, mengantar warga yang terluka ke Puskesmas Kalukku untuk pengobatan. Kerja keras berpeluh-peluh. “Saya tak bisa lupa peristiwa itu,” katanya menerawang, matanya berkaca-kaca.

Di wilayah kerja Makmur terdapat dua aset vital dalam pergerakan ekonomi, bukan hanya untuk Kabupaten Mamuju tapi itu melingkupi kepentingan besar Provinsi Sulawesi Barat. Dua aset vital dimaksud adalan Bandar Udara (Bandara) Tampa Padang dan Dermaga Pelabuhan Laut Belang-Belang di Bakengkeng.

Selaku komandan sektor Polisi, Makmur memberi perhatian serius pada dua aset ekonomi daerah tersebut. “Saya harus amankan Bandara dan Pelabuhan. Itu aset besar daerah ini,” katanya, serius.

Makanya itu, hemat Makmur, pihaknya mengambil langkah pengamanan dengan menempatkan personil di dua tempat itu: “2 personil polisi di Bandara Tampa Padang, dan 1 personil polisi di Pelabuhan Belang-belang,” katanya.

Makmur pun kerap mendatangi bandara dan pelabuhan. Ia hendak memastikan pengguna jasa penerbangan dan aktivitas muat barang berjalan aman terkendali.

Kesibukan Makmur di luar, rumah jualah tempat pulang paling menenangkan. Ada sang istri menunggu di rumah. Ini pula berperan penting dalam titian sukses perjuangan hidupnya.

Perjalanan karir IPTU Makmur, SH, MH kian lengkap. Kekasih hidupnya, Andi Erna, telah memberinya buah hati: Andi Astriani Aninditha Makmur (20 tahun) dan Andi Muhammad Ghozali Makmur (17 tahun).

Kedua anaknya telah tumbuh dewasa dengan kesibukan masing-masing. Si putri sulung tengah penyelesaian kuliah di jenjang Strata Satu (S1) di salah sebuah perguruan tinggi di Makassar. Adiknya, pun sedang berkutat kuliah di sebuah perguruan tinggi di Mamuju.

Potret Aktivis Cermin Nyata Polisi Makmur

Sukses tidaknya polisi Makmur di banyak tempat ia abdikan seragam cokelatnya, itu tak terlepas dari penilaian publik di Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Cermin keaslian pengabdiannya adalah potret warga yang asali.

Publik — dinegasikan kepada para aktifis yang memiliki kompetensi menilai pengabdian aparat Negara, termasuk Polisi — seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Manakarra berbasis di Mamuju, Perhimpunan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Mamuju, dan satu paguyuban besar mahasiswa berbasis lokal yakni IPMAPUS.

Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Mahasiswa Pitu Ulunna Salu (IPMAPUS) Sulawesi Barat, Akbar, menyebut Kepolsek Kalukku Makmur bekerja profesional dengan integritas yang baik.

“Saya banyak menilai kinerja pak Makmur dalam menyelesaikan persoalan di masyarakat, baik itu konflik pemuda dan konflik sosial lainnya. Ia lebih banyak melakukan pendekatan kekeluargaan, menyelesaikan persoalan secara damai dan adil untuk semua pihak,” terang Akbar.

Aktivis dari Perhimpunan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) juga punya peniliaian tersendiri mengenal Makmur. “Saya liat selama pak Makmur menjabat Kapolsek Kalukku, orangnya merakyat. Dekat dengan warga,” kata Sulkarnain kepada media ini, Jumat malam, 19 Desember 2025, sekitar pukul 19.00 Wita.

Sul, sapaan Kader PMII Mamuju yang kini menetap di Beru-Beru, Kabupaten Mamuju, sambilan mengadvokasi Rakyat terkait penolakan tambang, menilai bahwa sejak masa Makmur banyak kasus penyakit masyarakat di Kalukku yang ditertibkan.

Kasus penyakit masyarakat yang dimaksud Sulkarnain seperti peredaran obat-obat terlarang di kalangan pemuda, kasus perjudian, dan pencurian. “Pak Makmur mampu tangani itu,” ujar Sul.

Darmin, Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Manakarra (terpilih) di Mamuju, menyebut bahwa sosok polisi Makmur menjadi inspirasi bagi masyarakat di Kabupaten Mamuju.

“Selain tegas juga sangat peduli terhadap masyarakat, apalagi pada keluarga,” aku Darmin, Jumat, 19 Desember 2025.

Keramahan Makmur, seperti pengakuan Sulkarnain, kian paripurna menjadi sosok pengabdi yang baik. Sebab, kata aktivis Akbar, selain punya loyalitas, “Pak Makmur memiliki sifat penyayang dan toleran.”

Apa pun yang melekat pada diri Polisi Makmur, kampung tua Salubua seolah menjadi magnet baginya. Pohon kopi dan kakaonya yang kian bertambah saban tahun menjadikannya pulang kampung di waktu-waktu senggang, tanpa lalai dari tugas dinas kepolisian.

Meski Ibu dan ayahnya sudah tiada, kerinduan kampung halaman Salubua menjadi noktah mewangi tiada terhingga untuknya.

SARMAN SAHUDING

  • Penulis: mekora.id

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ilustrasi Tambang di Samapaga Mamuju

    Warga Sampaga Minta DPRD dan ESDM Sulbar Tinjau Ulang Izin Tambang di Wilayahnya

    • calendar_month Kamis, 21 Nov 2024
    • account_circle mekora.id
    • visibility 178
    • 1Komentar

    MAMUJU, Mekora.id – Rencana pertambangan pasir di Kecamatan Sampaga, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat, menjadi isu krusial yang membutuhkan penanganan bijak dan transparan. Berbagai pihak menyerukan pentingnya dialog konstruktif untuk menghindari konflik dan menjaga stabilitas keamanan. Tokoh masyarakat dan pemerintah setempat telah mengimbau agar DPRD Sulawesi Barat serta Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), meninjau […]

  • DLH MAMASA

    DLH Mamasa Lakukan Penataan Kota Sambut HUT ke-24 Kabupaten Mamasa

    • calendar_month Selasa, 10 Mar 2026
    • account_circle mekora.id
    • visibility 131
    • 0Komentar

    MAMASA, Mekora.id – Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-24 Kabupaten Mamasa, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Mamasa melakukan penataan dan pembersihan sejumlah titik di kawasan Kota Mamasa, Selasa (10/3/2026). Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah dalam menciptakan lingkungan yang bersih dan tertata menjelang perayaan hari jadi kabupaten. Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten […]

  • Rekapitulasi KPU Sulbar (2)

    Rapat Rekapitulasi di Sulbar Alot, Pleno Kabupaten Mamuju Tengah Dipending

    • calendar_month Senin, 4 Mar 2024
    • account_circle mekora.id
    • visibility 218
    • 1Komentar

    MAMUJU, mekora.id – Rapat Pleno Rekapitulasi suara tingkat provinsi di Sulawesi Barat (Sulbar) berlangsung alot kalah rekapitulasi dari Kabupaten Mamuju Tengah banyak diinterupsi oleh Bawaslu Sulbar dan saksi partai. Dalam rapat rekapitulasi itu, Mamuju Tengah jadi kabupaten keempat yang dibahas. Perdebatan pun terjadi ketika komisioner dari KPU Kabupaten Mamuju Tengah selesai membacakan hasil plenonya. Dimana […]

  • Kompolnas minta kematian tahanan di polman diusut

    Kompolnas Desak Kasus Kematian Tahanan di Polres Polman Segera Diusut, Minta Jenazah di Otopsi

    • calendar_month Jumat, 13 Sep 2024
    • account_circle mekora.id
    • visibility 255
    • 0Komentar

    Mamuju, Mekora.id – Kasus kematian tahanan berinisial R di Polres Polewali Mandar (Polman), disesalkan Kompolnas. Komisioner Kompolnas, Poengky Indarti, dalam keterangan persnya mengatakan, secepatnya akan mengirim surat klarifikasi ke Polda Sulawesi Barat dan mendorong segera dilakukan otopsi pada Jenazah R. “Kompolnas akan mengirimkan surat klarifikasi ke Polda Sulawesi Barat. Kompolnas mendorong segera dilakukannya otopsi jenazah […]

  • Pj Gubernur Sulbar Hadiri Natal di Mamasa

    Hadiri Perayaan Natal di Mamasa, Pj Gubernur Sulbar Sampaikan Jaga Toleransi

    • calendar_month Sabtu, 30 Des 2023
    • account_circle mekora.id
    • visibility 175
    • 2Komentar

    MAMASA, mekora.id – Penjabat (Pj) Gubernur Sulawesi Barat (Sulbar) Zudan Arif Fakrulloh menghadiri perayaan Natal Oikumene Kabupaten Mamasa, yang berlangsung di Rujab Bupati Mamasa, Jumat , (29/12/2023) malam. “Atas Nama Pemerintah Provinsi Sulbar saya menyampaikan selamat Natal untuk semua umat Kristiani, baik untuk masyarakat Mamasa pada umumnya, maupun kepada masyarakat yang hadir pada malam hari […]

  • Gubernur Sulbar Temui BNPB

    Dana Stimulan Gempa Tahap II Mandek, Gubernur Sulbar Temui Kepala BNPB

    • calendar_month Rabu, 7 Mei 2025
    • account_circle mekora.id
    • visibility 136
    • 0Komentar

    JAKARTA, Mekora.id – Gubernur Sulawesi Barat (Sulbar), Suhardi Duka (SDK), bertemu dengan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Mayor Jenderal TNI Suharyanto, di Jakarta untuk membahas percepatan penyaluran dana stimulan tahap II bagi korban gempa bumi 2021 di Kabupaten Mamuju dan Majene. Pertemuan tersebut merupakan bentuk komitmen Gubernur Sulbar dalam memperjuangkan hak masyarakat yang hingga […]

expand_less