GMNI Mamuju Desak TNI Kembali ke Barak Menyusul Memanasnya Geopolitik Global
- account_circle mekora.id
- calendar_month 1 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

Dicky Wahyudi Ketua GMNI Cabang Mamuju
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MAMUJU, Mekora.id – Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Mamuju mendesak Tentara Nasional Indonesia (TNI) untuk kembali fokus pada fungsi utamanya sebagai alat pertahanan negara di tengah memanasnya situasi geopolitik global.
Perang AS-Isral VS Iran di Timur Tengah memunculkan kekhawatiran akan potensi konflik besar yang dapat berkembang menjadi krisis global.
Di tengah situasi global yang dinilai semakin tidak menentu tersebut, Ketua Cabang GMNI Mamuju, Dicky Wahyudi, menyampaikan kritik terhadap arah kebijakan pertahanan Republik Indonesia. Ia menilai negara terlihat tidak fokus memperkuat kesiapan pertahanan nasional di saat kondisi geopolitik dunia sedang rawan.
Menurut Dicky, TNI saat ini terlalu disibukkan dengan berbagai urusan yang tidak berkaitan langsung dengan fungsi utamanya sebagai alat pertahanan negara.
“Ketika dunia sedang berada dalam situasi yang sangat rentan terhadap konflik besar, seharusnya pemerintah memastikan TNI fokus pada penguatan pertahanan negara. Namun yang kita lihat justru sebaliknya, TNI terlalu banyak dilibatkan dalam berbagai urusan di luar fungsi militernya,” tegas Dicky, Sabtu, (7/3/2026).
Ia juga menyoroti keterlibatan TNI dalam sejumlah program sipil, termasuk pengurusan persoalan yang berkaitan dengan KDKMP, yang menurutnya semakin menjauhkan fokus utama institusi militer dari tugas pokoknya.
“Ini bukan berarti TNI tidak boleh membantu masyarakat. Tetapi ketika keterlibatan itu semakin meluas dan menjadi rutinitas, kita harus bertanya: siapa yang benar-benar fokus mempersiapkan pertahanan negara?” ujarnya.
Dicky menilai kondisi tersebut berpotensi melemahkan fokus strategis pertahanan nasional jika tidak segera dievaluasi secara serius oleh pemerintah. Ia menegaskan bahwa modernisasi alat utama sistem senjata (alutsista), peningkatan kemampuan tempur, serta penguatan doktrin pertahanan seharusnya menjadi agenda utama negara.
Olehnya itu, ia mendesak Prabowo Subianto selaku Presiden Republik Indonesia untuk menarik kembali TNI ke barak agar institusi tersebut dapat menjalankan tugas pokoknya sebagai alat pertahanan negara.
“Negara tidak boleh lengah. Dunia sedang bergerak menuju ketidakpastian geopolitik yang semakin tajam. Jika pemerintah tidak segera mengembalikan TNI pada fungsi utamanya sebagai alat pertahanan negara, maka kita sedang mempertaruhkan kesiapan bangsa menghadapi ancaman yang bisa datang kapan saja,” katanya.
Ia menambahkan bahwa Indonesia memang memiliki komitmen terhadap perdamaian dunia melalui politik luar negeri bebas dan aktif. Namun menurutnya, komitmen tersebut harus dibarengi dengan kesiapan pertahanan yang kuat dan profesional.
“Perdamaian tidak cukup hanya dengan retorika diplomasi. Perdamaian juga membutuhkan kekuatan pertahanan yang siap dan terlatih. Karena itu pemerintah harus segera mengembalikan fokus TNI ke program utamanya, yakni menjaga kedaulatan dan keamanan negara,” pungkasnya.
- Penulis: mekora.id


Saluran Whatsapp
Google News

Saat ini belum ada komentar