Catatan M. Dahlan Abubakar
Judul : Jejak Langkah dan Pemikiran BUPATI di Sulawesi Barat (1960-2023).
Penulis : Sarman Sahuding
Penerbit : Kompas Penerbit Buku
Tahun terbit : 2024
Tebal : 352 halaman
Ukuran : 15x23cmAdvertisement
“Di pagi buta itu, Bupati Mamuju (Atiek Sutedja) dan rombongan meninggalkan Kampung Tarailu lalu menyusuri arus sungai Karama yang amat deras — sungai ini dikenal dengan kekeramatannya. Banyak hal kerap muncul walaupun sedang disusuri.
Suatu hari sebelum siang terik, rombongan bupati yang memakai perahu ‘katinting’, perahu tradisional yang terbuat dari kayu, tiba di Kampung Pedasi. Di kampung ini terdapat 40 rumah (kepala keluarga). Dari Pedasi ke Kalumpang, matahari sudah memberi tanda waktu mulai masuk petang. Rombongan Bupati Atiek Sutedja pun tiba di perbatasan Kecamatan Kaluku dengan Kecamatan Kalumpang.
(Sebelum magrib tiba, terjadi suatu insiden tragis di Tomatoa, satu bagian sungai yang menikung dan dianggap keramat. Sebuah ‘katinting’ yang gagal menaklukkan arus deras terhempas dan patah. Dua penumpangnya, seorang pejabat Departemen Agama Mamuju dan seorang pendeta yang sama-sama tidak tahu berenang, ‘bertengger’ di atas batu yang dikenal keramat.
Berkali-kali tali dilemparkan, namun gagal ditangkap keduanya. Pada lemparan ke sekian, diiringi hari mulai gelap, barulah tambang itu berhasil ditangkap. Pak Atiek Sutedja mengatakan kepada para wartawan, kalau saja tambang itu gagal ditangkap dan hari sudah gelap, tidak ada pilihan lain, sebagai anggota pasukan khusus yang terlatih di segala medan, akan terjun ‘menjemput’ keduanya di tengah air yang deras.
Pak Atiek Sutedja meminta kepada para wartawan yang menyertainya agar insiden ini tidak ditulis karena akan menambah takut orang ke Kalumpang. Namun, saya memuatnya dalam bentuk cerita pendek, sehingga pembaca akan menganggapnya sebagai kisah fiktif. Pak Atiek Sutedja ternyata membacanya setelah beberapa hari).
Sambil makan Bupati Atiek Sutedja mengamati potensi daerah itu. Camat Kalumpang Pieter Poli, menjelaskan, di sekitar tempat mereka duduk terkandung potensi batu bara.
(Di Kalumpang saya dan teman-teman wartawan diperlihatkan bongkahan kecil emas yang diperoleh di sungai Karataun yang kemudian disambangi para wartawan yang penasaran).
Sudah sore benar perjalanan di atas air ini rombongan tiba di Pakalungan. Kecepatan perahu harus dipacu keras melawan arus deras, diiringi hujan deras turun. Tiba di Bonehau, rombongan menginap.
(Beberapa wartawan yang lebih dulu bergerak, menginap di salah satu pondok sawah penduduk yang kebetulan juga berpenghuni. Pagi hari, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Kalumpang melintasi hutan dan mendaki bukit yang ternyata kemudian juga dilintasi rombongan Bupati Mamuju).
Cerita ini dimuat di Harian “Pedoman Rakyat” 16 Desember 1981, reportase saya mengikuti kunjungan Bupati Mamuju Atiek Sutedja, yang terungkap di dalam buku “Jejak Langkah dan Pemikiran BUPATI di Sulawesi Barat (1960-2023). Saat duduk-duduk di depan Rektorat Universitas Cokroaminoto Makassar (UCM), 23 Januari 2024, seorang pria yang kemudian memperkenalkan dirinya Sarman Sahuding menyerahkan sebuah buku dengan judul itu. Saya pun membarternya dengan buku autobiografi “Lorong Waktu”
Catatan pada halaman dalam judul tertulis “Bismillah…Buat Seniorku..Guruku…Kak Dahlan Abubakar..”. Dia kemudian bercerita kalau pernah memperoleh materi pendidikan dan pelatihan jurnalistik dari saya. Saya jelas — dalam usia lansia — sudah tidak ingat lagi. Meskipun peristiwa tahun 1955 — saat saya usia 2 tahun — masih terus terbayang di depan retina.
Buku setebal 352 halaman yang dicetak di atas kertas “bookpaper” ini, sangat keren. Diterbitkan Kompas Penerbit Buku (2023), seperti juga dua buku saya “Qahar Mudzakkar Detik-Detik Terakhir” (2022) dan “Mattulada, Dari Pejuang hingga Ilmuwan” (2023).
Lantas siapa pria ‘misterius’ ini? Dalam biodata penulis di bukunya, Sarman Sahuding lahir di Sendana Mambi Kabupaten Mamasa 12 Desember 1976. Mendengar kata Mambi, ingatan saya langsung teringat Dinda Tomi Lebang. Ternyata, anak kedua dari enam bersaudara tersebut juga berguru tentang menulis dan jurnalistik atas binaan Tomi Lebang pada tahun 1996.
Setelah menamatkan pendidikan SMP Negeri 1 Mambi di Kecamatan Mambi (tidak disebutkan SDN), Sarman melanjutkan pendidikan ke SMA Negeri 2 Polewali, Kabupaten Polewali Mandar tamat pada tahun 1995. Pada tahun 2011 dia menyelesaikan pendidikan S-1 di Universitas Satria Makassar.
Sarman mulai aktif menulis buku sejak tahun 2003 dan telah menghasilkan beberapa buku. Pada tahun 2010 dia menjadi wartawan dan terhitung 2016 sebagai wartawan media online hingga kini. Tahun 2011 aktif di organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Barat dan menjabat sekretaris (periode 2017-2022). Sejak 2023 dia memilih menjadi anggota biasa PWI dan berkonsentrasi menjadi wartawan dan menulis buku.
Rekam Sejarah Kepemimpinan
Karya Sarman Sahuding ini diisi oleh prolog tulisan Prof.Dr.Aidir Amin Daud, S.H. Perkenalan Aidir dengan penulis terjadi saat Aidir sebagai redaktur senior di Harian :Fajar”. Aidir memuji karya penulis dengan mengatakan,” Kita semua — terutama generasi muda yang memimpin saat ini dan akan datang — harus berterima kasih atas “kerja-kerja”yang dilakukan Sarman Sahuding yang telah mengumpulkan begitu banyak catatan dan kisah 41 orang mantan bupati se-Sulawesi Barat.











